Mengubah Cara Membaca

Dulu, seperti banyak orang, saya berusaha untuk membaca buku sebanyak-banyaknya, dan menuliskan pembacaan saya di blog (atau, bahasa bekennya sih: ngereview). Tetapi kemudian sampailah saya pada suatu titik ketika saya merasa semua itu tidak ada gunanya dalam kehidupan nyata, dan daya tangkap saya terhadap bacaan pun kian biarpet. Sering kali pembacaan saya hanya sekadar menyapu kata demi kata, dari halaman awal hingga akhir–asal tamat–tanpa benar-benar memahami maksudnya, dan ketika menutup buku benak saya bak disaput halimun.

Tetapi, saya tidak bisa berhenti membaca sama sekali. Kalau bukan buku, saya membaca cerita-cerita di internet, atau majalah … lalu kembali lagi ke buku, meski dosisnya berkurang.

Lalu saya berpikir bahwa saya perlu memperbaiki pembacaan saya; mengesampingkan kuantitas dan memajukan kualitas. Barangkali saya perlu membaca dengan lambat, sembari membuat catatan, dan ketika pembacaan selesai–seperti biasanya–saya membuat jurnal, merefleksikan kandungan buku itu pada diri pribadi saya–minimal satu halaman buku tulis–dan tidak harus dipajang di blog seperti sebelumnya. Lagi pula menulis jurnal pembacaan sudah menjadi pembiasaan sejak SMA, sehingga rasanya tidak afdal ketika sehabis membaca buku lalu tidak menulis tentang itu biarpun hanya untuk diri sendiri. Menulis jurnal juga menjadi cara untuk menguji pemahaman akan bacaan (dan karena itu saya sering malu untuk memperlihatkannya; isinya paling-paling kesan yang sangat personal lagi subjektif sekali, dan malah melantur ke mamana … tidak berhubungan lagi dengan bacaan).

Betapapun jua, hasrat untuk berbagi masih ada, tanpa peduli akankah ada orang yang mengaksesnya; yang penting saya sudah menyampaikannya di tempat umum, atau istilah lumrahnya, media sosial, dan berharap saja akan ada orang yang kesasar ke situ.

Maka, saya pun mencoba cara-cara berikut.

Memperluas topik bacaan

Jika sebelumnya saya menggandrungi fiksi, dan sesekali saja nonfiksi seputar sastra, jurnalistik, agama, dan sebagainya, belakangan saya berusaha untuk membaca lebih banyak nonfiksi terutama tentang agama (supaya tidak tergolong Jamaah Alkatepewiyah), sejarah (karena ibu saya mengoleksinya jadi sayang kalau tidak dimanfaatkan menarik mengetahui cara manusia mengatasi kehidupan sejak awal penciptaan hingga sampai pada keadaan sekarang), dan topik-topik menyangkut “kecakapan hidup”. Saya juga berusaha menyisihkan waktu untuk membaca koran karena kadang kala ada hal menarik yang kita bisa ambil dari situ, untuk digunting, disimpan, dan dibaca lagi kapan-kapan (Pinterest analog, yeah).

Membuat blog kutipan

Sering kali saya membaca suatu teks dan hanya menangkap kalimat-kalimat tertentu alih-alih intinya secara keseluruhan, dan, sebetulnya, saya belum tahan memperlambat kecepatan membaca, atau membaca ulang hingga berkali-kali, apalagi mesti disambi membuat catatan. Maka, jika saya belum bisa menyampaikan kembali maksud teks secara keseluruhan, boro-boro analisis atau tanggapan kritis, saya kutip saja bagian yang mengena itu dan mengumpulkannya dalam suatu wadah–sekalian menjadi kotak memori.

Membuat blog terjemahan

Setelah beberapa kali mencoba, saya menyadari banyak sekali manfaat menerjemahkan, di antaranya, ya, dapat menangkap maksud teks secara mendingan. Menerjemahkan terasa seperti membaca sekalian menulis–sambil menyelam minum air. Ketika saya jenuh membaca dan menulis, menerjemahkan seakan menjadi solusi. Maka, dibuatlah blog yang khusus menampung hasil percobaan saya, supaya saya merasa perlu untuk terus memperbaruinya secara berkala, ya, dengan tidak putus menerjemahkan.

