Puisi (Cerpen Nugroho Notosusanto, 1954)

Ketika aku bersama Gon keluar dari Bioskop Menteng habis nonton “High Noon”, kami melihat Gajah berjalan di muka kami bersama seorang gadis. Kami membuntut dia dari belakang: itulah pertama kalinya aku melihat dia.

Dari muka datang dua orang pemuda yang badannya kukuh dan mukanya hitam dan seram. Sambil menyiulkan ballade “High Noon” mereka menerjang siapa saja yang menutupi jalan mereka. Setiba di muka Gajah dengan gadisnya, mereka agak minggir, tetapi yang satu masih menyenggol sang gadis. Tenang Gajah membalikkan badannya, telunjuknya diacungkan kepada pemuda itu yang kebetulan sedang menengok, “Sini!”

Kedua pemuda itu berhenti, mengambil sikap mengancam. Gajah mendekati mereka. “Ayo, minta maaf kepada nona itu,” katanya dengan isyarat tangan yang kaku. Kami berhenti juga, menonton dari kejauhan. Kedua pemuda itu bertolak pinggang.

“Berani sama saya?” kata yang ditunjuk.

“Kurangajar ya kowe!” bentak yang satu.

Sesaat kemudian Gajah sekali pukul menghajar kedua lawannya itu. Khalayak ramai secepat semut mengerumuni mereka. Gajah payah dikerubut kedua orang itu, karena satu-satu di antara mereka sama besarnya dengan dia, hanya tingginya kalah. Gon menyentuh lenganku. Kemudian cepat ia maju dan memeluk salah seorang di antara pemuda itu. Aku mencoba berbuat demikian pada yang satunya, tetapi satu saja tak berhasil dengan lenganku yang seperti sapu lidi. Tetapi orang-orang lain membantu. Gajah–yang hidungnya sudah keluar kecapnya–juga dipeluk orang sehingga tak dapat bergerak. Setelah Polisi Perintis datang, persoalan diselesaikan di tempat, dan kami mengantar Gajah pulang liwat rumah gadis itu.

Ketika salah seorang anak dari rumah yang didiami Gajah merayakan lulus propaedeusenya, aku diundang juga. Pesta malam itu pesta laki-laki. Gajah spesial membeli cognac dan whisky dan sebentar saja ia bersaingan dengan Dean Martin, Mary Ford, Patti Page dan lain-lain yang suaranya membubung dari record-changer mereka yang masih baru.

Namun julukan Gajah sesungguhnya kurang tepat, karena ia tidak gendut. Memang ia besar, tetapi panjang. Tapi kalau ia mabuk, memang ia mirip gajah mabuk, atau dengan istilah Jawa Kuno: Gajah Mada, nama perdana menteri Majapahit yang terkenal itu.

Ketika itu ia sedang merasa dirinya jadi Cary Cooper sebagai marshall dalam film “High Noon” yang sangat dia gemari. Karena mondar-mandir dan bernyanyi itu jadi panas, mukanya merah dan peluhnya berlelehan di wajah dan sekujur tubuhnya. Tiba-tiba ia membuka kemejanya kemudian singletnya, sehingga bicepsnya bulat mengkilat ditimpa sinar lampu. Tidak puas dengan itu ia membuka pantalonnya sambil berteriak, “Panaas! … Panaaas!”

“Minum!” kata teman-teman sambil membawakan sloki yang whiskynya telah mereka taburi abu sigaret biar tambah keras. Dengan sekali teguk whisky itu dituang oleh Gajah ke dalam perutnya, kemudian ia berjalan terhuyung-huyung kian kemari dengan celana dalamnya. Tiba-tiba gelas sloki itu dilemparkannya kepada kaca pintu depan, sehingga pecah berhamburan. Setelah perbuatan yang merugikan itu, ia berlari masuk ke kamarnya sambil menjeritkan lagu “From the Halls of Montezuma …” Kami semua lega, mengira ia akan tidur. Tetapi kelegaan itu tidak lama, karena tak lama kemudian pintu kamar dibuka dengan keras dan Gajah berlari keluar dengan telanjang bulat sambil berkendangan dengan mulutnya. Tetapi bukan itu yang mengejutkan kami, melainkan pisau pandu yang diacung-acungkan dengan tangan kanannya.

“Dia pernah melihat tari Cakalele,” kata Gon.

Tetapi tari Cakalele pertunjukan Gajah agak berbahaya, karena akhirnya pisau itu disambitkannya kepada pintu belakang, yang alhamdulillah tak ada kacanya. Dengan patuh pisau itu nancap ke dalam kayu pintu itu. Teman-teman serumah bertepuk tangan, lalu bersama-sama menidurkan Gajah.

Setelah itu percakapan sejurus lamanya berputar-putar di sekitar Gajah. Gon dulu sepasukan dengan dia. Gajah seorang brenschutter. Lain daripada itu ia juga berfungsi jagal ayam dan algojo. Sudah dua kali ia diserahin pelaksanaan eksekusi.

Jon bercerita, bahwa ketika mereka mengantarkan jenazah kawannya yang dipindahkan makamnya, Gajah pernah hampir menimbulkan insiden dengan pasukan lain. Karena sebuah kendaraan militer yang datang dari arah yang berlawanan dengan iring-iringan, tak mau melambatkan jalannya. Gajah dengan enak mengangkat brennya dan menembakkannya kepada master jeep itu sehingga bensinnya terbakar.

Di antara perkelahian-perkelahian Gajah yang kerapkali terjadi, perkelahian durianlah yang paling terkenal. Gajah sedang berjalan-jalan di sebuah pasar buah-buahan, ketika ia berselisih dengan prajurit KNIL. Waktu itu masih ada KNIL. Ketika orang KNIL itu menyerangnya dengan belati, Gajah dengan tak pikir panjang mengambil durian dari bakul salah seorang pedagang lalu melemparkannya kepada lawannya, yang sama sekali tak bersiap menghadapi senjata itu. Hasilnya: muka lawannya remuk sehingga harus dirawat di rumah sakit.

Gajah sudah empat tahun di Fakulteit Hukum, tetapi masih tingkat pertama saja. Ia lebih suka belajar judo dan melempar belati. Kerapkali pula ia menantang anak-anak asrama lain untuk bertinju. Tapi anak-anak pada segan karena ia suka mata gelap.

Gajah tak mempunyai ibu lagi. Pulang ke rumah ayahnya yang tinggal di Yogya ia tak pernah. Alasannya ganjil sekali: segan. Atau malu.

Tapi cerita yang paling menarik tentang Gajah adalah cerita Cip. Katanya, kalau Gajah marah atau tak senang hatinya, lalu masuk ke dalam kamarnya sendirian yang kemudian dikuncinya, maka setelah ia ke luar ia seolah-olah jadi manusia lain. Teman-teman serumah mengiakan Cip.

“Kami pernah mengintip dari lubang pintu,” kata Jon, “Gajah duduk di ranjang sambil memandang ke dalam sebuah album. Entah album apa.”

Anak-anak sibuk berspekulasi tentang album Gajah itu.

“Ada foto almarhum ibunya,” kata seorang.

“Foto meisjenya!” kata yang lain.

Tapi tak ada yang tahu dengan pasti. Gajah sendiri tak mau mengaku. Anehnya kalau ditanya, ia tidak marah, melainkan malu, bahkan malu sekali. Biasanya untuk menghilangkan malunya ia memaki-maki lalu meninju-ninju karung pasir yang tergantung di belakang rumah.

Aku jadi bersahabat dengan Gajah. Entah mengapa ia suka kepadaku. Mungkin karena ia sering membeli majalah, nonton dan keluyuran bersamaku.

