Membaca Penggalan Novel Saud Alsanousi, The Bamboo Stalk (Words Without Borders, Juli 2014)

Dikisahkan bahwa pada suatu malam si narator hendak menukar tabung gas ke pasar induk. Ia naik taksi dan terjebak dalam kemacetan di Jabariya. Jabariya itu nama kawasan ramai di Kuwait, salah satu negara di Timur Tengah. Rupanya ada razia. Namun, ketika diminta menunjukkan kartu identitas, si “aku” menyadari bahwa dia lupa membawa dompet. Dia pun dibawa ke kantor polisi bersama beberapa orang lainnya yang terjaring. Para korban razia itu rata-rata imigran, mulai dari Arab, India, Bangladesh, sampai Filipina.

Dalam perjalanan menuju kantor polisi, terjadi percakapan antara si “aku” dan dua orang perempuan dari Filipina. Perempuan yang satu masih muda, sedangkan yang lainnya sudah tua. Rupanya si perempuan muda sudah berpengalaman kena razia. Dia bahkan mengungkapkan bahwa dirinya sering membayar izin tinggal secara “gelap-gelapan” kepada para polisi bejat. Adapun si perempuan tua baru kali ini tertangkap dan ketakutan, sama halnya dengan si “aku”.

Saat itu akhir pekan dan di kantor polisi tidak ada petugas yang berwenang. Maka si “aku” pun terpaksa menginap di tahanan hingga akhir pekan usai. Pada malam-malam yang tidak menenteramkan itu, si aku mendengar, di sel lain, si perempuan tua memohon-mohon pada penjaga tahanan agar dibebaskan. Selain itu, dia menyaksikan kebenaran perkataan si perempuan muda sewaktu di van. Ketika para tahanan yang lain sedang tertidur, si penjaga menjemput si perempuan muda dan entah ke mana mereka seterusnya.

Cerita ini dipublikasikan di Words Without Borders edisi Juli 2014: “Migrant Labor”, dan ternyata merupakan penggalan novel. Pantas saja. Jika kita membaca cerita ini tanpa mengetahui tentang itu sebelumnya, mungkin bakalan terlintas dalam pikiran kita: Siapa Bibi Hindun? Khoula? Ghassan? Nama-nama itu muncul selewat saja dalam narasi si “aku” tanpa mengambil peran signifikan. Selain itu, si “aku” sempat mengatakan bahwa dirinya orang Kuwait yang tidak mirip orang Kuwait.

Setelah menelusuri lebih lanjut tentang teks ini dan membaca sinopsis novelnya, teranglah bahwa si “aku” ternyata anak dari seorang pemuda Kuwait dan pembantunya yang berasal dari Filipina. Si “aku” yang masih bayi dan ibunya kemudian “dipulangkan” ke Filipina karena orang tua si pemuda tidak merestui hubungan tersebut. Nah, setelah beranjak dewasa, si “aku” pun kembali ke negara ayahnya untuk mencari jati diri dan menghadapi berbagai masalah menyangkut identitasnya. Mungkin karena itulah novel ini dijuduli The Bamboo Stalks–batang bambu–tanaman adaptif tanpa akar yang dapat tumbuh di mana saja (menurut situs ini).

Terlepas dari tidak utuhnya konteks dalam penggalan ini, situasi yang disuguhkan saja sudah cukup menarik, khususnya bagi pembaca Indonesia–saya kira. Kita tahu negara kita pun “mengimpor” banyak tenaga kerja ke negara-negara Timur Tengah, yang mana Kuwait termasuk di antaranya. Adakalanya kita mendengar atau membaca berita tentang TKW yang pulang dalam kondisi babak-belur, hamil, bahkan meninggal dunia. Oleh karena itu, saya merasa dapat sedikit bersimpati terhadap cerita ini.

Tidak heran jika novel ini dianggap kontroversial. Penulisnya berani mengungkapkan fenomena yang barangkali enggan diakui oleh masyarakat itu sendiri*. Meski begitu, novel ini toh mendapat penghargaan International Prize for Arabic Fiction pada 2013 serta Kuwait State Appreciation and Encouragement Award, yang menunjukkan bahwa mata masyarakat Arab mulai terbuka akan isu yang diangkatnya. Mudah-mudahan tidak ada lagi kabar tentang perlakuan tidak semena-mena terhadap TKI kita di negara-negara sana.

*Bukankah ini semestinya tugas pengarang? Inspiratif, bukan? Baca deh wawancara dengan Saud Alsanousi di sini untuk inspirasi lebih.

Advertisements

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s