Cerpen Danarto, “Matahari Melahap Madu” (Matra, September 1990)

Oleh

Danarto 

Lahir di Sragen, Jawa Tengah, 27 Juni 1940. Hingga kini ia baru punya 3 buku kumpulan cerpen: Godlob (1975), Adam Ma’rifat (1982). Kini ia sedang mengumpulkan cerpen-cerpennya yang baru sambil mencari penerbit. Danarto adalah orang yang mudah berbahagia. Di Pasar Tanah Abang, Jakarta Pusat, misalnya, ia bisa nongkrong di warteg sambil menikmati nasi putih, ikan pedas dan sayur daun singkong. Lalu ia berkata, “Seandainya surga seperti ini, cukuplah.” Ia pernah mendapat hadiah sastra Buku Utama untuk Adam Ma’rifat. Dua tahun lalu ia juga mendapat hadiah sastra S.E.A. Write dari pemerintah Thailand. (Matra, September 1990)

Cerpen Danarto, Matahari Melahap Madu.JPG

PERTENTANGAN ISTRI SAYA DENGAN ANAK PERTAMA KAMI, Putri, sudah mencapai tarap gila-gilaan. Permusuhan antara ibu melawan anaknya: apakah ada peperangan yang lebih dahsyat daripada itu? Jika siang dibuat malam, jika malam dibuat siang oleh keduanya, tentu kebenaran ngumpet tak tentu rimbanya. Keduanya sama-sama harimau, keduanya sama-sama gajah. Jika yang satu berucap sepatah, dijawab yang satunya sepuluh patah. Begitu ganti-berganti, seperti musim. Jika yang satu melesat ke langit, lawannya menyelam bumi.

Semuanya itu bermula ketika Putri masih berusia satu bulan di rahim ibunya. Ternyata Istri saya sama sekali belum siap untuk mengandung. Setelah dokter memastikan kehamilannya, Istri saya menjadi gugupan. Suka bingung dan uring-uringan. Segala keruwetan Istri saya itu tentu saja membuat saya kalang-kabut. Sekian hari tak tahu apa yang mesti saya lakukan ketika Istri saya ingin menggugurkan kandungannya, waktu itu genap sudah satu bulan usianya.

“Maafkan saya, Mas,” isaknya sambil duduk di tepi ranjang. “Tapi saya sungguh-sungguh tidak siap untuk mengandung. Paling tidak saat ini. Barangkali nanti-nanti.”

“Kenapa?” tanya saya.

“Saya cemas.”

“Apa yang dicemaskan?”

“Saya tidak tahu. Saya hanya tahu bahwa saya tidak siap. Saya ingin menggugurkannya.”

“Jangan sinting, kamu.”

“Jangan memaksa-maksa saya yang tidak sanggup, Mas.”

“Saya tidak memaksa kamu. Mengandung adalah soal biasa bagi setiap perempuan.”

“Tapi itu peristiwa yang luar biasa bagi saya. Apa saya tidak boleh menolak?”

“Menolak untuk peristiwa yang sudah terjadi? Sungguh saya tidak bisa mengerti jalan pikiranmu.”

“Jalan pikiran saya biasa saja.”

“Aneh. Mau membunuh bayinya sendiri kok dibilang pikiran biasa.”

“Ini masih belum jadi bayi, Mas. Kita masih boleh menggugurkannya.”

“Ngeri sekali.”

“Mas.”

“Apa pun bentuknya, itu anak kita.”

“Belum bisa disebut demikian, Mas.”

“Sayalah yang paling berdosa jika tidak bisa mencegah kemauan burukmu.”

“Agama kita membolehkan, Mas.”

“Saya melarangnya.”

Mendengar ini mendadak Istri saya jatuh terlentang di ranjang. Dia pingsan. Inilah awal paling buruk dari sejarah rumah tangga kami. Saya lalu memanggil dokter teman saya. Ia berhasil membuat Istri saya siuman kembali, meski agak dengan susah payah. Sampai dini hari saya dan Mbok Nah, pembantu kami, menungguinya di kamar tidur. Yang paling kasihan sebenarnya Mbok Nah. Dia sangat kurang tidur ketika Istri saya mulai uring-uringan. Setiap waktunya tidur, justru Mbok Nah sibuk karena dipanggili ke kamar tidur tuan putrinya. Pembantu, yang dikirim Ibu dari Yogya ini, begitu datang bergabung, langsung akrab. Dia sudah tua, namun masih energetik. Seorang nenek dari sejumlah cucu ini tampak ingin menunjukkan kebaktiannya kepada kami. Ketika menunggui Istri yang sudah pulas tertidur itu, Mbok Nah tampak terkantuk-kantuk di atas kursi, betapa tua dan betapa jauh dari keluh-kesah. Selalu salat pada waktunya, sepertinya suatu tanda sudah memesan kamar di Surga.