Pada suatu malam yang panas, Gajah dan aku dapat pinjaman Jeep lalu putar-putar keliling kota. Di jalan ia sedang mengemudikan Jeep itu, ketika tiba-tiba sebuah Jeep tentara memotong jalannya. Seketika itu juga iblis terlepas di dalam hati Gajah. Jeep itu dikejarnya dengan kecepatan gila, sama gilanya, dengan yang dikejar. Di jalan raya Kebayoran di dekat bekas Pekan Raya, Jeep itu dapat terkejar lalu distop. Belum pernah aku melihat seorang militer dihajar sedemikian rupa oleh preman, meskipun orang itu demobilisan. Sepulang kami dari perjalanan itu Gajah marah-marah. Di rumah ia terus masuk ke kamarnya dan menguncinya dari dalam: aku tak diacuhkannya sama sekali. Setelah motorkap Jeep itu aku buka biar dingin, aku mengetuk pintunya.

“Siapa itu?” suaranya bertanya lembut.

“Aku.”

Pintunya dia buka. Ia menyembunyikan sesuatu di belakang punggungnya.

“Boleh aku melihat albummu?” tanyaku langsung.

Ia tertegun sebentar. Kemudian mengunci pintu lagi.

“Engkau tidak akan menertawakan aku?” tanyanya.

“Buat apa? Tidak, aku tidak akan ketawa, apa pun isi album itu.”

Ia diam sebentar, berpikir, masih ragu-ragu.

“Aku percaya, engkau akan mengerti aku,” katanya seperti berbicara kepada diri sendiri.

“Mana?” kataku, karena album itu masih saja tersembunyi di balik punggungnya.

“Ini,” katanya sambil mengeluh. Matanya mengawasi wajahku dengan teliti ketika aku menerima album itu dan membukanya.

Lembaran-lembaran album itu putih. Pada halaman yang kubuka tertempel kertas guntingan yang ada tulisan cetakan:

The Moving Finger writes; and, having writ,

Moves on: nor all your Piety nor Wit

Shall lure it back to cancel half a Line.

Nor all your Tears wash out a word of it.

Di bawahnya ada tanggal. Aku ingat, bahwa di sekitar tanggal itu “Pandora and the Flying Dutchman” yang ada rubayyat Umar Khayyamnya seperti tertulis di situ, sedang diputar di Jakarta.

Lembaran-lembaran album itu aku buka terus. Semuanya ditempeli guntingan kertas dengan tulisan cetakan.

“Sintawati datang dari Timur.”

Sintawati menyusur pantai ….

Setelah sajak Asrul Sani, sajak Rivai Apin dan sajak penyair-penyair yang tidak begitu terkenal dari pelbagai majalah. Ketika aku sedang membawa sajak Taslim Ali “Kabut”, perlahan-lahan album itu direbutnya. “Coba lihat ini,” katanya. Ia membuka-buka beberapa lembaran lalu menunjukkan sebuah sajak yang kertasnya sudah kuning. Sebuah sensasi bagiku, karena kulihat di situ sajakku “Triwikrama”.

Kepalaku aku tegakkan. Ia tenang memandang ke dalam mataku. Pandangan yang tenteram, bukan pandangan liar Gajah dalam hidup sehari-hari. Ia memeluk bahuku.

“Di sini aku menyimpan jiwaku,” katanya sambil mengacu-acukan album itu dengan tangan kirinya.

“Aku mengerti,” kataku.

Ia melepaskan aku dan duduk di tepi ranjangnya. Dengan penuh terima kasih ia memandang kepadaku. “Album ini terug val basis yang paling aman,” katanya dengan suara lembut dan ganjil baginya. Kemudian ia berdiri dan berjalan menuju meja tulisnya. Majalah Zenith bulan Oktober terletak di situ. Diambilnya majalah itu. Aku melihat dari samping. Ia berhenti membolak-balik pada sebuah saja. Sajak M. Balfas: “Harum Pagi”.

Diambilnya gunting dari lacinya, dikoyaknya halaman itu dari majalah, kemudian diguntingnya rapi-rapi, direkatnya ke dalam albumnya.

“Mari ke luar,” katanya pada akhirnya.

Aku mengangguk.

Ia pergi menuju almari pakaian yang setelah terbuka.

Dengan hati-hati album itu disisipkannya di antara kemeja cowboy dan kemeja khaki dril militer. Kemudian kami ke luar. Di ambang pintu aku menengok ke meja tulis. Zenithnya masih terbuka: dua halaman yang penuh puisi.

17-3-1954

Tokoh Gajah ini mengingatkan saya pada sosok Umar bin Khattab, yang pembawaannya sangar namun diam-diam berhati lembut. Cerpen ini terdapat pada halaman 67-72 Tiga Kota oleh Nugroho Notosusanto (penerbit Balai Pustaka, Jakarta, cetakan kedelapan, 1995).

 

Chairil Anwar (oleh Aboe Bakar Loebis, 1995)

Seorang teman saya yang sering sekali datang di asrama ialah Chairil Anwar, penyair dan pelopor sastra Angkatan 45. Saya pertama kali berkenalan dengan Chairil di rumah Bung Syahrir. Pada suatu hari saya melihat seorang pemuda, berbadan kurus, dengan pakaian kurang bersih, berambut seperti tidak disisir, matanya besar dan agak merah. Pada waktu itu ia sedang membaca, berdiri di depan lemari buku. Rupanya ia sedang mencari buku. Syahrir yang sedang bercakap-cakap dengan saya, tiba-tiba berteriak, “Nini, jangan kau ambil buku dari sini. Tiap buku yang kau bawa tidak pernah kembali!” Saya pun bertanya siapa orang itu. “Kau belum kenal dia, itu Chairil Anwar, penyair, kemenakan saya,” kata Syahrir. Chairil kemudian menggabungkan diri dengan kami, dan sesudah berbincang-bincang beberapa waktu, saya pun minta diri hendak pulang ke asrama. Chairil langsung mengatakan mau ikut dengan saya. Ia belum pernah masuk ke asrama itu. Kami berjalan dari Jalan Maluku ke Parapatan. Di tengah jalan ia terus-menerus melampiaskan ras bencinya kepada Jepang dan kekagumannya terhadap Syahrir. “Oom aku ini, begini” atau “oom aku ini begitu” dan seterusnya. Di Jalan Jawa ia mengajak mampir sebentar di suatu rumah. “Aku mau bertemu dengan Affandi, barangkali ia ada di rumah.” Pada waktu itu Affandi rupanya tinggal di jalan itu, maka kami pun mampir. Ia memperkenalkan saya kepada Affandi, yang baru pertama kali saya temui. Chairil berbicara macam-macam dengan Affandi, saya hanya mendengar. Sesudah beberapa waktu saya katakan bahwa saya mau pulang. Baru Chairil berhenti berbicara.

