Membaca Cerpen Romi Zarman, “Babi” (Koran Tempo, 17 Oktober 2010)

Cerpen ini menyuguhkan suatu situasi, yaitu interogasi antara seorang polisi dan seorang terperiksa. Cerita dituturkan melalui sudut pandang si terperiksa yang menyebut dirinya dengan “saya”.

Cerita dibuka dan ditutup dengan ucapan “Dasar babi!” yang dilontarkan si polisi. Pada pembuka, si polisi mengucapkan itu dengan lirih pada orang yang sedang diperiksanya–si “saya”. Si terperiksa maklum karena si polisi pun tampak lelah. Sudah berjam-jam memeriksa, sudah hari kedua pula, tapi si polisi belum mendapatkan keterangan yang berarti atau keterangan kunci. Tapi si terperiksa malah balik bertanya sebabnya si polisi menyebut-nyebut babi, bahkan merasa dirinya telah dilecehkan, dan situasi pun mulai berbalik. Si polisi minta maaf dan keluarlah curhat bahwa dirinya lelah, dan sudah dua kali ditegur Komandan karena kelepasan mengumpat. Si terperiksa lanjut bertanya sebabnya hewan yang dipilih itu babi, dan menurut si polisi itu kebiasaan saja. Si terperiksa lantas mengungkapkan rasa kasihannya pada si babi karena dijadikan bahan umpatan, padahal itu hewan yang paling teraniaya. Dia lalu menceritakan tradisi berburu babi di kampungnya. Puluhan manusia pemburu yang masing-masing membawa satu anjing peliharaan ramai-ramai mengejar dan mengeroyok satu babi. Sesungguhnya para manusia pemburu itu tidak punya cukup keberanian makanya membawa anjing dan juga senapan. Tapi seiring dengan berjalannya waktu, tradisi itu berbalik sehingga si terperiksa alias si “saya” lah yang kini diburu. Peran interogator pun kembali dipegang si polisi yang tidak jelas akan maksud si “saya”. Si “saya” pun menjelaskan soal dirinya yang sudah dua kali dijebloskan oleh hukum, tanpa tahu dalangnya, tapi selalu bisa lolos karena selalu berjalan lurus. Si polisi lantas mengaitkan tabiat si “saya” dengan babi yang yang ketika berlari tidak menoleh ke kiri atau kanan, melainkan lurus saja ke depan tanpa peduli rintangan apa pun. Si “saya” mengiyakan. Kali itu si polisi merasa tidak salah lagi untuk mengulangi ucapannya pada si terperiksa, “Dasar babi!”, dan selesailah cerita.

Situasi kebolak-balik antara si polisi dan si terperiksa, yang mana si terperiksa malah balik menginterogasi si polisi, serta ucapan “Dasar babi!” yang semula umpatan ternyata memang benar adanya, menimbulkan rasa geli.

Walau ringkas, menghibur, dan tampak enteng, cerpen ini agaknya mengandung sindiran terhadap tradisi lokal yang menganiaya hewan, ragam sifat manusia, malah mungkin cara kerja kepolisian.

Advertisements

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s