Membaca Cerpen Charlotte-Arrisoa Rafenomanjato, “Omeo Zanako” (Words Without Borders, Desember 2015)

Karya sastra Madagaskar yang diterjemahkan ke dalam bahasa Inggris itu langka, bahkan bisa dikatakan tidak ada, hingga situs Words Without Borders menerbitkan edisi khusus negara itu pada Desember 2015, “Knowing the Unknowable: Writing from Madagaskar”. Demikian menurut editor tamu WWB untuk edisi tersebut, Allison M. Charette. Karya sastra Madagaskar umumnya ditulis dalam bahasa Malagasi (bahasa nasional negara itu) atau bahasa Perancis (bahasa negara yang pernah menjajahnya). Usut-usut, ternyata bahasa Malagasi termasuk rumpun bahasa Austronesia, yang mana bahasa Indonesia pun ada di dalamnya. Bahkan, nenek moyang penduduk Madagaskar ternyata berasal dari Indonesia! Jadi mestilah ada semacam rasa keterkaitan secara kultural antara kita dan negara itu.

Meski begitu, sebelum menelusuri kenyataan di atas, keterkaitan itu sudah dapat dirasakan saat membaca salah satu karya fiksi Madagaskar yang disajikan WWB. Pilihan saya jatuh pada “Omeo Zanako” karya Charlotte-Arrisoa Rafenomanjato karena panjangnya hanya sekitar 1.300 kata dan bahasanya mudah dicerna. Terjemahannya dalam bahasa Inggris bahkan menggunakan present tense. (Padahal lazimnya kita menemukan teks berbahasa Inggris dalam bentuk past tense.) Cerpen ini diterjemahkan dari bahasa Prancis oleh Sophie Lewis dan pertama kali dipublikasikan pada 2005 dalam buku berjudul Chroniques de Madagascar. Berikut ringkasan ceritanya.

Lehilahy bekerja sebagai tukang. Ia bangga akan profesinya itu begitu pula tanah airnya. Istrinya meninggal setelah melahirkan anak pertama mereka. Anak lelaki itu kemudian dinamai Ny Rako, yang berarti “darahku”.

Ny Rako anak yang unik; bersemangat, cerdas, rajin, sekaligus sangat menyadari hak-haknya. Ny Rako bercita-cita menyejahterakan ayahnya saat dewasa. Ia bersekolah dengan sebaik-baiknya, namun ayahnya sendiri khawatir karena tidak memiliki cukup uang untuk membayar pendidikannya–termasuk kelulusannya.

Ny Rako tidak lulus SD meskipun telah mengerjakan ujian dengan sungguh-sungguh. Ny Rako yang sedih pulang ke rumah namun dalam perjalanan ia tertabrak dan tewas. Lehihahy sangat berduka sampai-sampai tidak membiarkan orang lain menyentuh anaknya dan dokter mesti menaruh obat penenang dalam minumannya.

Begitu terjaga dan menyadari bahwa anaknya telah dikuburkan,  Lehilahy berkeluyuran dan menyayat lengannya sendiri. Dengan darahnya ia menulisi segala permukaan dengan “omeo zanako”–“kembalikan anakku”. Para tetangga mengumpulkan uang untuk membelikan dirinya cat merah dan mengatakan bahwa itu darahnya. Adapun penabrak anaknya selamat karena merupakan orang kaya dan berkuasa, sehingga yang ditahan malah orang lain.  

Cerita tentang orang miskin bernasib memilukan mungkin sudah sangat jamak, apalagi dalam kemasan satire yang gamblang. Malah jika ingin membuat cerita dewasa yang bernilai sastra, tulislah tentang orang miskin–demikian menurut A. S. Laksana dalam “Cerita untuk Anak-anakmu” (Murjangkung: Cinta yang Dungu dan Hantu-hantu, penerbit GagasMedia, Jakarta). Tokoh melankolis semacam ini juga seakan menjadi konten wajib dalam sinetron di negara kita.

Meski begitu, saya justru tertarik ketika menemukan keadaan serupa di negara lain. Misalnya saja dalam The White Tiger Aravind Adiga (edisi Indonesia diterjemahkan Rosemary Kesauly dan diterbitkan Sheila–imprint Penerbit Andi, Yogyakarta) yang berlatar di India. Seperti dalam “Omeo Zanako”, dalam novel itu pun ada bagian mengenai tabrak-lari-salah-tangkap. Lebih menarik lagi ketika belum lama ini saya mendengar kasus serupa terjadi di dunia nyata dan menimpa aktor kenamaan India–siapa pun yang pernah menonton Kuch Kuch Hota Hai pasti mengenalnya–Salman Khan. Dengan demikian membaca fiksi bukan sekadar soal orisinal-versus-klise lagi, melainkan refleksi atas fenomena di dunia nyata. Ketika isu ketidakadilan sedemikian banyak diungkapkan dalam karya fiksi, dunia macam apakah yang kita tinggali ini?

Saya telah membaca banyak cerita semacam ini (biasanya dimuat Republika) dan tetap saja merasa sedih. Bahkan, saat pertama kali membaca “Omeo Zanako”, saya merasa merinding–lebih karena sedih ketimbang seram. Bagaimanapun penyampaiannya, entahkah lurus-lurus saja sehingga bagi sebagian orang mungkin membosankan, atau kocak, unik, dan segar seperti dalam The White Tiger, esensinya toh cerita sedih, atau, mungkin, lebih tepatnya: refleksi atas realita yang menyedihkan.

 

Advertisements

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s