Ketegangan ini tak mungkin saya tanggungkan sendirian. Saya panggili teman-teman Istri. Hampir semuanya berdatangan ganti-berganti. Bahkan ada yang datang bersama-sama. Suasana jadi meriah. Seperti reuni. Kami menyambut mereka penuh kegembiraan dan terimakasih. Mengagumkan. Kami lalu sering makan ramai-ramai. Rumah tangga kami seperti bangkit kembali dari lesu darah. Istri saya lalu tampak seperti tak pernah mengalami mimpi buruk dari kandungannya. Dia tampak bergairah. Kadang-kadang lupa bahwa dia sedang mengandung. Tapi kegembiraan ini hanya berusia dua minggu ketika teman-temannya masih suka berdatangan. Setelah rumah sepi kembali dari tamu-tamu, Istri saya mulai digerayangi bayangan kecemasan itu kembali. Dia bingung dan uring-uringan lagi. Mbok Nah menderita lagi. Dan saya tak mampu berkutik apa-apa.

“Kamu agaknya belum siap jadi suami,” celetuk Mbak Elly kepada saya setengah berbisik ketika berhasil menidurkan Istri saya.

“Masak sih kamu tak mampu menuturi Istri,” celetuk Ratni.

“Kamu keterlaluan,” celetuk Eva sambil menggendong Sutera Dara, putrinya.

“Kamu harus mawas diri,” celetuk Cippink.

“Kalianlah yang seharusnya menasihati dia,” balas saya sekenanya sambil tiduran di sofa. Segalanya hanya mengantarkan kelelahan pada saya.

Mbak Elly, Ratni, Eva, dan Cippink adalah teman-teman paling dekat Istri saya. Mereka buru-buru datang kembali menenangkan Istri saya. Mereka dulu satu kelas dan bersamaan lulus. Bahkan setelah masing-masing berkeluarga, mereka tetap berkumpul karena punya perusahaan yang dikelola bersama. Hanya Cippink yang melesat ke Eropa, karena ibu beranak satu ini menetap di Jerman Barat bersama suaminya, seorang bule, yang kebetulan menengok ibunya di Jakarta, sempat mampir ke rumah. Mawas diri—kata Cippink—apa yang harus saya lakukan untuk mawas diri dan apa hubungannya dengan kecemasan yang diderita Istri saya, sungguh suatu dugaan di luar angan-angan. Apakah para psikolog selalu tahu masalah yang dihadapi tiap orang? Mereka adalah para psikolog yang mendirikan biro konsultasi Expo (Executive & Performance & Oomph), di Jakarta Pusat, yang terkenal di kalangan para eksekutip, karena banyak jasanya dalam membantu penampilan mereka.

“Kecemasan istrimu ada hubungannya dengan sesuatu di dalam dirimu,” kata Cippink ketika saya undang di satu restoran, di Mampang Prapatan, Jakarta Selatan.

“Saya merasa baik-baik saja, Cip,” sela saya.

“Kelihatan dari luar baik-baik saja, memang. Tapi di dalam terjadi pergolakan. Istrimu menangkap kegaduhan di dalam dirimu.”

“Oke, Cip. Begini. Seseorang yang bergolak jiwanya tak mungkin mampu menutup-nutupi dengan tingkah laku apa saja. Ia akan muncul keluar. Satu saat akan mendobrak tutupnya, dan nongol, hingga siapa pun akan melihatnya. Yang saya tanyakan, Cip, jika benar terjadi kegaduhan di dalam diri saya, apakah kelihatan saya menutup-nutupi dengan tingkah-laku yang enggak-enggak?”

“Kelihatan.”

“Misalnya?”

“Misalnya, kamu tidak merasa bahwa di dalam dirimu terjadi kegaduhan.”