Sesudah perkenalan yang pertama kali itu, seringkali ia datang kepada saya, paling tidak tiga kali seminggu. Kalau ia datang biasanya pertanyaannya ialah, “Kar, kau ada duit? Aku lapar.” Kalau memang sedang ada duit, maka kami pun pergi ke Pasar Senen untuk makan. Kalau sedang tidak ada duit, saya katakan saja, kantong sedang kosong. Pertanyaan lain ialah apakah saya punya buku baru. Walaupun ada, saya selalu mengatakan tidak ada, karena kalau saya katakan ada, ia langsung mau membaca buku itu dan membawanya. Buku itu pasti tidak akan saya lihat lagi. Sering pula sehabis makan di Pasar Senen, kami mampir di kios-kios buku bekas. Di sana ia selalu memilih-milih buku, dan menganjurkan buku-buku tertentu kepada saya. Kalau saya beli satu buku, maka pasti ia mengatakan, “Aku saja yang baca dulu, kau toh banyak buku pelajaran yang mesti dibaca.” Kalau saya iyakan, maka buku itu akan lenyap. Kalau ia datang di asrama sesudah bertemu dengan orang lain, maka diceritakan pembicaraannya dengan orang itu. Seringkali ia datang marah-marah, juga kepada Takdir (S. Takdir Alisyahbana), yang dianggapnya seorang materialis dan egois, atau marah pada seniman-seniman yang bekerja di Pusat Kebudayaan yang didirikan oleh Jepang. Chairil selalu berkata, “Orang-orang apa itu, mereka menyebut dirinya seniman, padahal tidak lebih daripada pelacur, melacurkan diri pada Jepang supaya dapat duit. Kau baca sajak si Anu yang memuji-muji kehebatan perang Jepang, sedangkan Jepang akan kalah? Apakah itu bukan pelacuran karena dia membuat sajak itu cuma supaya dapat duit dari Jepang!” Ada dua orang tidak dicaci makinya, yaitu Cornel Simanjuntak, komponis terkenal, dan pelukis Basuki Resobowo. Melalui Chairil pula saya menjadi kenal baik dengan dua seniman ini.

Sekali-kali ia datang dengan sajak yang baru ditulisnya. “Kar, dengar ini,” lalu dibacanya sajaknya. “Bagus tidak?” tanyanya. Saya tidak mengerti apa pun tentang puisi, jadi tidak tahu apakah sajak itu bagus atau tidak. Kalau saya hendak menyenangkan hatinya, saya puji sajak barunya itu, kalau saya sedang kesal, saya katakan apakah bagusnya? Maka ia pun menerangkan dengan panjang-lebar mengapa sajak itu bagus, dan apa artinya dan sebagainya. Supaya ia menghentikan uraiannya, saya katakan, “Memang hebat kau, Nini. Ayo, kita pergi makan!” Begitulah, pergaulan saya dengan Chairil Anwar sangat akrab. Berhubung sikapnya yang suka bicara seenaknya, dan sikapnya yang benci pada Jepang, maka ia beberapa kali ditangkap polisi. Beberapa minggu setelah saya keluar dari tahanan Kenpeitai, dan saya baru saja sampai di Jakarta setelah “mengungsi” beberapa waktu ke Yogya, dan sedang naik trem dari stasiun Gambir ke Kramat melalui Cikini dan Kalipasir, di halte Cikini, Chairil melihat saya duduk dalam trem. Ia segera naik, dan dengan gugup ia katakan, “Kar, kau jangan marah ya, tetapi aku tidak tahan sakit. Aku digebug oleh polisi. Mereka tanya, siapa temanku bergaul tiap hari, aku sebut nama kau. Aku tidak tahan sakit.” Memang saya lihat pipinya luka. Saya tidak marah, melihat ia ketakutan begitu. Saya cuma berkata, “Gila kau.” Esok harinya saya pergi lagi dari Jakarta, untuk menghindari kemungkinan dipanggil oleh polisi.

Pergaulan saya dengan Chairil berjalan terus, sampai di masa revolusi, sampai ia kawin dengan Hafsah di Karawang. Malahan kalau Basuki Resobowo atau Suryo Sumanto (kemudian bekerja di Perfini) melihat saya sendirian saja, mereka selalu bertanya, “Chairil mana?”

Saya bertemu terakhir dengan Chairil di Yogya beberapa minggu sebelum saya bertolak ke Sumatera. Ia merengek minta duit. Katanya ia hendak pulang ke Karawang. “Biniku menunggu di Karawang, aku tidak ada uang buat pulang.” Saya pun memberinya uang. Begitu uang itu diterimanya, ia langsung melompat-lompat kesenangan, dan cepat-cepat ia meninggalkan saya dengan ucapan, “Sekarang aku bisa ke Balokan ….” Balokan adalah lokasi pelacuran di dekat stasiun Tugu, Yogya.

Begitulah perpisahan saya dengan Chairil Anwar, “binatang jalang” itu. Perkawinannya dengan Hafsah tidak berlangsung lama sesudah mereka memperoleh seorang anak perempuan. Saya sedang bertugas di India ketika mendapat kabar, bahwa Chairil telah meninggal dunia, karena menderita bermacam-macam penyakit yang didapatnya karena cara hidup seperti binatang jalang.

….

Bagian lain yang memberi kesan “tertentu” bagi saya dalam buku Kilas Balik Revolusi: Kenangan, Pelaku, Saksi oleh  Aboe Bakar Loebis (editor Sugiarta Sriwibawa, penerbit Universitas Indonesia Press, Jakarta, cetakan kedua, 1995), dari halaman 71-74.

Seputar Proklamasi Kemerdekaan Indonesia ke Romantisisme

Tahun lalu, di Kemudian.com akun azkashabrina memublikasikan cerpen komedi sejarah berjudul “Agenda“. Dalam cerpen ini pengarang memarodikan detik-detik menjelang proklamasi kemerdekaan Republik Indonesia, ketika tokoh-tokoh pemuda seperti Sukarni, Wikana, dan Adam Malik membujuk Bung Karno agar segera melaksanakannya. Cerpen ini mendapat sambutan ramai, ada yang menyanjung ada pula yang tidak sreg.

1400468

sumber gambar

Dalam buku Kilas Balik Revolusi: Kenangan, Pelaku, Saksi oleh Aboe Bakar Loebis* (editor Sugiarta Sriwibawa, penerbit Universitas Indonesia Press, Jakarta, cetakan kedua, 1995), peristiwa persiapan proklamasi itu memang mengandung momen yang menggelikan. Sedikitnya kesan itulah yang saya tangkap dari gaya bahasa penulis.

Bagian yang menurut saya lucu dimulai ketika penulis menyebutkan di halaman 101 bahwa Sukarni, salah seorang tokoh pemuda yang menjadi tokoh utama dalam cerpen azkashabrina, memiliki kesuburan imajinasi. Berikut paragraf lengkapnya.

Rapat bubar dan semuanya pulang ke tempat masing-masing untuk menyebarluaskan putusan-putusan yang diambil. Sebagian berkumpul di asrama Baperpi, Cikini 71 (sekarang gedung Bank Niaga, cabang Cikini). Saya sendiri pergi ke Cikini. Di sana kami menunggu kedatangan kembali utusan yang dikirimkan kepada Soekarno. Mereka kembali kira-kira pukul 10, dan melaporkan kegagalan usaha mereka serta menambahkan bahwa Soekarno marah-marah dan tidak mau dipaksa-paksa oleh pemuda. Reaksi kami yang berkumpul di asrama Baperpi itu juga marah, karena itu dibicarakan tindak lanjut yang harus dilakukan. Putusannya ialah supaya Soekarno dan Hatta “diangkat” saja. Ketika kami sedang membicarakan hal ini tiba-tiba muncul tiga orang, dua di antaranya berpakaian PETA. Mereka adalah Sukarni yang memakai seragam PETA, Shodancho Singgih dan Yusuf Kunto. Sukarni segera berbicara dengan nada agitasi tentang semangat rakyat yang sedang meluap, ketegangan luar biasa di kalangan masyarakat, dan sebagainya. Semuanya ini menunjukkan kesuburan fantasi Sukarni, tetapi turut mempengaruhi putusan untuk menculik Soekarno-Hatta.

Sampai di sini saya belum kena benar dengan yang dimaksudkan sebagai “kesuburan imajinasi”. Barulah ketika sampai di halaman 103, saya tergelak.

