Membaca Cerpen Yusak Lie, “Henning Dorg” (Jawa Pos, 17 Oktober 2010)

Cerpen ini menceritakan tentang seorang lelaki dari Indonesia yang tinggal di Jepang dan baru pindah apartemen. Setelah beberapa malam dia menjadi susah tidur dan merasa tidak enak. Setelah mengamat-amati apartemen mewah di sebelah apartemennya, dia mendapati ada satu kamar yang sangat terang dan terletak tepat di seberang kamarnya. Penghuni kamar itu seakan takut gelap, dan si “saya” pun teringat akan cerita ibunya tentang sosok ayah yang meninggalkannya saat masih berumur setahun.

Dari cerita ibunya, tampak si ayah bernama Henning Dorg itu bukanlah orang yang baik karena tidak becus bekerja, suka mengelabui atasan, angkuh, tapi pandai membawa diri sehingga banyak gadis perawan yang terpikat olehnya. Kebetulan si “saya” punya perhatian lebih pada pemanasan global, dan dia memanfaatkan itu untuk mendekati si penghuni apartemen yang mencurigakan.

Ketika mencari tahu lewat daftar penghuni apartemen, kagetlah si “saya” karena ternyata memang betul orang yang dicurigainya itu ayahnya yang bernama Henning Dorg. Sempat dia merenungkan lagi niatnya. Kebetulan dia pernah ikut pramuka sehingga lihai menggunakan teropong untuk mengintip keadaan apartemen di seberang itu.

Setelah mengamat-amati isi apartemen Henning Dorg, si “saya” melancarkan niatnya dengan kedok petugas pemerhati lingkungan hidup yang hendak memberikan penyuluhan. Dia juga menambahkan kebohongan lain supaya Henning Dorg mengizinkannya masuk ke apartemen. Kesempatan itu dimanfaatkan si “saya” untuk mengamati setiap ruangan di apartemen Henning Dorg dengan teliti. Rupanya ayahnya itu punya banyak masalah akibat gaya hidupnya yang mewah.

Selain berbicara mengenai lingkungan hidup, si “saya” melakukan pendekatan personal pada Henning Dorg dan menawarkan bantuan, seperti membayarkan semua biaya binatu kelas atas untuk pakaiannya. Awalnya Henning Dorg menolak, tapi akhirnya setuju juga. Meski begitu, setelah dibayari, Henning Dorg makin menjadi. Dengan seenaknya dia berganti pakaian, bahkan bisa sampai tujuh kali sehari. Tapi itu memang jebakan si “saya”. Tahu-tahu dia mangkir dari janjinya untuk mengirim semua baju Henning Dorg ke binatu, dengan alasan dirinya sedang sakit.

Lama-lama Henning Dorg tahu siasat yang dimainkan si “saya”. Setelah minta maaf meski dengan kebohongan, si “saya” menawarkan untuk membayarkan cicilan mobil mewah lelaki itu. Akhirnya Henning Dorg bersedia juga, tapi lagi-lagi bersikap seenaknya sehingga si “saya” jengkel bukan main.

Si “saya” pun “membalas dendam” dengan menusuk ban mobil Henning Dorg diam-diam. Tak dinyana, akibat dari perbuatannya itu Henning Dorg mengalami kecelakaan dan si “saya” terpaksa bertanggung jawab. Dia harus merawat Henning Dorg. Henning Dorg seakan tahu bahwa itu akibat dari perbuatan si “saya”.

***

Cerpen ini merupakan adaptasi dari cerpen “Charles Lebourne” karya Budi Darma. Saya belum membaca cerpen itu dan tidak menemukannya di internet sehingga tidak bisa membandingkan keduanya. Tapi, mengandalkan ingatan akan beberapa karya Budi Darma yang pernah saya baca, agaknya memang ada pengaruh dari gaya pengarang tersebut dalam cerpen ini, misalnya saja penyebutan “saya” sebagai kata ganti orang pertama dan nama tokoh yang unik.

Walau tahu bahwa ayahnya itu “jahat”, tapi si “saya” tampaknya mewarisi sejumlah sifat lelaki itu seperti kurang becus dalam bekerja tapi pandai mengelabui orang. Maka ketika si “saya” hendak mengelabui Henning Dorg, dia tidak bisa begitu saja mengalahkan si ayah. Henning Dorg malah balas menyusahkan dirinya. Akhir cerita ini seakan menyiratkan pesan bahwa tidak ada gunanya membalas dendam apabila orang yang dituju tidak kalah liciknya, apalagi jika itu orang tua sendiri. Justru hubungan yang khas antara si “saya” dan Henning Dorg itu menambah kelucuan. Betapapun si “saya” tampak seperti kena batunya, tapi bantuan yang diberikannya pada Henning Dorg yang sekaligus ayahnya itu–meski dengan kebohongan ataupun akhirnya karena keterpaksaan–dapat dilihat sebagai bakti anak pada orang tuanya. Memang sepantasnya seorang anak berbuat sesuatu pada orang tuanya, betapapun orang tua itu tidak bertanggung jawab atas dirinya. Anggaplah itu air tuba dibalas air susu.

Advertisements

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s