Mendengar tebakannya ini saya jadi diam. Tapi mulut saya terus mengunyah ayam goreng Mbok Berek kegemaran saya. Cippink sama lahapnya. Bahkan dia memesan satu ayam untuk suami dan anaknya di rumah. Kami lalu minta tambah es jeruk. Siapa pun yang makan di restoran ini selalu minta tambah es jeruknya karena ayam gorengnya begitu lezat dan gurih hingga selalu membuat tenggorokan kering. Seluruh meja makan penuh. Ada orang-orang kantoran. Ada keluarga. Ada pula rombongan piknik yang datang dari luar kota yang jauh. Di luar masih banyak orang-orang yang antri, mobil memenuhi pelataran parkir yang penuh.

“Aneh sekali,” desis saya. “Saya benar-benar tidak menyadari bahwa saya telah membuat Istri saya tidak tenang.”

“Banyak juga suami yang demikian,” sambungnya.

“Juga ada yang persis saya?”

“Ada juga.”

“Kenapa Istri saya tidak mengatakan bahwa sumber kecemasannya justru di dalam diri saya?”

“Karena istrimu tidak tahu.”

“Apakah dia takut kepada saya?”

“Tidak.”

Ini sungguh-sungguh mengejutkan. Saya merasa benar-benar tak bermasalah. Apakah Cippink benar-benar tahu keadaan saya? Jangan-jangan dia cuma menduga-duga. Tapi buat apa Cippink berbohong kepada saya? Apa untungnya? Apakah dia mencoba mendesak supaya saya mau berterus terang? Tapi terus terang tentang apa, sebab memang saya tidak menyembunyikan apa-apa.

“Apakah kecemasan itu bisa diatasi Istri saya?”

“Itu bergantung kepada keadaanmu.”

“Apakah akhirnya saya tahu bahwa saya sebenarnya bukan orang yang beres?”

“Ya.”

“Kapan?”

“Bergantung sejauh mana kemauan tahumu.”

“Faktor apa saja yang membuat di dalam diri saya terjadi kegaduhan yang tidak saya ketahui?”

“Banyak. Juga hal-hal kecil bisa menjadi penyebabnya.”

“Misalnya?”

“Ketidakpuasanmu di kantor kamu bawa pulang.”

“Tidak pernah, seingat saya.”

“Ketidakpuasanmu akan makanan yang dihidangkannya.”

“Tidak pernah, seingat saya.”

“Ketidakpuasanmu akan cara berpakaiannya.”

“Tidak pernah, seingat saya.”

“Apakah kamu suka gosip?”

“Tidak.”

“Apakah istrimu suka gosip?”

“Suka.”

“Nah. Bisa juga istrimu bertanya-tanya di dalam hati kenapa kamu idak pernah membawa pulang obrolan tentang kolega-kolegamu di kantor.”

“Apakah gosip begituan penting untuk Istri saya?”

“Penting.”

“Kenapa?”

“Istrimu diam-diam bisa saja curiga kepadamu. Kenapa kamu selalu adem-ayem saja. Berangkat ke kantor, pulang dari kantor, tenang-senyap-sunyi-sepi-hening, begitu setiap hari. Seperti tidak pernah menghadapi masalah. Jangan-jangan kamu menyimpan rahasia antara kamu dengan kantormu, dengan teman-temanmu.”

Saya berhenti mengunyah. Saya pandangi Cippink. Dia acuh tak acuh.

“Cip. Kenapa jawaban-jawabanmu begitu pasti?”

“Supaya kamu beroleh kepastian.”

“Tapi saya tidak membutuhkan kepastian.”

“Tapi istrimu membutuhkannya.”

Apakah memang begini cara para psikolog itu menangani masalah? Apakah benar mereka serba tahu? Apakah mereka bukannya mau menang sendiri? Apakah perasaan-perasaan saya terhadap para psikolog ini justru menjadi kendala hingga saya tidak mengetahui masalah-masalah yang bergolak di dalam diri saya sendiri?

Tiba-tiba terdengar suara benturan keras. Denting suara berantakan di lantai akibat kejatuhan kepingan-kepingan sehabis dihantam benda keras. Buru-buru saya ke depan. Saya lihat kaca jendela bolong diterobos batu. Di luar tampak Putri berkacak pinggang, menatap ke rumah penuh kemarahan. Ibunya muncul, menatap Anaknya lewat kaca yang bolong itu, berkacak pinggang. Anak dan Ibu kini saling mencereng lewat lubang dengan ujung-ujung kaca yang runcing. Saya lihat sebongkah batu tergolek di karpet setelah menyerempet meja. Tentu telah terjadi pertempuran sengit antara keduanya. Begitu biasanya di setiap saat jika keduanya bertemu, di mana saja. Tak sepatah kata pun terucap dari mulut masing-masing. Agaknya mata telah mewakili segalanya.

