Hewan Seolah-olah Manusia, Manusia Seolah-olah Hewan

Kadang kita menemukan cerpen yang bermain-main dengan persepsi pembaca. Sering kali itu tipe cerpen yang memberikan kejutan di akhir. Misalnya saja, pada mulanya pembaca mengira bahwa cerpen tersebut menceritakan tentang seorang manusia, kemudian di akhir terungkap bahwa itu ternyata seekor hewan. Ada juga cerpen yang bentuknya tidak begitu, namun tetap menceritakan suatu makhluk seakan-akan itu makhluk lain yang berbeda spesies. Kesan yang timbul pun akan berbeda. Jika tokoh yang kita sangka manusia ternyata hewan, kesan yang timbul cenderung jenaka. Jika tokoh yang seharusnya manusia malah menyerupai hewan (entahkah rupa atau kelakuannya), kesannya cenderung tragis. Tulisan ini hendak mengangkat dua cerpen yang masing-masing mengandaikan suatu makhluk seakan itu makhluk lainnya.

Cerpen “Sepatu” karangan vinegar (Kemudian.com, 28 April 2015) merupakan tipe cerpen yang mengandung kejutan. Cerpen ini dituturkan melalui sudut pandang orang pertama, seorang perempuan, yang sedang uring-uringan karena kehilangan sepatunya yang berharga jutaan, dan akibatnya, dia lalai memberi makan kucingnya. Kucingnya itu pun ngambek dan tidak pulang-pulang. Si “aku” menceritakan piaraannya itu seakan hewan tersebut manusia lelaki, dengan perasaan yang intens, sehingga pembaca mungkin menyangka bahwa itu pasangannya hidup bersama.

Aku tidak tahu apa maunya, makhluk yang disebut lelaki senang sekali ngambek hanya karena perkara sepele.

Padahal keluhannya akan si makhluk lelaki–yang mungkin berhasil membuat pembaca ikut mempersepsikan itu sebagai manusia–menyiratkan ciri yang juga tampak pada kucing pejantan lazimnya.

Aku tak perduli ia ngapain saja, mau cari pacar lalu beranak-pinak silakan, mau berkelahi layaknya jagoan silakan, mau jadi maling pun aku tak melarang. Atau jangan-jangan dia yang maling sepatuku lalu menjualnya pada tukang sepatu keliling? Kampret betul.

Pikiran seorang majikan yang memperlakukan hewan piaraannya seolah-olah manusia sesungguhnya menggelikan, tapi wajar. Bukan hal aneh manusia mengajak bicara piaraannya. Apalagi ketika dia mengenakan laku yang hanya mungkin dilakukan manusia, yakni menjual, pada hewan tersebut. Dalam karya fiksi yang terbatas oleh kata-kata, pembaca mengetahui fakta cerita sebatas yang diberitahukan penulis. Karena keterbatasan itulah, pembaca mungkin sekali dikecoh oleh permainan kata.

Yang lebih mengecoh lagi adalah si “aku” dapat berdialog dengan kucingnya itu dalam bahasa manusia, seakan pada manusia betulan. Dalam kenyataan, itu ajaib, tapi dalam fiksi, itu sangat boleh terjadi. Apalagi ketika si kucing menyebut jenisnya sendiri sebagai “orang”.

“Kalau kau cari makanan sudah tak ada. Sudah basi, kukasih sama kucing tetangga.”

“Baik hati sekali kau, Nona. Ngasih makan perut orang tapi perut yang di rumah sendiri kau biarkan kelaparan.”

Kebenarannya baru terungkap ketika pada akhir cerita disebutkan bahwa si “aku” mendengar suara benda tajam menggores pintu, sampai-sampai menyangka itu dilakukan oleh Edward Scissorhand. Di sini pembaca masih mungkin terkecoh oleh pikiran si “aku” yang senang mempersonifikasikan sesuatu. Edward Scissorhand berwujud manusia, dan yang menggores-gores pintu dengan benda tajam itu bisa jadi juga manusia. Barulah pada petunjuk terakhir hal-hal yang dikaburkan itu menjadi jelas.

Aku membelalakkan mata, meraih obat antiseptik dan meneteskannya pada luka di hidungnya. Ia berontak. Kucengkeram ia sekuat tenaga. “Miaaauuu!! Perih tahuuu!!”

Cerpen “The Frog Prince” karangan Robert Coover (The New Yorker, 27 Januari 2014) merupakan modifikasi dari dongeng Pangeran Kodok dalam konteks modern. Dalam dongeng dikisahkan tentang seekor kodok yang apabila dicium seorang perempuan akan berubah menjadi seorang pangeran. Cerpen ini diawali dengan persis.

She cuddled a frog, wishing for more, and–presto! A handsome prince who doted on her.

Namun ketika keajaiban itu diletakkan dalam realita si protagonis–seorang perempuan dengan rumah tangga yang sedang bermasalah–jalannya mungkin tidak seindah dongeng.

It meant the end of her marriage, of course, … .

Apalagi karena si pangeran masih menampakkan ciri ke”kodok”annya.

He had heavy-lidded eyes and a wide mouth like a hand puppet’s, his complexion was a bit off, and his loose-fitting skin was thin and clammy. His semen had a muddy taste, like the pond he came from, and his little apparatus was disappointing, but his tongue was amazing. It could reach the deepest recesses … .

… whenever she asked the prince to transport her to his real kingdom he always took her back to the pond where she’d found him. He was happy there. He’d crawl into the mud, digging in until only his protuding eyes peered out, … .

Bukan saja rupa dan kelakuan si pangeran yang masih menyerupai kodok (frog), tapi mantan suami si protagonis pun punya kebiasaan yang dianggap mirip katak (toad).

her ex was something of a toad himself, who had a nasty habit of talking with his mouth full and a tongue good for nothing but licking stamps.

Penceritaan ini seakan ingin bermain-main dengan persepsi pembaca. Tingkah si pangeran yang masih menyerupai kodok bisa diimajikan secara harfiah, sehingga timbul kesan fantastis. Tapi itu bisa juga dianggap sebagai metafora, sehingga kodok yang dimaksud dalam cerpen ini bukanlah kodok betulan, melainkan manusia yang rupa dan kelakuannya menyerupai kodok. Si protagonis lalu menjadikan orang tersebut selingkuhannya–pangerannya.

Demikian, dari kedua cerpen itu kita dapat mempelajari teknik mempermainkan persepsi pembaca, serta memahami kesamaan sekaligus perbedaan antara manusia dan hewan. Hal mana, yang disebut terakhir itu, sering juga terungkap dalam lirik lagu populer, sebut saja judulnya “Kucing Garong”, “Buaya Darat”, dst. Rupanya, meski kerap memandang hewan lebih rendah daripada dirinya, manusia masih memiliki sifat yang tak ubahnya dengan makhluk tersebut.

Advertisements

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s