Membuat blog apresiasi cerpen Indonesia ramai-ramai

Menulis review buku di blog itu biasa … banget, bahkan ada komunitasnya. Tetapi, menulis review cerpen, cerpen Indonesia pula, di blog? Saya kira jumlah pelakunya tidak sebanyak reviewer buku. Padahal cerpen panjangnya jauh lebih singkat ketimbang novel, sehingga dapat menjadi bahan yang praktis dalam pembelajaran sastra. Yah, kita tahu apresiasi sastra di Indonesia tidaklah sesemarak di Barat. Kalau kita googling satu saja judul cerpen lawas Barat, sebutlah “Miss Brill” dari Katherine Mansfield, atau “Popular Mechanics” dari Raymond Carver, kita akan menemukan banyak blog yang mengulasnya. Blog bule yang rajin membahas cerpen di antaranya The Mookse and the Gripse, The Sitting Bee, dan Great Writers Steal. Mengapa tidak, kita mencoba seperti mereka–belajar dari cerpen–cerpen produk negeri sendiri pula? Terinspirasi dari penemuan itu, tercetuslah gagasan blog yang khusus memajang review cerpen Indonesia–ditulis dalam bahasa Indonesia dan oleh penulis Indonesia. Proyek ini mula-mula dijalankan oleh tim yang notabene anggota Kemudian.com dan bercita-cita merangkul kontributor serta pengurus dari mana saja–terbuka bagi khalayak seluas-luasnya. Berkat kerja tim, blog ini dapat memperbarui kontennya secara reguler hingga–sebagaimana lazimnya terjadi pada gagasan apa pun yang tampak “wah” pada awalnyaaa–mandek setelah beberapa bulan.

Mengetik ulang teks dari media cetak

Niat saya semakin kuat setelah membaca artikel di Pikiran Rakyat, edisi Minggu, 13 Desember 2015, tentang aksi Ngetik Keroyokan. Aksi tersebut berupa mengetik ulang teks dari buku cetak untuk dijadikan bahan membuat buku braille. Kebetulan di rumah saya ada tumpukan majalah lawas yang memuat cerpen-cerpen karangan penulis besar seperti Danarto, Putu Wijaya, Leila S. Chudori, hingga George Bernard Shaw, Pearl S. Buck, dan William Faulkner. Saya kira pencinta sastra akan tertarik membacanya dan, barangkali, ada yang hendak membraillekannya. Maka, sudah beberapa minggu ini secara reguler saya mengetik ulang cerpen dari majalah lawas itu dan mengirimkan drafnya ke suatu situs yang misinya mengarsipkan karya sastra Indonesia dari media cetak. Inisiatif ini pun tidak akan muncul tanpa membaca posting-an di blog pengurus situs tersebut, yang memberitahukan bahwa cerpen lawas hendak dipajang juga di sana. Sambil mengetik cerpen–cerpen itu, saya sekalian mengikuti jalan ceritanya … untuk pertama kali. Soalnya, jika tidak disambi begitu, belum tentu saya menyempatkan diri untuk membacanya.

Membaca audiobook

Lagi-lagi supaya sambil menyelam minum air. Daripada pikiran tidak produktif saat menyapu, mengepel, menyiram tanaman, menjahit, dan sebagainya, mending diisi dengan pengetahuan dari buku. Caranya, ya, dengan mendengarkan audiobook. Ada beberapa situs di internet yang menyediakan audiobook dan bisa diunduh secara cuma-cuma. Tidak saja melatih kemampuan mendengarkan (atau berkonsentrasi), jika audiobook yang didengarkan berbahasa Inggris (atau bahasa asing lainnya yang sedang dipelajari), kita bisa sekalian menguji perbendaharaan kata dan pemahaman. Akan lebih baik jika tersedia pula versi teks (misalnya epub) dari audiobook tersebut, sehingga pada waktu senggang kita bisa membandingkan keduanya dan mencari tahu sekaligus mempelajari pengucapan kata-kata asing yang tidak dimengerti saat hanya didengarkan.

Membagi waktu antara membaca teks dan membaca yang lainnya

Membaca tidak mesti berhubungan dengan teks. Menurut Kamus Besar Bahasa Indonesia, membaca dapat berarti mengetahui, meramalkan, memperhitungkan, dan memahami dalam konteks yang umum, misalnya saja membaca garis tangan untuk mengetahui peruntungan atau membaca permainan lawan untuk memperhitungkan strategi. Umat Islam pun mengenal adanya ayat qauliyah (sebagaimana yang tersurat dalam Alquran) dan ayat kauniyah (yaitu yang tersirat pada segala ciptaan Allah berupa alam semesta dan isinya). Ayat pertama Alquran yang turun memerintahkan agar manusia aktif membaca kedua tipe ayat tersebut. Dalam praktiknya, cara ini bisa dilakukan dengan meletakkan buku sejenak, memerhatikan keadaan di sekitar, berjalan-jalan sambil terus mengamat-amati, dan … berbuatlah sesuatu, agar pikiran seimbang dengan tindakan. Terlalu banyak berpikir dan terlalu sedikit bertindak membikin kita makin terasing dari kenyataan dan tidak akan mengubah apa-apa selain, mungkin, memperburuk kesehatan mental, bukankah begitu? Dengan cara ini pula hidup dapat berarti membaca sepanjang waktu.