Putri, anak sulung kami, telah beranjak jadi gadis cantik. Tujuh belas tahun sudah dia jalani peperangan melawan Ibunya. Adakah peperangan lain sepanjang itu? O, nanti dulu. Bahkan tujuh belas tahun itu masih perlu ditambah sembilan bulan lagi, yaitu masa-masa bersembunyi di dalam perut. Sekarang anak itu tumbuh dengan ketegaran yang luar biasa. Jika dia marah, ini rumah rasanya ikut bergetar-getar ketakutan. Suasana menjadi panas. Udara bikin sumpek. Dan akhirnya rumah hanya mirip sebuah gudang. Tak lebih dan tak kurang. Meski hubungan Putri dengan saya dingin, namun tidak demikian dengan Ego (15) dan Alina (13), dua adiknya. Mereka kelihatan cukup mesra jika sedang berbincang-bincang, bahkan boleh dikata saling sayang menyayangi.

Ketika saya berangkat mengadakan perjalanan ke Jawa Tengah selama tiga hari untuk urusan pekerjaan, Ego menyelipkan sesuatu ke saku jaket saya, tanpa berkata apa pun. Sepanjang perjalanan Jakarta-Semarang, saya sama sekali tidak ingat akan barang itu. Di penginapan, barang itu saya geletakkan begitu saja di meja. Ketika urusan pekerjaan masih memerlukan satu hari lagi, dalam santai di dalam kamar saya menyetel walkman sambil tiduran. Secara sambil lalu saya buka bungkusan Ego itu. Rupanya sebuah kaset. Saya pikir ini pasti kaset lagu-lagu kesayangan saya. Boleh juga. Terimakasih, Go. Tapi, kaget juga saya. Isinya ternyata bukan lagu-lagu. Setelah saya setel beberapa detik, lalu saya rewind pitanya. Saya dengarkan lagi. Agak lama. Lalu saya putar ulang lagi, mulai dari awal.

“Apa pun yang terjadi, kamu tetap harus tunduk kepada Mama!”

“Memangnya gue apaan.”

“Kamu adalah anak kandung Mama!”

“Memangnya gue apaan.”

“Tidak tahu berterimakasih sedikit pun kamu!”

“Memangnya gue apaan.”

“Putri! Kamu tidak mungkin terus-terusan begini!”

“Ibu yang menyebabkan gue terus-terusan begini.”

“Kamu sendirilah sumber keruwetan itu.”

“Bukannya Ibu?”

“Kamu!”

“Ibu persis orang yang kurang kerjaan.”

“Kamu sungguh-sungguh menghabiskan waktu saya.”

“Kalau Ibu mau enak, jangan anggap Putri ada.”

“Kamu tak tahu diuntung.”

“Apa enaknya sih, ngatur-ngatur orang.”

“Diatur saja kamu jadi tidak karuan seperti ini, apalagi jika tidak.”

“Nah, nah, nah, Ibu mulai mencampuri urusan Putri.”

“Urusanmu adalah urusanku, Anakku.”

“Nah, nah, nah. Cari enaknya sendiri.”

“Kamu pikir Mama tega mendengar semua gosip itu!”

“Gosip tentang apaan?”

“Kamu punya pacar banyak!”

“Gosip hanya baik untuk diobrolkan. Bukan untuk dipercayai.”

“Jika semuanya bergosip, itu tandanya ada asap.”

“Asap bisa dibikin.”

“Putri! Segala kebrengsekan ini tak bisa dibiarkan terus-menerus.”

“Salahnya sendiri.”

(Terdengar suara tamparan. Lalu terdengar suara tamparan lagi. Agaknya ibu dan anak ini saling tampar-menampar. Lalu kedengaran keduanya terisak. Tiba-tiba terdengar kegaduhan. Pintu bergerit.)

“Ego! Lina! Kalian nguping, ya!”

(Lalu terdengar suara tamparan-tamparan. Ibu agaknya menampar Ego dan Alina. Ego diam. Alina terisak. Lalu terdengar suara pintu dibanting.)

“Mama sudah putuskan, Putri harus kawin Minggu depan.”

“Memangnya gue apaan.”

“Di antara pacarmu itu, Mama pilih Ponton untuk mengawinimu. Ia setuju.”

“Ibu gila!”

