Mengikuti Kelas (Kelompok) Menulis

Dalam artikel The Write Practice berjudul “Should You Sign Up for a Writing Class?“, dipaparkan keuntungan dan kerugian dari mengikuti kelas menulis.

Keuntungannya yaitu:

Pertama, kita dapat berkenalan dengan kawan senasib para penulis di daerah kita, terutama jika itu dilakukan dengan tatap-muka (nondaring);

Kedua, itu dapat memaksa kita untuk menulis, apalagi jika kita membayar untuk mengikutinya, dan;

Ketiga, kita mendapat kesempatan untuk mengkritisi karya orang lain, yang akan menambah pengetahuan kita soal menulis. Dengan begitu, rasa percaya diri serta kepekaan kita terhadap karya sendiri mungkin dapat terasah.

Kerugiannya, yaitu:

Pertama, itu bisa jadi mahal jika kita mesti membayar untuk mengikutinya. Tidak sepadan jika kita datang ke situ tanpa mempersiapkan karya yang sudah jadi. Selain itu, sekarang ini pengetahuan menulis bisa didapat secara daring dan cuma-cuma.

Kedua, suasananya tidak selalu kondusif.

Saya pernah mengikuti beberapa pelatihan menulis, terutama ketika bergabung dengan sebuah komunitas tatap-muka. Komunitas tersebut sesekali mengadakan pelatihan, entah itu memang diwajibkan bagi anggota sebagai bagian dari kaderisasi atau justru untuk menarik anggota baru. Belum lama ini pun ada workshop menulis cerpen yang diselenggarakan sebuah harian nasional. Ketika saya membagi informasi itu pada beberapa orang, sebagian tampak skeptis dengan bertanya, “Apa ikut workshop semacam itu benar-benar berguna?” Pikir saya saat itu, itu tidak berguna kecuali setelahnya kita konsisten menindaklanjutinya sendiri. Tapi, terlepas dari keefektifannya itu, dulu saya mengikuti pelatihan menulis karena senang saja mendapat pengalaman baru.

Sekarang, dengan problem dalam hal finansial dan sosial, saya sudah enggan memanfaatkan sarana seperti itu lagi–jika kebetulan diadakan. (Bahkan ketika masih leluasa menggunakan uang dan senang bergaul pun saya tidak mengikuti semua kegiatan sehubungan literasi yang ada di kota tempat tinggal saya.) Sebagai gantinya, sudah dua-tiga tahun ini saya memanfaatkan sarana yang lebih aksesibel, yaitu komunitas daring. Di komunitas itu, saya lumayan rajin mengomentari karya orang lain dan (tentunya) memajang karya sendiri (yang selama bertahun-tahun kebanyakan ditimbun saja setelah selesai digarap). Lama-lama saya memiliki beberapa teman baru dari situ. Hubungan ini kadang menjadi intens dengan saling berbagi masalah pribadi, di samping membicarakan tentang kepenulisan. Dengan teman-teman yang terdekat, biasanya kami sudah saling tahu–setidaknya secara umum–perkembangan kepenulisan satu sama lain. Lagi pula perkenalan itu toh diawali dengan membaca beberapa karya satu sama lain, mengenali gaya menulisnya, kecenderungan temanya, dan sebagainya. Dengan pengetahuan itu, kami saling membantu mengimprovisasi kemampuan menulis. Satu sama lain menjadi tempat berbagi yang pertama-tama jika ada karya baru atau masalah menulis.

Komunitas daring tersebut memang mensyaratkan anggota untuk mengomentari karya orang lain lebih dulu sebelum memajang karya sendiri. Dengan begitu, poin ketiga dalam keuntungan mengikuti kelas menulis, yaitu belajar dari karya orang lain, dapat terpenuhi. Untuk poin kedua, yaitu memaksa untuk menulis, sesekali diadakan tantangan, tapi itu sifatnya tidak teratur. Untuk memaksa menulis secara teratur, kelompok kecil dan privat agaknya lebih efektif, tapi itu pun tergantung pada niat masing-masing. Beberapa kali saya mencoba mengadakan program begitu dengan beberapa teman, misalnya, dengan saling menyetor karya baru tiap dua mingu sekali, tapi itu hanya bertahan sebentar. Barangkali jika kita mesti membayar untuk grup semacam itu, paksaan untuk menghasilkan karya akan lebih kuat. Kita toh tidak mau rugi.

Maka, sementara ini yang diperlukan adalah meneguhkan niat sendiri, dan teman(-teman) yang hendak diajak serta, untuk rutin berkarya. Bagaimanapun memanfaatkan akses internet dan komunitas daring itu relatif murah dibandingkan dengan menaiki angkot ke tempat berkumpulnya komunitas tatap-muka tiap minggu. Tapi, mungkin karena murah bahkan cuma-cuma itulah kita cenderung menyia-nyiakan itu alih-alih mengoptimalkannya.

Advertisements

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s