Membaca Cerpen Fandrik Ahmad, “Lelaki Ketujuh” (Kompas, 26 Juli 2015)

Taris baru berumur 25 tahun, tapi dia sudah enam kali menikah dengan lelaki yang berbeda-beda, dan masih perawan. Tidak ada dari keenam pernikahannya itu yang bertahan lebih dari sebulan. Pernikahannya yang keenam saja cuma bertahan sepuluh hari. Pasalnya, ketika hari sudah gelap dan suaminya mengajak tidur, Taris selalu melihat lelakinya itu berubah wujud menjadi binatang yang mengerikan. Taris yang ketakutan pun tidak mau didekati.

Taris sebetulnya sudah capek dengan masalah ini, belum lagi muncul buah bibir bahwa dirinya perempuan yang gemar gonta-ganti suami. Tapi ketika ibu Taris menyuruh anaknya itu untuk menikah lagi dengan lelaki ketujuh, dia menurut saja.

Lelaki ketujuh ini berbeda dari lelaki-lelaki sebelumnya. Baru ia yang senantiasa mengingatkan istrinya untuk menjaga salat lima waktu, juga salat tahajud. Tapi, seperti lelaki-lelaki sebelumnya, setelah hari gelap ia berubah wujud, entahkah menjadi serigala atau bunglon. Taris yang ngeri pun mengusirnya. Meski begitu, setelah diberi penjelasan, lelaki ketujuh ini bisa mengerti dan ikhlas.

Suatu hari ada fenomena aneh di depan rumah mereka. Langit tampak berubah-ubah menjadi terang atau gelap, tergantung pada posisi mereka memijakkan kaki. Lelaki ketujuh pun menanyakannya pada Kiai Zanur, pengasuh pesantren tempat ia menimba ilmu agama sekaligus ahli dalam perkara gaib.

Kiai Zanur lalu datang ke rumah dan menyiramkan segelas air putih yang sudah didoai ke tanah. Ketika tanah itu digali, tampak sehelai kain kafan. Kain kafan itu agaknya memecahkan suatu hal. Sebab, setelahnya Tasri dan suaminya dapat menghabiskan malam dengan kebahagiaan yang sempurna.

***

Cerita ini disampaikan melalui sudut pandang orang pertama, yaitu Taris. Tapi Taris sangat hemat dalam bercerita. Dia tidak mau menceritakan masa lalu yang tiba-tiba hadir dalam pikirannya ketika mendapati ada kain kafan terpendam di depan rumahnya. Dia juga merasa kurang bijak memaparkan alasannya untuk tidak menikahi kekasihnya yang pertama, yang dia tinggalkan sebelum pernikahannya yang pertama. Kekasihnya itu sakit hati dengan pilihannya, dan sebelum pergi mengancamnya dengan, “Kau tak akan pernah bahagia kecuali menikah denganku.” Kekasihnya itu lalu tidak diketahui lagi keberadaannya. Dalam penderitaannya, Taris sering tiba-tiba teringat pada kekasihnya itu dan berharap kembali pada lelaki itu. Sempilan ini bisa menjadi petunjuk, memunculkan dugaan bahwa jangan-jangan lelaki itulah yang diam-diam memendam kain kafan di depan rumah Taris, demi mewujudkan ancamannya itu. Kain kafan itu mungkin sudah dimantrai, sehingga akibatnya Taris berhalusinasi melihat suaminya berubah wujud ketika hari sudah gelap.

Cerpen ini kental dengan muatan islami. Bukan saja karena penyebutan istilah semacam “shalat”, “kiai”, dan “dzikir”, tapi juga ada amanat yang disampaikan secara jelas. Berikut kutipan percakapan Taris dengan suaminya.

“Bukankah pernikahan itu hanya sebagai alat pemuas nafsu?”

“Itu anggapan yang salah. Keinginan biologis tentu pasti ada. Tetapi tujuan menikah semata karena untuk menyempurnakan agama. Tahukah Dik Taris bahwa kesenangan dan kebahagiaan itu berbeda? Kesenangan muncul dari nafsu, sementara kebahagiaan datang dari hati. Kesenanganlah yang membuat kita tidak pernah puas.”

Pandangan hidup Taris juga dapat dijadikan bahan renungan.

Sejatinya hidup ini tidak ada kata sakit apalagi tersakiti. Yah, persoalannya sederhana; perasaan kita sendirilah yang kerap menyiksa sendiri. Hanya saja kerap persoalan sederhana tidak bisa dipikirkan secara sederhana pula.

Ada satu hal yang mengganjal, sebetulnya. Taris melihat suaminya berubah wujud ketika hari gelap. Tapi ketika hari terang, semuanya kembali normal. Kalau sekadar untuk “begituan”,¬† tidak bisakah Taris dan suaminya melakukan itu ketika hari terang? Bukankah itu tidak diharamkan kecuali ketika Ramadhan? Dengan begitu, dia tidak mesti masih perawan pada pernikahan yang ketujuh, bahkan mungkin tidak perlu ada lelaki yang ketujuh?

Advertisements

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s