Dalam perjalanan dari Rengasdengklok dari Jakarta, pada waktu senja, terlihat dari mobil asap dan api menyala di mana-mana. Sukarni pun berkata, “Lihatlah rakyat sudah mulai bergerak, membakar-bakar.”

Ini hanya merupakan bukti lagi kesuburan imajinasi Sukarni, karena yang dilihat hanya para petani membakar jerami di sawah yang selesai dipanen.

Dalam buku ini peristiwa persiapan proklamasi kemerdekaan RI diceritakan secara terperinci dalam bab “Hari-hari Sekitar Proklamasi” (halaman 76-121)–entah apakah azkashabrina sudah membacanya. Hal lain yang mengesankan yaitu simpulan dari peristiwa proklamasi itu sendiri. Dalam cerpen azkashabrina, peristiwa proklamasi dan pengibaran bendara merah-putih terasa khidmat dan menggetarkan. Sebaliknya yang dirasakan oleh Aboe Bakar Loebis selaku salah seorang tokoh pemuda yang turut berkontribusi dalam mempersiapkan peristiwa ini. Berikut penuturannya dalam halaman 106.

Bagi saya, pembacaan proklamasi kemerdekaan pada hari itu sebenarnya merupakan suatu anti klimaks. Setelah tiga tahun hidup dalam ketegangan dalam suasana konspirasi untuk mengejar cita-cita kemerdekaan, dan kemudian kegiatan tanpa lelah, tidak kenal haus dan lapar dengan ketegangan terus-menerus sejak tanggal 14 Agustus, berakhir dengan pembacaan naskah proklamasi yang terdiri dari beberapa kalimat kering, yang ditulis di rumah seorang pembesar Jepang, disaksikan oleh oknum-oknum Jepang, yang dibacakan dengan nada kering dan datar pula, di depan hanya puluhan orang di halaman rumah, oleh seorang Soekarno yang sedang tidak enak badan.

Proklamasi Kemerdekaan yang kami impikan, suatu proklamasi yang menyatakan hak hidup dan hak menentukan nasib sendiri bangsa Indonesia dengan cita-cita untuk membangun suatu masyarakat yang adil dan makmur di tanah air Indonesia, proklamasi yang kita susun sendiri, tanpa diketahui oleh Jepang atau oknum-oknum Jepang, dan dibacakan dengan semangat berapi-api oleh seorang orator Soekarno, di suatu rapat raksasa di lapangan terbuka, hanya merupakan impian yang tidak terkabul.

***

Dengan sangat rasional, ia kemukakan mengapa menurut pandangannya, suatu negara serikat merupakan bentuk negara yang terbaik bagi Indonesia. Disebutnya antara lain besar dan luas wilayah, banyaknya suku bangsa dengan kebudayaan yang sangat beragam dan bahasa yang berlainan, tingkat kemajuan ekonomi dan sebagainya. Kalau kami juga rasional, mungkin sekali kami dapat menerima argumen Bung Hatta, tetapi kami tidak rasional. Mengenai soal persatuan, kami malahan sangat emosional; persatuan tidak dapat ditawar. 

Kutipan di atas, yang diambil dari halaman 256 buku ini, memafhumkan saya betapa peristiwa-peristiwa sejarah sering kali diwarnai oleh sentimen, sampai-sampai Harun Yahya pun mengeluarkan buku Ancaman di Balik Romantisisme dan menyinggung nasionalisme di dalamnya. Sentimen, romantisisme, emosi, dan berbagai istilah lainnya yang menurutkan perasaan itu apabila dialami sekelompok manusia yang menyatakan kesatuannya sebagai bangsa akan melahirkan negara, adapun pada seorang individu dapat menghasilkan, katakanlah, karya fiksi berupa cerpen.

*Aboe Bakar Loebis (l. 1923) merupakan salah seorang tokoh pemuda yang turut serta dalam berbagai kegiatan persiapan proklamasi kemerdekaan. Nantinya beliau berkiprah banyak dalam membantu perjuangan pemerintahan Indonesia yang baru berdiri hingga memangku berbagai jabatan di lingkungan KBRI.

Tiga Tahapan Tiga Warna

Baru-baru ini saya mengetik ulang cerita dari Bobo lawas. Cukup mengasyikkan. Saat membuka halaman-halaman majalah tersebut, terasa kembali semarak dunia anak-anak, ketika segalanya tampak menarik dan menimbulkan keingintahuan, imajinatif, fantastis, lucu, dan sebagainya. Nostalgia. Cerita-cerita yang saya ketik ulang itu walau sederhana, namun mengandung gagasan kreatif maupun pengetahuan, dan, terutama, menenteramkan*: kebaikan pasti menang; hitam dan putih tampak benderang walau hanya di permukaan.

Lalu tebersit pikiran untuk memandang hidup ini menurut tiga tahapan.

Tahap pertama, yaitu masa anak-anak, zona hitam-putih. Sebetulnya masa ini tidak murni hitam-putih, sebab itu merupakan kacamata yang para pendidik berupaya memakaikannya pada kita. Kita toh belum benar-benar bisa membedakan yang hitam dengan yang putih itu menurut pemahaman sendiri.

Tahap kedua, yaitu masa remaja atau dewasa muda, zona abu-abu. Istilah kerennya sih coming of age. Pada masa ini kepolosan memudar, mulai tumbuh kesadaran akan kesenjangan antara diri dan dunia nyata di sekelilingnya. Kacamata hitam-putih yang dulu dipakaikan mulai terasa tidak cocok, dan ketika dilepas yang tampak serba abu-abu. Yang hitam dan yang putih mengabur. Hidup bukan melulu soal yang baik dan yang jahat, bahkan kita sulit menentukannya. Agaknya pandangan kita tengah dikeruhkan oleh gejolak diri yang memang sedang masanya.

Tahap ketiga, yaitu masa dewasa matang, zona hitam-putih keabu-buan. Badai mungkin tidak sepenuhnya berlalu seperti yang dikatakan dalam lagu itu. Namun, di sela-sela terpaan angin ribut dan dera hujan, kita mulai dapat melihat yang terang. Kadang penglihatan kita mengabur sehingga susah lagi menentukan arah. Tetapi, ketika cahaya kesadaran kembali menyorot, kita tahu bahwa ke arah terang itulah kita hendak berpegang dan menuju, memperjuangkannya.

Pandangan ini mungkin bisa diterapkan dalam pembacaan/penulisan, katakanlah karya fiksi. Karya pada tahap pertama itu seperti cerita anak, atau cerita dewasa dengan pelakonan sesederhana gadis baik melankolis versus ibu tiri berhati bengis. Karya pada tahap kedua berupa cerita yang apa adanya, tidak berpretensi memberikan suatu arahan pada pembaca sebab penulisnya sendiri belum bisa atau sebodo teuing dalam menentukannya. Karya pada tahap ketiga yaitu ketika penulis berusaha menunjukkan “pencerahan” dengan cara sesamar mungkin sehingga cuma pembaca dengan penglihatan bagus yang dapat menemukannya.

Cuma Ilmu Lamun sih, tanpa Ilmu Filsafat apalagi Ilmu Sastra. Bukan serius.

*) Jika masih punya nafsu untuk mengorek-ngorek koreng duniawi dan punya banyak waktu, tiap-tiap cerita anak tersebut bisa saja dibuat versi undercover atau politically correct-nya; diperluas bingkainya dan diperumit. Misal, ayah Pian yang menganggur itu di-PHK karena memperjuangkan hak-hak buruh di pabrik tempat kerjanya dulu, atau, sebetulnya ia suka menghabiskan waktu dengan mabuk ciu, mengadu babi, dan lagi diburu oleh kader Partai yang enggak kira-kira saat menagih pajak.

