Terjemahan Dongeng Novianita, “Kendi di Depan Rumah”/”Jug in the Front Yard” (Kompas Klasika, 31 Januari 2016)

Untuk mengasah kemampuan berbahasa Inggris secara tertulis, saya mencoba menerjemahkan tulisan dari bahasa Indonesia ke bahasa Inggris. Cerita anak dipilih sebagai bahan belajar karena bahasanya sederhana. Penyajiannya di blog ini–yang berselang-seling antara teks sumber dan sasaran–terinspirasi dari blog Raysa Prima. Terjemahan ini pastinya tidak luput dari kesalahan. Saya sangat terbuka dan berterima kasih apabila ada pembaca yang berkenan memberikan saran.

Kendi di Depan Rumah

Jug in the Front Yard

Penulis : Novianita

Writer : Novianita

“Bima, kendinya sudah kamu isi?” tanya eyang dari depan pintu kamar Bima.

“Bima, have you filled the jug?” asked Eyang[1] in front of Bima’s bedroom door.

Bima meletakkan novel, lalu beringsut dari tempat tidur. “Belum Bima isi, Eyang. Paling, masih ada.”

Bima put his novel, then moved slowly from the bed. “I haven’t filled the jug yet, Eyang. I guess there’s still some water in it.”

“Kalau kendi itu kosong, kasihan orang-orang yang kehausan.”

“If the jug is empty, poor those who are thirsty.”

Bima lalu menenteng ceret mungil keluar dari dapur. Setiap ceret berayun, sepercik air tumpah dari mulut ceret.

And then Bima carried a tiny jug out of kitchen. Every time the jug swung, a splash of water spilled from its mouth.

“Aduh, Bima. Sayang airnya. Banyak orang ndak bisa minum,” omel eyang.

“Oh, Bima. What a waste. Many people can’t afford drink,” grumbled Eyang.

Eyang menyediakan sebuah kendi besar lengkap dengan gelasnya di depan pagar rumahnya di Klaten, Jawa Tengah. Pedagang keliling atau siapa pun yang kebetulan lewat dan merasa haus bisa minum air dari kendi itu.

Eyang provides a big jug of water, completed with some glasses in front of her gate in Klaten, Central Java. Peddler or anyone who happens to pass and feels thirsty can drink water in it.

Sebelum dan sepulang sekolah, Bima harus memastikan kendi itu selalu terisi. Saat matahari sangat terik, kendi itu cepat sekali kosong karena banyak pedagang keliling yang minum air.

Before and after school, Bima has to make sure that the jug is always filled. When the sun is very hot, the jug is quickly empty since many peddlers drink the water.

Keesokan hari saat pulang sekolah. “Panas sekali hari ini,” gumam Bima yang kehausan. Sayangnya, bekal air minum di botol sudah habis. Lalu, ia melihat teman-temannya mengerumuni para penjual minuman dingin di depan sekolah. Bima hanya bisa menatap kepingin karena tidak berbekal uang.

The next day after school. “It’s hot today,” mumbled Bima, who was thirsty. Unfortunately, he ran out of water in his drinking bottle. And then, he saw his friends was gathering around cold drink pedlars in front of the schoolyard. Bima could only stare in thirst because he didn’t bring any money.

Bima lalu bergegas pulang. Berkali-kali ia menjilati bibir karena menahan haus. Di tengah perjalanan, ia bertemu pedagang yang menarik gerobak penuh bertumpuk-tumpuk ember. Bibir si pedagang tampak kering karena terlalu lama menahan haus.

And then Bima rushed home. Many times he licked his lips, suffering thirst. On his way home, he saw a peddler pulling a cart filled with piles of buckets. The peddlar’s lips were dry for too long suffering thirst.

Bapak itu pasti haus sekali, batin Bima. Semoga dia lewat depan rumahku biar bisa minum dari kendi eyang. Eh, kendi eyang? Tadi pagi belum aku isi! gumam Bima.

That man must be very thirsty, thought Bima. I hope he will pass in front of my home so he can drink from Eyang’s jug. Ah, Eyang’s jug? I haven’t filled it up this morning! murmured Bima.

“Selamat siang, Eyang,” ujar Bima saat masuk ke rumah. “Bima haus. Bekal minum Bima habis,” katanya sambil menyambar segelas air yang disodorkan eyang.

“Good afternoon, Eyang,” said Bima, going into home. “I’m thirsty. My drinking bottle is empty,” he said, at the same time grabbing a glass of water Eyang gave him.

“Eyang, baru saja di jalan. Aku bertemu tukang ember. Sepertinya tukang ember itu haus sekali. Terus aku ingat. Tadi pagi aku lupa mengisi kendi,” ujar Bima.

“Eyang, I’ve just met a bucket peddler on my way home. He seemed very thirsty. And then I remember that this morning I forgot to fill the jug,” said Bima.

“Besok jangan lupa lagi, ya. Tadi sudah diisi Eyang Kakung sebelum ke kantor.”

“Then you must not forget tomorrow. Eyang Kakung[2] had filled it before he went to work.”

“Iya, Eyang. Bima janji ndak lupa lagi. Kasihan kalau ada pedagang kehausan. Bima saja haus sekali, padahal cuma bawa ransel. Pedagang itu bawa dagangannya berat sekali. Pasti lebih haus dari aku.”

“I promise, Eyang, I will not forget anymore. How pity the thirsty peddler. I felt very thirsty, though I carried mere backpack. While the peddler carried such heavy load. He must be thirstier than me.”

“Ya, itulah sebabnya Eyang menyediakan kendi. Biar mereka bisa minum gratis. Rumah ini punya air bersih yang melimpah agar Eyang bisa berbuat baik untuk mereka yang kehausan.”

“That’s way I provide the jug so they can have free drink. This home has abundance pure water, so I can be kindly giving some to the ones who feel thirsty.”

“Bima juga ingin berbuat baik,” sahut Bima penuh tekad.

“I want to be kind, too,” said Bima in determination.

Semenjak hari itu, Bima tidak pernah lupa mengisi kendi. Ia senang bisa berbuat baik untuk orang lain melalui sekendi air.

From that day on, Bima never forget to fill the jug. He is happy doing good thing for other people by a jug of water.

Dari Kompas Klasika, Minggu, 31 Januari 2016

From Kompas Klasika, Sunday, January 31, 2016

[1] (Java) term of address and reference for grandparent

[2] (honorific, Java) male

Catatan: Tradisi menaruh kendi di depan rumah ini pertama kali saya dengar dari dosen bertahun-tahun lalu. Sejak kecil, saya tidak pernah menemui tradisi itu di lingkungan perumahan saya di Jawa Barat, termasuk di tempat saudara saya di beberapa kawasan berbahasa Jawa, yang hampir semuanya berada di perkotaan. Maka ketika mengetahui adanya tradisi itu, dan mengingat betapa banyaknya pedagang keliling yang lewat di sekitar rumah sepanjang hari, saya merasa tersentil. Tradisi ini baik sekali, sehingga sayang karena tidak dilestarikan dan malah akibatnya terasa tidak lazim jika dilakukan.

Advertisements

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s