Membaca Cerpen César Aira, “Picasso” (The New Yorker, 11 Agustus 2014)

Bagaimana jika ada jin muncul di hadapanmu dan menyuruhmu memilih satu di antara dua, dan kedua pilihan itu sama-sama dapat memenuhi aspirasimu?

Situasi itu terjadi dalam cerpen “Picasso” karangan César Aira yang terjemahan versi bahasa Inggrisnya oleh Chris Andrews termuat dalam The New Yorker edisi 11 Agustus 2014. Cerpen ini lebih berupa lika-liku pemikiran seseorang yang dihadapkan dalam suatu situasi dan ia mesti mengambil keputusan, ketimbang serangkaian kejadian yang saling berkait dengan unsur-unsur fiksi selazimnya. Cerpen ini bahkan tidak mengandung dialog. Tokohnya paling-paling si “aku” dan si jin–yang sama sekali tidak ditampilkan berbicara secara langsung. Kalaupun ada sosok-sosok lainnya, mereka cuma figuran atau kelebatan dalam benak si “aku”. Membaca cerpen ini serasa menempatkan diri dalam suatu situasi pelik yang ajaib–apa pun itu terserah dikarang sendiri saja yang penting ajaib–lalu menulis berlembar-lembar catatan harian untuk mencari pemecahannya tanpa meluputkan unsur jebakan, yang menurut si “aku” mesti ada dalam karangan.

Dalam cerpen ini, si tokoh dihadapkan pada pilihan: memiliki lukisan Picasso atau menjadi Picasso? Pilihan itu diajukan oleh jin yang muncul sekonyong-konyong dari botol susu yang ia beli. Ia baru keluar dari Museum Picasso dan merasa sangat tergugah seakan-akan tak ada hal lain yang dapat memikatnya lebih daripada kunjungan itu. Ia sangat mengagumi Picasso dan menganggap tidak ada tokoh lain di dunia yang sebanding dengan sang pelukis ulung dari Málaga.

Sebagian orang mungkin berpikir: Mudah saja, jadilah Picasso dan dengan begitu kita bisa membuat lukisan Picasso sebanyak yang kita mau dan menjualnya dan jadi kaya. Tetapi, jalan pikiran si “aku” rupanya tidak sesimpel itu. Pemikirannya bahkan dapat mengajak kita untuk turut berpikir filosofis akan diri kita sendiri: Maukah kita menyerahkan diri kita begitu saja untuk menjadi orang lain, meskipun dia orang yang sangat hebat, dan pastinya memiliki permasalahannya sendiri namun toh tak akan seberat yang kita alami?

Dalam pemikiran si “aku” pun terasa adanya kesadaran bahwa orang tidak perlu meraup yang setinggi-tingginya jika yang sederhana saja–yang sesuai dengan keperluan saja–cukup.

Sejak mula–ketika jin mengajukan kedua pilihan itu padanya–si “aku” langsung teringat akan cerita-cerita tentang “tiga permintaan”. Ia telah belajar bahwa sifat tamak dan sikap gegabah akan membawa manusia pada penderitaan. Ia pun menyadari bahwa dirinya tengah berada dalam situasi persis seperti dalam cerita-cerita tersebut, dan dalam karangan selalu ada jebakan. Oleh karena itu, ia mempertimbangkan dengan hati-hati tawaran si jin hingga separuh cerpen ini … hingga ia memutuskan ….

Paruh berikutnya menceritakan konsekuensi atas keputusan si “aku”. Di sini ia mengajak kita untuk mengenal lebih dalam dunia Picasso, bukan saja yang terdapat di permukaan, tetapi juga yang berada di baliknya dan membutuhkan interpretasi; teknik melukis, permainan bahasa, bahkan sekelumit sejarah.

Akan tetapi, sekalipun si “aku” sudah menginsafi situasi yang tengah dialaminya, ia tak luput dari jebakan. Bagaimanapun juga, ia sendiri tokoh dalam cerita. Maka, setelah menyasarkan kita dalam labirin pemikiran si “aku”, cerpen ini tidak hanya membentuk “kebulatan”*, tetapi juga merupakan metafiksi.

Jika kita menelusuri lebih lanjut tentang Aira maupun Picasso, dapat disimpulkan bahwa si penulis cerpen tak ubahnya sang pelukis ulung. Mereka sama-sama frenetic (lebih sophisticated ketimbang prolifichuh?); telah menghasilkan karya yang berlimpah ruah. Dari beberapa ulasan mengenai Aira, tampaknya konten dalam karya-karyanya sangat beragam dan fantastis–seperti deskripsinya terhadap lukisan Picasso saja: it was a chaos of dislocated figures. Maka timbul dugaan: Jangan-jangan melalui cerpen ini César Aira hendak mengungkapkan sumber inspirasinya dalam berkarya. Hanya saja, jika Picasso menuangkan seninya melalui lukisan dan berbagai bentuk seni rupa lain, maka Aira menggunakan kata-kata yang hasilnya berupa novel-novel pendek, cerpen, esai, dan terjemahan.

* Istilah yang biasa kami gunakan secara tidak semena-mena untuk mengomentari cerita yang awalan dan akhirannya nyambung ….

Advertisements

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s