Belajar dengan Menerjemahkan Ulang

The Kite Runner_01.jpg

Atas: Teks sumber (The Kite Runner karya Khaled Hosseini); Tengah: Hasil latihan; Bawah: Hasil latihan disesuaikan dengan teks terbitan Qanita, cetakan I, Maret 2006 (penerjemah Berliani M. Nugrahani, penyunting Pangestuningsih, proofreader Herlina Sitorus)

Beberapa waktu lalu saya memiliki partner berlatih menerjemahkan. Awalnya, salah seorang dari mereka mengusulkan untuk menerjemahkan The Perks of Being Wallflower (selanjutnya TPBW) bersama-sama, lalu hasilnya dipertukarkan dan dibandingkan sebagai bahan belajar. TPBW dipilih karena merupakan novel remaja yang bahasanya relatif sederhana. Dari membandingkan hasil terjemahan, ditemukanlah sekian perbedaan. Perbedaan itu menjadi patokan untuk memperbaiki hasil terjemahan sendiri.

Ternyata, walau bahasanya relatif sederhana, ada saja ungkapan yang memerlukan penelusuran lebih jauh. Kebodoran pun terjadi. Karena sama-sama baru belajar dengan pemahaman bahasa yang kurang mendalam, mungkin juga karena pakewuh, kami sulit menentukan hasil terjemahan siapa yang betul. Bagaimana diskusi bisa berjalan? Partner saya itu bilang: Seperti orang buta menuntun orang buta.

Baru belakangan ini saya terpikir untuk mencoba cara lain dalam belajar menerjemahkan: Menerjemahkan teks yang sudah pernah diterjemahkan orang lain dan diterbitkan, terutama yang buku terjemahannya laris (anggaplah itu sebagai yang baku), lalu membandingkan hasilnya. Cara ini seperti dalam blog Latihan Menerjemahkan Novel, hanya saja tanpa ulasan sehingga perlu proaktif dalam membandingkan hasil latihan dengan terjemahan yang dianggap baku itu.

Dulu saya kurang tertarik dengan cara ini karena ingin menerjemahkan karya yang belum pernah diterjemahkan orang lain. Akan tetapi, ada waktunya ketika orang mulai merenungkan draf yang menumpuk dan mempertanyakan kualitas.

Tiga Cerita tentang Pengarang dari H. Misbach Yusa Biran: (3) Nasihat untuk Para Seniman

Bagaimanapun juga Rusli tetap teman saya, meskipun ia sudah jadi pemuda kumal. Saya harus menolong dia dari keadaannya sekarang. Baiklah, saya tidak akan mengatakan bahwa ia telanjur jadi seniman, karena ia akan sedia berkelahi dengan siapa saja yang mengatakan soal telanjur itu. Saya tidak takut bertarung dengan Rusli yang berbadan kerempeng dan berpantat tepos, cuma saya tidak gemar berkelahi. Lagi yang saya niatkan adalah ingin menolong dia. Dan syukurlah, ia bisa menyetujui pendapat saya tanpa harus berkelahi, yakni bahwa ia harus mempunyai pekerjaan tetap. Menurut Rusli, menganggur itu merusak jiwa. Entahlah, tetapi yang pasti dengan menganggur seperti sekarang ini penghidupannya tidak terjamin dan sayalah yang terus-menerus dirongrongnya: rokok sebatang, beli pita mesin tik, aspro …. Tak apa, sungguh tak apa kalau masih ada. Tapi dia harus menjamin hidupnya sendiri, bagaimana kalau saya mati?

Saya punya kenalan, seorang kepala di salah satu kantor pemerintah yang mengurus soal-soal kebudayaan. Ia baru saja diangkat. Rusli setuju untuk saya ajak minta pekerjaan padanya. Saya bisa bolos, gampang, saya kerja di kantor pemerintah.

“Pukul delapan baru buka kantor, kan?”

“Betul, tapi sebaiknya kita memberi kesan pertama yang baik. Kita harus sudah berada di sana pada pukul setengah delapan,” kata saya dengan perasaan mulai lega karena sudah terbayang rasanya sebentar lagi Rusli telah berpakaian rapi sebagaimana orang baik-baik lazimnya.

“Mana orang kantor pemerintah sudah datang sepagi itu?”

“Itu bukan urusan kita.”

“Tidak, soalnya apakah besok aku bisa bangun pagi-pagi. Nanti malam aku akan menyelesaikan cerita pendek yang tanggung dalam penggarapan.”

“Aku bermalam saja di rumahmu.” Menyesal saya. Sejak pukul tujuh sore ia sudah duduk di muka mesin tik. Termenung-menung kemudian mengetik, termenung dan mengetik lagi. Begitu terus tidak bisa diajak ngobrol. Kesal menunggunya. Mau keluar dari rumah, segan, jalanan di luar rumahnya becek betul. Tadinya saya pikir paling lama juga tiga jam ia kerja, sudah itu kami bisa cerita-cerita asyik tentang masa depan. Tetapi lewat tiga jam malah ia lebih asyik lagi termenung dan mengetik. Kadang-kadang hampir setengah jam penuh ia cuma melotot saja. Rokoknya sudah punah pada jam dua belas, merembet pada rokok saya. Setengah satu mata saya sudah berat sekali.

“Tidurlah, tinggal sedikit lagi. Aku sedang mencari penutupnya saja.”

Tidak tega rasanya meninggalkan dia duduk bekerja sendiri. Saya paksa-paksakan membuka mata. Entah sesudah berapa lama, maka mata saya telah dengan sendirinya terpenjam. Rasanya belum lama ketika badan saya digoyang-goyang oleh Rusli. Sudah pukul setengah tujuh. Rusli tidak tidur hingga waktu itu.

“Kaubilang semalam cuma tinggal mencari buntutnya saja.”

“Aku ulang mengetiknya. Ada beberapa bagian di tengahnya yang harus diubah, karena penutupnya ada perubahan.”

“Satu cerita pendek harus dikerjakan semalam suntuk?”

“Sebenarnya tidak perlu, tapi kalau kutunda buyar lagi idenya. Sudah lima hari aku cernakan dalam kepala.”

Lima hari, bisik saya dalam hati. Lima hari satu cerita pendek.

Saya pergi mandi, Rusli duduk dengan kaki terbujur lepas, pucat benar mukanya. Lalu ia cuma cuci muka saja. Itu saya tidak setuju benar, tetapi saya tidak tega menegurnya. Ya Allah, bagaimana kalau anakku sendiri yang jadi pengarang …?

Perkiraan Rusli salah. Setengah delapan pagi kenalan saya itu sudah berada di kantornya. Ia kepala bagian, jadi harus memberi contoh pada bawahan. Tetapi soalnya yang pokok, menurut Rusli, karena ia baru dijadikan kepala bagian di situ.

“Saya baru beberapa bulan saja duduk di bagian ini,” kata kenalan saya, “Dan Saudara tahu apa yang baru bisa saya lakukan? Membongkar, membongkar, dan merombak! Saya telah diserahi kerja untuk meneruskan kerja orang yang terdahulu, dan ternyata rencana serta konsep mereka tentang kebudayaan hanya membuat saya terpingkal-pingkal saja. Saya rombak semua, apa boleh buat harus peras keringat karena untuk kebudayaan kita tidak bisa main-main. Kebudayaan adalah jiwa, warna, dan segala-galanya dari suatu bangsa. Bagaimana mungkin hal besar ini hanya diserahkan kepada orang-orang yang hanya biasa kerja rutin, yang kerja hanya untuk menunggu pensiun saja? Omong kosong! Orang dengan kapasitas begitu tak mungkin bisa mencintai kebudayaan, menghargai hasil seni, menghargai seniman, serta bisa ikut mengembangkan kesenian Indonesia yang tengah mencari coraknya ini! Bagaimana mereka bisa menghargai, bahkan untuk hanya sekadar bisa mengerti penghidupan seniman?”