(Terdengar suara tamparan. Putri berteriak. Suara kaki yang berlari. Suara pecah-belah yang jatuh di karpet. Suara tubuh yang diseret. Putri menangis.)

“Mama sudah siapkan semuanya. Kamu tinggal menjalani. Mama tahu kamu cinta Ponton. Mama tahu Ponton cinta kamu.”

(Putri terisak.)

“Perkawinan adalah pintu menuju kebahagiaan bagimu. Satu-satunya jalan. Jika kamu berbahagia, kami ikut berbahagia.”

“Tapi ini gila.”

“Banyak bacot, kamu!”

“Ibu ….”

“Keadaanmu gawat. Hanya dengan perkawinan kamu bisa selamat.”

“Tapi bukan begini caranya.”

“Inilah cara yang paling baik untuk menanggulangi segala yang buruk.

“Tidak hanya di dalam kandungan Ibu mencengkeram saya. Tapi bahkan ketika saya beranjak dewasa, Ibu lebih dalam menindas saya. O, seandainya Ibu dulu berhasil menggugurkan saya.”

(Terdengar suara tamparan. Putri menjerit, lalu menangis.)

“Dari mana kamu tahu, aku mau menggugurkan kamu? Jawab!”

(Putri terisak.)

“Jawab!

“Dari malaikat.”

(Terdengar suara tamparan. Terdengar suara tercekik. Terengah-engah. Lalu terdengar suara tubuh yang berguling-guling. Suara pintu yang ditendang.)

“Putri! Lepaskan! Putri! Lepaskan!”

(Suara teriakan Ego menghambur ke dalam. Diikuti Alina. Keduanya melerai. Rupanya Putri sedang mencekik Ibunya.)

“Ibu tak berhak sedikit pun atas tubuh dan pikiran saya!”

(Suara Putri lantang. Sementara Ibunya terengah-engah.)

“Ibu pikir, Ibu ini siapa. Seenaknya menentukan hidup-mati seseorang. Ya, Ibu pikir Putri ini barang rombengan yang bisa ditendang, diseret, dilempar ke comberan.)

“Putri!” (Teriakan Ego dan Alina bersamaan.)

“Keluar, kalian!”

“Putri!”

“Keluar, kalian!”

(Suara pintu ditendang. Suara kaki-kaki bergerak keluar. Sunyi sesaat.)

“Ibu. Seharusnya kamu jadi anak saya, bukan jadi ibu saya. Supaya saya bisa mendidikmu dengan kasih sayang.”

(Suara isakan.)

“Sungguh saya heran, perempuan ini telah melahirkan saya. Sedikit pun tak pernah saya bayangkan ada seorang ibu yang semacam ini. Lumayan juga untuk menuh-menuhin pojok pagar halaman.”

(Suara tangisan.)

“Ketika pertama kali saya mendengar bahwa Ibu pernah berusaha habis-habisan untuk menggugurkan kandungan yang berisi seorang bayi yang detik ini berkacak pinggang di depanmu, saya melihat kilatan wajah iblis yang menyeringai. Alangkah cantiknya Ibu saya. Manis dan mengerikan.”

(Suara tangisan.)

“Seandainya dulu saya berhasil digugurkan, tentu sekarang roh saya melayang-layang tak henti-hentinya di langit yang dingin tak berbatas. Bahkan para malaikat pun kesukaran menggaetnya. Saat itu Ibu tentu berjingkrak-jingkrak dalam pesta orgi dengan setan-setan yang gentayangan dalam keadaan sempoyongan.”

Pita saya biarkan berputar terus meski suara rekaman sudah habis. Saya harus bergegas. Meski rapat bisnis masih satu hari lagi, saya putuskan untuk mangkir. Hari itu juga saya putuskan untuk kembali ke Jakarta. Saya menyesal kenapa tidak saya ketahui kaset rekaman itu sejak dalam perjalanan Jakarta-Semarang. Seandainya demikian, pasti perjalanan bisnis ini saya batalkan.

Hasil rekaman Ego dan Alina tentang pertengkaran Kakak melawan Ibunya ini saya anggap karya yang bagus, melebihi kaset-kaset lagu yang paling laris sekalipun. Mengherankan juga, mereka masih cekatan untuk bertindak di luar batas-batas kesempatan yang diberikan oleh waktu. Di samping niat untuk memikirkan rumah tangga kami yang ruwet, Ego dan Alina dengan hasil rekamanannya itu—di luar sadarnya—masih punya peluang untuk bercanda. Benar-benar sandiwara radio yang mengasyikkan. Syukur, bahwa saya masih punya dua orang anak itu. Sedikit banyak dapat meringankan beban saya dalam mengatasi pertengkaran yang tak habisnya antara Putri versus Ibunya.

