Membaca Fiksi Seperti Mendengarkan Musik

Ketika mendengarkan musik, apalagi lagu yang kita suka, kita seakan menemukan hal baru pada setiap pendengaran. Pada pendengaran pertama, kita mendengarkan lagu itu secara keseluruhan. Lagu itu langsung mengganduli ingatan dan menyentuh perasaan, sehingga kita suka dan ingin mendengarkannya lagi, lagi, dan lagi. Pada pendengaran kedua, kita mendengarkan melodi yang paling menonjol dalam komposisinya; itu bisa suara piano, flute, dan sebagainya. Pada pendengaran ketiga, kita mulai menyimak melodi lain yang mengiringi melodi utama, yang berubah-ubah pada setiap bagian di sepanjang lagu; itu bisa suara piano, gitar, dan seterusnya. Pada pendengaran keempat, kita menaruh perhatian pada suara bas atau drum yang ritmis, cenderung konsisten di sepanjang lagu. Pada pendengaran kelima, kita mencari-cari instrumen lain yang belum terperhatikan pada pendengaran sebelumnya. Dan seterusnya, sampai kita ingat setiap suara dan bagian pada lagu itu, dan kita bisa menyetelnya kapan pun di dalam kepala tanpa perlu menyalakan gawai lagi. Tiap instrumen dalam lagu itu, ketika dihayati betul-betul, seakan memiliki nyawanya sendiri-sendiri. Meski begitu, antara instrumen satu dan instrumen lain-lainnya terdapat kekompakan, melengkapi satu sama lain. Kadang bersahut-sahutan, kadang berbarengan. Bagaimanapun juga, ketika didengarkan secara keseluruhan, semuanya itu menjadi harmoni.

Bukankah membaca sastra, atau, dalam hal ini, fiksi, semestinya begitu juga? Bukankah ada yang bilang bahwa dalam karya yang berbobot kita akan menemukan hal baru pada setiap pembacaan? Tapi kenapa kadang kenyataannya tidak begitu? Kadang, kita merasa cukup sekali saja membaca suatu cerpen atau novel. Atau, ketika kita membaca itu untuk kedua kalinya, kesan yang timbul pada pembacaan pertama malah berubah. Sering kali cerita itu jadi tidak seru lagi, karena kita sudah tahu alurnya. Atau, kita bosan saja. Atau, kita pusing kalau kebanyakan melihat teks, apalagi yang sama terus-terusan. Tidak punya banyak waktu. Banyak alasan.

Membaca teks itu lain dari mendengarkan musik. Apalagi kalau kita bukan musisi atau pengamat musik yang serius, tapi orang yang sedang belajar mengarang dan menulis. Kita mendengarkan musik bukan untuk memikirkan bagaimana nada-nadanya dijalin, aransemennya, dan seterusnya. Kita mendengarkan musik untuk menikmatinya, merasakan efeknya yang magis, dan merilekskan diri. Sementara itu, membaca teks memerlukan pikiran yang jernih–usaha yang lebih. Tanpa konsentrasi, materi yang dibaca tidak akan masuk ke pikiran. Membaca teks dengan sebetul-betulnya juga memerlukan daya tahan, sebab ada waktunya pikiran kita akan terasa capek dan mata kita akan terasa nyeri. Dalam artikel-artikel tentang cara mengatasi insomnia pun dikatakan bahwa membaca sebelum tidur itu tidak disarankan. Itu malah akan bikin kita capek. Tidak baik tidur dengan pikiran yang capek, walau sering kali kita begitu. Tidur yang baik adalah tidur dalam keadaan rileks. Maka salah satu aktivitas yang disarankan sebelum tidur adalah mendengarkan musik yang lembut, karena efeknya yang bikin rileks.

Tapi, sebagai orang yang sedang belajar mengarang dan menulis, kita butuh untuk membaca terus-menerus, bahkan teks yang sama sampai berkali-kali. Kita ingin bisa menciptakan karya yang menandingi karya tersebut. Tapi mulai darimana? Bagaimana meningkatkan pembacaan kita?

Nah, kenapa kita tidak mencoba menerapkan cara yang sama antara mendengarkan musik dan membaca teks fiksi? Dalam mendengarkan musik, kita mendengarkannya secara keseluruhan lebih dulu, dan pada pendengaran-pendengaran berikutnya kita memilih untuk memerhatikan melodinya, iramanya, atau tiap-tiap instrumennya seperti yang sudah dimisalkan di atas. Begitu juga dalam membaca fiksi. Kita bisa saja memusatkan perhatian kita pada elemen tertentu dalam tiap-tiap pembacaan. Misalnya: Pada pembacaan pertama, kita membaca cerita itu secara keseluruhan, dan menentukan poin-poin yang membuat kita menyukai cerita itu atau yang membuat cerita itu penting untuk dipelajari. Apakah itu alur ceritanya? Karakterisasinya? Gaya bahasanya? Isu tersiratnya? Ataukah itu cerita yang sangat-sangat-sangat hebat sehingga semua elemennya penting untuk diperhatikan? Pada pembacaan kedua, kita bisa memusatkan perhatian pada aspek yang menonjol itu–atau salah satunya dulu, kalau memang ada banyak–dan  mempelajari tekniknya. Pada pembacaan ketiga, kita mencari aspek lainnya yang juga menarik, dan mempelajari tekniknya…. Dan seterusnya, sampai kita bisa menerapkan teknik-teknik yang telah dipelajari itu pada karya kita sendiri.

Advertisements

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s