Kalau diladeni terus omongan bapak ini bisa sampai malam, pikir saya. Maka begitu ia sedang terhenti karena menempelkan rokok ke mulutnya, saya buru-buru masuk bicara.

“Pak, maksud kedatangan saya ini ialah untuk memperkenalkan kawan saya, yang tempo hari pernah saya ceritakan kepada Bapak.”

Bapak Kebudayaan dan saya sama-sama memandang ke arah Rusli. Masya Allah, Rusli tertunduk, tidur rupanya. Saya tendang kakinya. Bapak kebudayaan pura-pura tidak melihat.

“Saudara pengarang, bukan?” tanya Bapak kebudayaan sambil menoleh ke arah lain. Rusli termenung-menung kebingungan, masih belum pulih kesadarannya. Saya tendang lagi kakinya.

“Ya …, ya, begitulah ….”

“Saya yakin bahwa pekerjaan saya harus mendapat dukungan kalangan seniman-seniman muda, yang jiwanya masih hidup, dinamis, penuh cita-cita, dan semangat. Saya kira kita akan banyak bisa kerja sama.”

“Jadi, apa saya bisa diterima kerja di sini, Pak?” tanya Rusli.

Saya kagum akan keberanian Rusli kali ini.

“Punya ijazah SMA?”

“Tidak, Pak,” kata saya, “Saudara Rusli pernah duduk di kelas tertinggi SMA, bagian B lagi, Pak.”

“Yang penting ijazah,” jawab Pak Kebudayaan dengan suara kecewa sambil bangkit. Melangkah pelan ke jendela. “Saya sudah memajukan sebuah rencana ke atas. Kalau diterima, saya kira Saudara bisa saya pakai. Tetapi itu harus menunggu lama sekali karena banyak betul meja yang mesti dilewati oleh rencana tersebut.” Pak Kebudayaan menoleh pada Rusli, Rusli sedang melamun ke arah lain. “Saya gembira sekali bisa bekerja sama dengan seniman muda. Jangan salah sangka, saya bukan orang kolot. Tetapi saya kira, buat seorang seniman hidup tidak terikat adalah lebih baik, kan?”

“Tidak!” jawab saya kontan. “Penghasilan yang didapat dari tulisan tidak mencukupi.”

“O, ya …?” Bapak Kebudayaan duduk, nampak ia sangat tertarik pada jawaban saya. Rusli menendang kaki saya.

“Berapa honorarium sebuah cerita pendek? Dapat empat ratus?”

“Tidak sampai ….”

“Berapa? Tiga ratus?”

“Tujuh puluh lima,” jawab Rusli, “paling tinggi.”

Bapak Kebudayaan lesu menyandarkan bahunya ke sandaran kursi. “Begitu kecil ….”

“Majalah-majalah sekarang oplahnya kecil, terutama majalan kesusasteraan.”

“Tetapi itu bukan alasan untuk tidak menghargai suatu hasil seni!” kata Pak Kebudayaan dengan amat sungguh-sungguh, bernafsu. Berdebar hati saya, rasanya Rusli akan ditolongnya juga bekerja.

“Jadi, bagaimana, Pak?” tanya saya halus dan sopan.

“Pemuda tidak boleh mundur!” Pak Kebudayaan merenung sebentar. “Saya kira, saya bisa mendapatkan jalannya ….”

“Ya, Pak,” sambut Rusli tidak sabar. “Jalan apa?”

Bapak Kebudayaan tersenyum, “Jalannya adalah bekerja secara sistematis. Anak-anak muda sekarang memang tidak bisa disalahkan kalau mereka tidak bisa bekerja secara sistematis karena orang-orang tua mereka sendiri telah mengalami keguncangan hidup disebabkan perang dunia kedua. Tetapi walaupun bagaimana, bekerja secara sistematis tetap diperlukan. Terutama bagi para seniman dewasa ini.”

“Betul, Pak!” saya menggongi. “Maksud Bapak, di sini Saudara Rusli harus bekerja secara sistematis?”

“Bukan kerja di sini. Bekerja sendiri, sebagai pencipta. Maksud saya begini, sebuah cerita pendek kan honorariumnya tujuh puluh lima?” kata Pak Kebudayaan. Rusli diam saja, saya yang mengangguk. “Saya tidak bisa menduga berapa biaya hidup seniman sebulannya, entah tiga atau empat ribu. Akan tetapi biasanya seniman irit, taruhlah dua ribu. Maka mulailah dengan mengumpulkan nama-nama majalah serta mingguan yang memuat cerita pendek. Sepuluh buah saja cukuplah. Maka kalau semua penerbitan itu sekaligus Saudara kirimi cerita pendek dan memuatnya, artinya Saudara akan menerima honorarium sepuluh kali tujuh puluh lima rupiah, berarti tujuh ratus lima puuu …?”

“Luh,” sambung saya.

“Ya! Tujuh ratus lima puluh, satu minggu. Maka satu bulan akan berarti empat kali itu, sama dengan tiga riii ….”

“…,” saya tidak menyambung.

“Tiga ribu rupiah, berarti seribu lebih banyak daripada biaya yang dibutuhkan oleh seorang seniman. Itu kalau Saudara bekerja secara biasa saja. Lebih-lebih kalau Saudara mau pula mengisi majalah dan mingguan yang begitu banyak bertebaran. Saya satu, satu bulan bisa terima bersih enam ribu rupiah, gampang!”

Enam ribu sama dengan harga sebuah scooter Vespa. Bapak Kebudayaan memandang kami berdua sambil tersenyum, menunggu pujian atas idenya yang hebat itu. Rusli hanya mengangguk-angguk kecil, tetapi saya segera tahu bahwa ia akan berbuat nekad. Betul saja. Kalau saya tidak buru-buru minta permisi pulang, Rusli sudah niat akan ngomong yang kasar-kasar.

“Enak saja …, empat puluh karangan sebulan,” gumam Rusli waktu saya bonceng menuju ke tempat redaktur untuk mengambil honorarium tulisannya. “Kalau semua nenek-moyangnya mau bangun lagi dari dalam kubur untuk membantu aku mengarang sih, boleh juga …!”

“Sabar,” kata saya. “Innallaha ma’a shabirin.”

Untung belum terlambat, sang redaktur baru saja akan berangkat.

“Tapi daftar honorariumnya belum dibuat, Bung Rusli. Sabarlah, besok saja kemari lagi. Atau hari Senin sajalah, besok Sabtu, setengah hari kita kerja.”

“Ini kali saya betul-betul minta tolong, Bung. Saya ada …, saya perlu betul ….”

Redaktur kesal, membuka majalah yang memuat tulisan Rusli. Dipelajari, ya sebentar, diukur-ukurnya panjang karangan.

“Lima puluh rupiah, bagaimana?”

Rusli tak menjawab. Terasa mata saya berkaca-kaca. Redaktur tak mau melihat keadaan kami berdua. Ia menjatuhkan matanya kembali pada tulisan Rusli dalam majalah. Ujung jarinya dipukul-pukulkan ke meja, berpikir.

“Nah,” kata redaktur tiba-tiba sambil merogoh kantong, “Saudara terima saja dulu uang saya pribadi, enam puluh lima …. Sisanya terserah kapan mau ambil, sepuluh lagi …. Beres?”