Dalam perjalanan pulang—dengan pesawat terakhir Semarang-Jakarta—adegan-adegan peristiwa rumah tangga kami berseliweran di lorong-lorong kabin. Tampak Istri saya dalam bulan ketiga mengandung Putri, penuh kecemasan berpamitan pergi ke Yogya menengok orangtuanya, saya lepas di bandara Soekarno-Hatta. Tapi ternyata diam-diam dia membatalkan pesawatnya, dan ke Yogya dengan naik truk, mencangkung di bak belakang bersama barang-barang. Makin terpental-pental dia makin senang, supaya kandungannya gugur. Itulah tujuan utamanya kenapa naik truk.

Berapa sudah dokter dia hubungi. Berapa sudah dukun dia mintai jampi-jampi. Setiap saat sudah dia melompat-lompat kian-kemari. Tetapi kandungan itu tetap tegar, sebagai batu penunggu gunung, diam dan tak peduli. Banyak wanita menangis karena tak bisa mengandung, mencabik-cabik segala sesuatunya yang dia anggap baik miliknya, meminta kesaksian kepada siapa pun dan apa pun bahwa dia wanita yang cukup pantas untuk mengandung. Tapi cerita-cerita begini tak mampu mengurungkan niat buruk Istri saya. Makin dilarang, tambah garang. Tiba-tiba saja Istri saya berubah jadi orang lain jika mulai bicara tentang kandungannya yang cuma jadi beban. Apakah Istri saya tidak memiliki harkat seorang ibu?

Menjadi tanda tanya yang membuat saya getol mengejar-ngejar para psikolog, ketika dihadapkan kepada teka-teki, kelakuan Putri yang seperti itu apakah akibat ulah Ibunya yang ingin menggugurkannya, ataukah justru Ibunya tahu bahwa Anaknya kelak akan menjadi musuhnya, karena itulah dia bernafsu menggugurkannya. Ini barangkali suatu rumusan yang cukup menarik untuk dilihat lebih dalam, apakah di antara sela-sela itu semua dapat diintip secara jelas, takdir menggeletak di sana.”

“Dua kesalahan telah kamu lakukan,” kata saya kepada Istri setelah makan malam, begitu tiba kembali di rumah. “Kamu memaksa Anakmu dan kamu tidak berunding dengan saya.”

“Tetapi aku Ibunya dan aku adalah Istrimu. Suaraku suaramu,” jawab Istri saya tanpa beban.

“Persoalannya tidak semudah itu,” kata saya dengan putus asa.

Apa yang sebenarnya terjadi dengan Istri saya? Mengapa dia bisa begitu kejam? Ke mana sifatnya yang baik yang meski tinggal sedikit itu? Secuil pun tak ada yang tersisa? Dia ini Istri saya atau bukan? Ngeri sekali saya mendengar hasil rekaman sadapan Ego dan Alina itu. Namun ternyata keadaannya lebih serem lagi setelah saya berhadapan dengan biangnya. Istri saya, Istri saya, mau kamu ke manakan saya jika kamu ternyata perempuan semacam itu? Mengapa Anakku menilai Ibunya seganas itu? Ini cercaan yang sangat berlebihan.

“Pokoknya Putri harus menurut. Undangan perkawinan sudah saya sebar.”

“Kamu sinting, Istriku.”

“Kamu persis Anakmu.”

“Tidak ada asalan apa pun dari siapa pun, bahkan dari orangtuanya, untuk memaksa-maksa anaknya kawin dengan cara semacam ini.”

“Kalian memang berdalih. Tapi dalihku paling sahih. Demi penyelamatan Putri, aku bertindak cepat.”

“Dosa apa kamu, kenapa kamu jadi begini.”

“Siapa berdosa terhadap siapa?”

“Istriku. Kamu tidak tersesat, kan!”

“Siapa tersesat terhadap siapa?”

“Kita ini makin tua makin tidak tahu juntrungan.”

“Jangan mengeluh.”

“Mengeluh sangat baik untuk membuat kita sadar.”

“Sebelum kamu sadar, aku telah bertindak.”

“Tindakanmu itu harus saya gagalkan.”