Dengan cara-cara tersebut, saya merasa kebiasaan membaca jadi lebih berdaya guna sementara kemampuan menulis (atau sekadar mengetik cepat-cepat) tetap terasah. Saya menyadari bahwa pada dasarnya saya senang membaca dan menulis, meski sering kali tidak memahami apa yang dibaca sementara apa yang ditulis tidak jelas baik struktur maupun intinya. Tetapi, seperti kata-kata mutiara di bawah halaman buku tulis, It’s never late to learn (though sometimes we learn when it’s too late–and it’s been more than a decade, actually). Maka, seperti yang dianjurkan Rumah Sakit dalam “Untuk Semua”, saya pun bersyukur kau (saya) masih berjiwa (literer), di samping terus berusaha menyeimbangkannya dengan berbagai aktivitas fisik. Alhamdulillah, ya.

diperbarui: 20160213

Terima kasih kepada Arip yang lagi-lagi menambah ilham.

 

 

Advertisements

9 thoughts on “Mengubah Cara Membaca

  1. Seringnya, saya membaca ya untuk menghabiskan waktu sih, menikmati cerita, meski untuk sekarang, karena (sialnya) punya ambisi ingin jadi pengarang, nampaknya kenikmatan membaca saya tak lagi seperti sedia kala. Selalu muncul tuntutan-tuntutan dalam diri: baca penulis ini, setelah baca harus ada yg bisa dipetik, dan lainnya. Sampai ada pikiran untuk mengikuti langkahnya Orhan Pamuk: mengurung diri agar rakus membaca.

    Liked by 1 person

    1. Iya, ya, kesenangan, jika diseriusi, rasanya malah jadi enggak menyenangkan lagi. Di situ kita jadi belajar tentang pilihan, fokus, disiplin, dan tanggung jawab. Sebetulnya saya juga lagi belajar mengubah mindset bahwa membaca enggak mesti lewat teks, tapi bisa juga dengan merenungkan berbagai kehidupan lain di luar sana. Saya terharu juga sih membaca kisah hidup Orhan Pamuk, “pengorbanan”nya berbuah manis.

      Like

      1. Tah itu maksudnya, hehehe, pinter uy, agamanya ponten sepuluh yah ^^ Saya juga udah enggak kuat baca lama-lama, tapi enggak apa-apa lah, ya, kan banyak lagi aktivitas lainnya yang enggak kalah penting *inget lantai udah lama enggak dipel

        Like

    1. Hai Alan Wafer, terima kasih, ya, sudah meninggalkan jejak di blog ini. Salam kenal 🙂

      Dulu juga saya enggak pernah kepikiran buat nerjemahin, tapi begitu nyoba malah keterusan. Soal minat dan kemampuan mungkin emang ada waktunya masing2.

      Like

  2. matur suwun buat referensinya, ya, kak. sebelumnya saya pun terobsesi ingin baca buku sebanyak-banyaknya dan kalau bisa buat review. sayangnya, kemudian saya sadar terkadang apa yang saya baca sekedar membaca saja tanpa ada jeda sejenak untuk merenungkan kisah di dalamnya. dan kayaknya itu bukan kebiasaan yang baik untuk diteruskan.

    ngomong-ngomong, boleh tahu alamat situs tempat kakak mengirimkan draft ngetik ulang cerpen untuk diubah ke huruf braille? saya coba cari link2nya di google belum ketemu.

    Like

    1. Halo Mei, salam kenal, ya. Terima kasih sudah mampir kemari 🙂

      Untuk yang braille, mungkin bisa coba googling Fellowship of Netra Community (Fency) dan Ngetik Keroyokan. Menurut koran yang saya baca, mereka biasanya ngadain aksi di mal-mal di Jakarta/Bandung.

      Kalau situs tempat saya ngirim draf cerpen sih, kayaknya belum tentu akan diubah ke huruf braille, hehehe.

      Like

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s