Rupanya Rusli ada janji bayar utang hari itu pada warung nasi dekat rumahnya, lima puluh rupiah. Sisa lima belas.

“Lebihnya ini kita belikan rokok dulu, kemudian boleh kita makan sama-sama …, kita habiskan semua, habiskan semua!”

Lima belas dikurangi lima setengah rupiah untuk rokok, tinggal sembilan setengah rupiah. Sisanya akan dihabiskan untuk makan berdua.

“Saya sakit perut sajalah, Rus.”

“Sakit perut saja bagaimana?”

“Maksud saya, saya pulang saja …, sakit perut …, tidak ikut makan ….”

Kami berpandangan dan sama-sama mengerti. Rusli makan sendiri.[]

halaman 96-102, Keajaiban di Pasar Senen oleh H. Misbach Yusa Biran (penerbit CV Indocamp, Jakarta, cetakan ketiga, 2005)

Tiga Cerita tentang Pengarang dari H. Misbach Yusa Biran: (2) Hadiah Lebaran

Seorang seniman haruslah seorang manusia yang merdeka. Bebas jiwa dan segala-galanya karena hanya dengan jiwa yang bebaslah seseorang baru mungkin bisa menciptakan sesuatu yang besar. Kata-kata itu sampai bisa saya hapal karena seringnya saya dengar dari kawan-kawan, seniman-seniman di Pasar Senen. Ditanya atau tidak, kalau pembicaraan sudah menyinggung soal pekerjaan, maka kalimat-kalimat itulah yang meluncur. Atau kalau ada yang baru tahu bahwa saya adalah seorang pegawai, kalimat-kalimat itu juga yang diberondongkan ke telinga saya. Meskipun sudah saya cegat lebih dulu dengan keterangan, bahwa saya bisa memahami kalau dia tidak bekerja. Tidak urung dia akan desak saya untuk mendengar kalimat-kalimat tersebut, agar saya betul-betul yakin bahwa menganggur bagi seniman adalah kewajiban yang sah. Jangan pandang rendah.

Memang kalau tidak menjadi pegawai, orang akan bisa bebas merdeka. Tidak ada yang memerintah. Tidak akan diburu-buru waktu. Tidak terikat oleh peraturan-peraturan birokratis yang memperkecil jiwa manusia. Boleh melamun semaunya. Tidak usah takut pulang kemalaman karena besok pagi boleh bangun pukul berapa maunya. Tidak akan ada yang memaksa, terserah kita mau bekerja atau tidak. Cuma, kalau tidak bekerja tentu tidak akan dapat gaji. Begitu pula hadiah Lebaran.

Beberapa malam sebelum Idul Fitri, baru saya tahu bahwa salah seorang teman karib saya semasa kanak-kanak di kampung termasuk juga salah seorang seniman yang tidak menerima hadiah Lebaran itu. Rusli namanya. Saya kenal dia sejak kanak-kanak benar, di Rangkasbitung. Saya kenal keluarganya. Kami satu sekolah dan pernah sama-sama bolos untuk belajar berenang di Kali Ciujung. Malah kalau mau pergi taraweh dia selalu saya samper. Tetapi ketika malam itu ia berdiri di muka saya, hampir tak bisa saya kenali. Mukanya pucat, matanya cekung. Terlalu sering begadang tentu, berdebat sampai pagi.

“Jadi, kau seniman, Rus?”

“Ya. Aku penulis sekarang …, maksudku aku penagrang,” jawab Rusli dengan tekanan-tekanan yang pasti.

“Mengarang apa?”

“Macam-macam,” jawabnya cepat. Lalu dipandangnya mata saya yang menunggu keterangan dia lebih lanjut. “Macam-macam. Tidak ada faedahnya buat kauketahui.” Saya mengangguk. Rusli senyum. “Bagaimana kabar kau, pegawai setia?”

“Biasa saja,” jawab saya sambil tetap terpikat pada keadaannya yang menyedihkan itu. Bajunya kumal.

“Apa ada kemajuan? Kapan pensiun?” tanya Rusli dengan nada olok-olok yang sudah saya kenal betul di Pasar Senen ini. Pertanyaan serupa itu tidak memerlukan jawaban.

“Kau tidak kerja lagi?” tanya saya. Rusli menggeleng ringan saja, serupa perempuan ditawari rokok. “Kenapa kau jadi seniman, Rus, kenapa?”

“Kenapa? Kenapa kautanyakan itu? Tiap manusia punya lapangan sendiri-sendiri. Ada bakatnya masing-masing. Kau tahu bakat?” tanya Rusli yang lebih dekat kepada membentak. “Kau tidak tahu, tentu. Menjadi pegawai tidak memerlukan bakat. Baiklah, tiap orang mempunyai lapangan dan daerah sendiri-sendiri. Ada yang lapangannya adalah memimpin, ada yang hanya cocok jadi budak, ada yang pantasnya hanya untuk menunggu pensiun.” Kata pensiun ditekankan Rusli hampir di muka saya. “Dan … jarang yang bisa dan berani menghadapi hidup ini dengan kekuatan sendiri, di atas kedua kakinya. Apa salahnya kalau aku bisa? Kau tak akan bisa mengerti. Kau tidak tahu apa artinya bakat! Ya ….”

Kata-kata Rusli terputus begitu saja sambil melihat ke kepala saya. Dan saya baru sadar bahwa rupanya waktu itu saya sedang menggaruk-garuk kepala. Alangkah panjang jawabannya. Saya hanya ingin tahu kenapa anak baik yang dulu kukenal benar di kampung itu kini jadi kusut begini. Tetapi dia jadi membentak-bentak saya di tengah Pasar Senen yang ramai. Ingin saya pergi saja, tetapi masih kangen. Setelah saya mengambil waktu sedikit dengan menoleh ke sana kemari, rupanya Rusli telah bisa tenang kembali. Ia minta rokok. Kebetulan ada rokok enak, maklum baru terima hadiah Lebaran. Cocok pula buat selera Rusli.

“Sehari sebelum Lebaran aku akan pulang ke Rangkas, Rus,” kata saya dan Rusli nampak jadi tertegun. “Lebaran yang lalu juga kau ‘kan tidak pulang?”

Rusli hanya menyeringai, buang muka. Kami sama-sama diam beberapa saat.

“Sebetulnya …,” kata Rusli tiba-tiba. “Ya, apa boleh buat …, sebetulnya aku pengin betul pulang.”

“Apa boleh buat bagaimana? Pulang saja! Kita berangkat sama-sama,” kata saya separo mendesak.

Rusli tidak langsung menjawab.

“Ayooo!”

“Pulang lebaran lain, kan,” jawabnya agak terlalu perlahan. “Ah, sudahlah! Rencanaku semuanya meleset. Aku harap tadinya bisa dapat uang dari majalah yang memuat tulisanku, tetapi, tjs baru bisa diambil habis bulan.”

“Kalau sekadar ongkos kereta saja bisa aku tolong,” kata saya.

Rusli hanya memandang saja pada saya.

“Kau tahu jumlah hadiah Lebaran sekarang ….”

“Ya, ya, aku tahu,” tukasnya. Diam sesaat, senyum tak enak. “Pulang Lebaran harus bawa apa-apa tentunya.” Rusli diam lagi, sangsi untuk bicara, tetapi harus mengucapkannya, “Aku punya celana yang masih baik satu. Tapi kalau kujual pakai apa nanti Lebaran?”

“O, jangan … jangan, jangan dijual! Lagi celana twedehan tak berapa harganya hampir-hampir Lebaran begini,” kata saya. Dia setuju. Saya sodorkan lagi rokok, lalu kami sama-sama berpikir mencari jalan.