Saya tidak tahu apa pikiran Istri saya tentang kemungkinan usaha saya untuk menggagalkan undangan yang sudah disebarkan itu. Saya juga tidak tahu bagaimana caranya. Boleh jadi saya harus menelepon satu-persatu teman-teman yang barangkali saya sudah menerima undangan itu. Ratusan jumlahnya, apakah saya tidak teler.

“Saya minta Mas Prapto menganggap undangan itu tidak pernah ada,” tutur saya lewat telepon kantor kepada seorang teman yang sudah menerima undangan perkawinan itu.

“Lho, bagaimana to, Dik. Barusan istrimu menelepon kemari mengatakan bahwa siapa pun yang mencoba membatalkan undangan perkawinan Putri dengan Ponto harus dianggap sebagai penjahat. Lha kok ternyata yang membatalkannya Suaminya sendiri. Saya sekarang jadi bingung lho, Dik. Yang mana yang benar. Barangkali saya bisa membantu, Dik?”

“Benar! Mas Prapto harus membantu saya!”

“Saya siap, Dik.”

“Mas Prapto ….”

“Ya? Hallo? Hallo?”

Saya merasa melayang. Saya limbung dan terjatuh dari kursi. Saya terlentang di lantai. Gagang telepon terpelanting. Hanya suara Mas Prapto sayup-sayup lewat gagang telepon memanggili nama saya. Begitu saya terbangun, bayak orang mengerumuni saya. Istri, Ego, Alina, Mas Prapto, Bu Prapto, Cippink dan suami serta anaknya, Mbak Elly, Ratni, Eva, Sutera Dara, Taufiq, Ati, Mas Oyik, Hamsad, Kris, Mala, Yusuf, dan masih beberapa orang lagi. Ya, saya dirawat di rumah sakit. Semuanya menjadi asing. Apakah saya benar-benar sakit? Betapa lemah saya. Seperti pohon yang sudah lapuk.

Hari yang mendebarkan itu pun tiba. Tamu berbondong-bodong datang untuk ikut bergembira bersama Putri dan Ponto. Gending Kebo Giro menyambut tamu-tamu itu. Tidak ada orang yang begitu berbahagia seperti Istri saya. Dengan kain kebayanya batik serba merah, berselendang lebar panjang berwarna oranye, dia menyambut tamu-tamu seolah bagi dirinya. Setiap saat dia membagikan senyum kepada yang datang maupun yang sudah lama duduk. Sementara itu saya setiap saat bergegas untuk menengok Putri di kamar riasnya, sedang didandani Roro Maruti, perias pengantin yang terkenal itu. Anak yang merepotkan orangtuanya ini tampak cukup anggun untuk menjadi pengantin. Dia tidak berkata sepatah pun, meski kepada Ayahnya, yang selalu berdiri di dekat cermin memperhatikannya.

“Kamu cukup anggun, Putri,” kata saya sambil memegang tangannya. Dia diam saja. Air mukanya tak berubah. Dia menatap cermin terus-menerus, meski saya rasa dia tak melihat apa-apa. Suasana meriah sedikit pun tak mempengaruhinya. Sekali-kali Ego dan Alina menggodanya, tapi dia tetap tak bergeming. Biarpun begitu saya merasa mantap melihatnya, barangkali karena suasana yang menyenangkan ini menopangnya. Sementara itu karawitan lengkap—gamelan dan niyaganya—sumbangan Mas Prapto, menghidangkan gending Wigaringtyas yang menyentuh.

Acara akad nikah yang digabung dengan pestanya, sudah siap memasuki waktunya ketika pengantin laki-laki, Ponton, anak seorang pengusaha, yang diantar para walinya, memasuki ruangan. Seksi repot pun menghubungi saya untuk memulai acara. Saya meminta mereka untuk memberi tahu Putri supaya bersiap-siap, sementara saya menemani Ponton dan para walinya. Suasana bertambah semarak. Para tamu mulai berdengung laksana kumbang, boleh jadi ramai berbincang tentang suasana politik yang paling akhir yang menjadi bahan pembicaraan di mana-mana. Akhirnya ketahuan bahwa tamu terlalu banyak, yang membuat saya merasa terdesak. Saya sendiri sebenarnya ingin sederhana saja. Tetapi Mas Prapto, yang sudah seperti saudara sendiri, menghendaki dibuat besar dengan ratusan tamu. Tentu saja Mas Prapto yang menjadi tulang-punggung dalam pesta perkawinan ini. Ketika pikiran saya melayang-layang itulah, mendadak lengan saya ditarik oleh salah satu seksi repot, ke kamar yang sepi, sambil melapor:

“Pak! Putri tidak ada!”