“Apa kau kenal pada redaktur majalah Kancil?” tanyanya iseng.

“Majalah cerita anak-anak?” tanya saya kembali iseng-iseng pula.

“Ya!” jawabnya semangat. “Bisa minta persekot kalau kau kenal ….”

“Tidak,” jawab saya.

“Redaktur majalah …. Ah, mana pula kaukenal sama redaktur.”

“Kenal, Rus, tetapi redaktur mingguan, bukan majalah. Si Medi ….”

“Haaa?” teriaknya sampai saya terkejut. “Betul kau kenal dia?”

“Betul. Aku pernah indekos di rumah kakaknya …. Nanti, tahun berapa tu ….”

“Kau harus tolong aku!” potongnya sangat bersemangat.

“Tentu. Bagaimana?”

“Ini jalan yang kucari. Rasanya kita bisa pulang sama-sama. Kau tahu bagaimana?”

“Tidak,” jawab saya. “Itu yang aku tanya. Bagaimana?”

“Ya, begini …, aku punya cerita pendek. Kalau teman kau bisa tolong memuatkan, beres. Kita bisa pulang. Honorariumnya cukup untuk beli sekadar kue-kue, ole-ole,” tuturnya dengan lancar dan gembira.

“Aku antar besok, jangan khawatir.”

“Tapi besok kan kau kerja?”

“Ah gampang, aku bisa permisi sebentar. Bilang saja …, ah, gampang deh.”

Hari baru pukul sepuluh malam waktu itu, masih ada dua jam lagi untuk mencapai pukul dua belas, yakni saat yang saya rencanakan malam itu untuk pulang dan tidur. Kami habiskan waktu dua jam ini dengan cerita-cerita tentang masa kanak-kanak di kampung dulu. Kemudian kami bayang-bayangkan apa yang kami lakukan pada hari-hari Lebaran nanti. Sesudah sembahyang Ied ia akan menjemput saya di rumah nenek, lalu kami akan sama-sama menuju kebun ayahnya di Rumbut, lima kilometer dari kota. Dulu, kami sering ke sana pada bulan puasa untuk menunggu-nunggu sore. Sekarang kakek Rusli tinggal di situ, jadi sekalian famili akan tumplek ke sana. Mudah-mudahan kemenakan Rusli yang manis itu juga akan datang. Tentu yang belakangan ini tidak saya sampaikan pada Rusli, tetapi rasanya ia sudah maklum juga. Rencana perjalanan pada hari raya telah tersusun lengkap sampai jam-jamnya. Demikian pula apa yang akan kami lakukan pada beberapa hari setelah Lebaran karena saya masih akan tinggal agak seminggu di kampung, dapat perlop, dan Rusli telah memutuskan untuk terus tinggal di sana selama itu. Hari demi hari telah terisi dengan rencana-rencana yang serba asyik. Termasuk berlayar-layar dengan getek batang pisang, seperti yang pernah kami lakukan dulu. Walhasil asyiiik.

Besoknya saya bonceng Rusli ke kantor si Medi. Untung orangnya ada dan kantor lagi sepi. Biasanya penuh saja dengan kuncup-kuncup seniman yang bukan main bisingnya kalau ngobrol. Dengan begini bisa leluasa omong-omong dengan Medi, bisa pakai bumbu dan bunga-bunga untuk memperlicin jalan menggolkan cerita Rusli.

“Ooo, kalian sama-sama dari Rangkasbitung? Dia (menunjuk saya) sering betul cerita tentang Rangkas. Seolah-olah kota yang paling hebat di seluruh dunia …,” kata Medi sambil tertawa. Saya ikut tertawa. Rusli payah betul memaksakan mukanya tersenyum, ia terlalu tegang pada cerita pendeknya yang berada di tangan Medi.

“Saudara Rusli sudah lama menulis?” tanya Medi sambil membaca-baca sepintas.

“Eee …, ya …, lama juga.”

“Hmmm. Kebetulan saya belum pernah baca tulisan Saudara. Dimuat di mana?”

“Dimuat di … eee …, begini, ya … baru di majalah-majalah kecil.”

“Ooo.” Medi mengebet-kebet. “Akan saya pelajari tulisan Saudara ini.”

“Maksudnya?” sambar saya cepat. “Kalau mungkin, bisa dimuat nomor depan ini, Med.” Medi mengangkat mukanya pada Rusli. Tapi Rusli tidak berbunyi sedikit pun, cuma tersenyum-senyum saja seperti perawan kampung yang baru pacaran. Kesal betul, padahal semalam bukan main galaknya kepada saya.

“Kenapa mau buru-buru?” tanya Medi baik-baik, tetapi nampak Rusli seperti terkejut betul mendengarnya.

“Saya ingin lekas melihat tulisan saya dimuat dalam mingguan terkenal …,” jawab Rusli, ia lalu tertawa sedikit, entah kenapa.

“Ah …, jangan tergesa-gesa, Saudara Rusli. Saudara masih muda,” kata Medi dengan cara biasa-biasa saja, tidak membentak atau sambil memelotot. Tetapi mungkin di telinga Rusli kedengarannya menggelegar karena Rusli jadi kuncup dan tersipu-sipu. Tidak sedikit pun nampak ada niatnya untuk menyampaikan apa yang sebenarnya dimaksud.

“Dia perlu duit, Med. Buat pulang!”

“O ….”

“Ah, tidak!” tukas Rusli tegas. Berikutnya kuncup lagi. “Cukup buat saya, asal bisa dimuat nomor depan.”

Medi mengebet-kebet lagi, dua-tiga kali melirik ke arah saya dan setiap kali beradu dengan pandangan saya yang terus tajam padanya. “Tapi …,” kata Medi agak diseret, “Kalaupun bisa dimuat, honorariumnya ….”

“Tidak apa habis bulan …, tidak apa. Asal bisa dimuat.”

“Hmmm …, isi nomor depan sudah penuh,” kata Medi sambil berpikir dan sesudah melirik saya selintas dia lanjutkan, “Tetapi kalau Saudara cuma perlu uang, saya bisa pinjamkan persekot ….”

“Baik!” potong saya, “Kami akan pulang tanggal dua puluh ini.”

Medi langsung merogoh kantongnya dan saya kagum akan kecepatan otak saya yang lantas sudah bisa menghayalkan berlebaran sama-sama dengan Rusli di Rangkas. Kami tertawa-tawa di kebun ayahnya, memukul bedug di surau semalam suntuk ….

“Tidak usah, Bung!” kata Rusli tiba-tiba. “Saya tidak perlu persekot. Saya hanya kepengin betul cerita saya itu bisa dimuat pada nomor Lebaran ini. Cukup itu saja, tolonglah.”

Dongkol benar saya pada Rusli. Pulangnya saya suruh dia yang membonceng saya.

Dua hari sesudah Lebaran, saya terima kiriman pos dari Jakarta: Mingguan yang memuat cerita pendek Rusli. Pada pojok atas tulisannya dicantumkan catatan, salam selamat hari raya dari dia buat sekalian teman-teman. Saya faham, maka saya bawa mingguan itu pada teman-teman.

“Hebat ya, si Rusli. Tidak sangka,” kata kawan yang satu.

“Memang, dari dulu sudah kelihatan bakatnya,” yang lain bilang.

“Bukan main dia sekarang,” menurut seorang gadis.

“Luar biasa. Pantas dia tidak pulang. Jadi wartawan memang repot sih ….”

“Bukan wartawan,” tukas saya. “Seniman. Ya, seniman ….”[]

halaman 65-72, Keajaiban di Pasar Senen oleh H. Misbach Yusa Biran (penerbit CV Indocamp, Jakarta, cetakan ketiga, 2005)