“Tidak ada bagaimana?” tanya saya gugup.

“Putri lenyap!”

“Mati aku!”

Lalu saya berlari mencari Istri. Ternyata dia sudah pingsan, ditunggui seorang dokter dan sejumlah ibu-ibu. Dengan berpegangan pada pundak Mas Prapto, saya dibimbing ke ruangan yang lain. Saya kembali limbung seperti ketika sedang menelepon Mas Prapto dulu. Lalu saya tak ingat apa-apa lagi.

Sementara Istri mampu bangun seketika setelah pingsan, saya justru harus masuk rumah sakit. Agaknya peristiwa kegagalan itu telah memukul saya dengan telak. Sungguh mengherankan bahwa Istri tidak menderita apa-apa, padahal dia sangat berkepentingan dengan perkawinan itu. Apakah ini menyangkut mental yang kuat atau kesehatan yang bagus, tentu hanya Istri saya yang bisa merasakannya. Saya bersyukur. Jika Istri saya yang ambruk, niscaya keadaan rumah tangga kami makin ruwet. Dalam keadaan terkapar sendirian di rumah sakit, saya masih merasa beruntung.

Istri yang setia mondar-mandir mengantarkan pakaian, sedikit pun tak mengeluh. Sedang Ego dan Alina yang sering menjenguk bersamaan, justru nampak terpukul. Keduanya menampakkan kesedihan. Tak banyak bicara, keduanya selalu mendesahkan nama Putri. Dalam, rasa penyesalannya. Yang saya ingin tahu, apakah keduanya merasa malu karena acara perkawinan yang gagal itu. Namun mereka mengelak untuk memberi jawaban. Boleh jadi, jika yang saya rasakan benar, kesedihan mereka jauh lebih menonjol.

Hari-hari di rumah sakit adalah hari-hari bersama para perawat. Hanya karena mereka penuh bakti, saya jadi sabar. Mereka juga suka bercanda yang membuat saya bisa tertawa. Ini semua sesungguhnya lebih ampuh bagi penyembuhan saya daripada obat-obat yang mahal itu. Saya lalu mengirimkan kue-kue yang saya pesankan khusus dari Mbakyu Prapto. Sekali lagi keluarga Mas Prapto, sungguh hadir berjajar mewarnai keluarga kami.

Hari-hari yang melelahkan saya pikir sudah berakhir ketika tiba-tiba Istri, Ego, dan Alina datang dengan berlinang-linang air mata mengabarkan bahwa Putri meninggal dunia karena serangan jantung. Seketika saya terkapar kembali. Rasanya penyakit makin menggerogoti tubuh saya, hingga tak ingin lagi saya membuka mata. Saat ini sungguh habis-habisan. Apa yang dapat saya harapkan lagi. Rasanya semuanya sudah diambil dari saya. Tak ada yang tersisa lagi.

Dengan dipapah Mas Prapto, saya menghadiri penguburan Putri. Yang mengantarkannya cukup banyak. Tubuh Putri yang ditutup rapat dalam puti mati, masuk liang lahat dengan mulus. Mengapa anak saya begitu cepat mendahului saya. Putri, Putri, keapa kamu tidak pernah bilang bahwa kamu mengidap penyakit jantung. Kenapa kamu harus masuk peti mati, hingga siapa pun cuma bisa memandangmu, saya pun tak bisa mencium keningmu untuk terakhir kalinya.

Dalam keadaan tak punya semangat lagi untuk hidup, saya memejamkan mata dalam-dalam mencoba meraih pengertian dari langit, seseorang membetulkan selimut saya. Lalu saya buka mata dan terkejutlah amat-sangat.

“Ayah! Ini adalah Putri yang sesungguhnya. Bukan mayat, bukan pula hantu,” kata Putri dengan wajah yang tak berubah. Lalu dia mendekap tubuh saya erat, mencium kening, yang membuat saya menangis sejadi-jadinya. Dia pun berkata:

“Pematung hiper-realis yang membuat patung jenazah saya itu sudah saya cekik. Ia melolong-lolong minta ampun. Sekarang ia saya perintahkan membuat patung jenazah Ibu.”

Kyoto, 11 Juli 1990

Advertisements

One thought on “Cerpen Danarto, “Matahari Melahap Madu” (Matra, September 1990)

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s