Tiga Cerita tentang Pengarang dari H. Misbach Yusa Biran: (2) Hadiah Lebaran

Seorang seniman haruslah seorang manusia yang merdeka. Bebas jiwa dan segala-galanya karena hanya dengan jiwa yang bebaslah seseorang baru mungkin bisa menciptakan sesuatu yang besar. Kata-kata itu sampai bisa saya hapal karena seringnya saya dengar dari kawan-kawan, seniman-seniman di Pasar Senen. Ditanya atau tidak, kalau pembicaraan sudah menyinggung soal pekerjaan, maka kalimat-kalimat itulah yang meluncur. Atau kalau ada yang baru tahu bahwa saya adalah seorang pegawai, kalimat-kalimat itu juga yang diberondongkan ke telinga saya. Meskipun sudah saya cegat lebih dulu dengan keterangan, bahwa saya bisa memahami kalau dia tidak bekerja. Tidak urung dia akan desak saya untuk mendengar kalimat-kalimat tersebut, agar saya betul-betul yakin bahwa menganggur bagi seniman adalah kewajiban yang sah. Jangan pandang rendah.

Memang kalau tidak menjadi pegawai, orang akan bisa bebas merdeka. Tidak ada yang memerintah. Tidak akan diburu-buru waktu. Tidak terikat oleh peraturan-peraturan birokratis yang memperkecil jiwa manusia. Boleh melamun semaunya. Tidak usah takut pulang kemalaman karena besok pagi boleh bangun pukul berapa maunya. Tidak akan ada yang memaksa, terserah kita mau bekerja atau tidak. Cuma, kalau tidak bekerja tentu tidak akan dapat gaji. Begitu pula hadiah Lebaran.

Beberapa malam sebelum Idul Fitri, baru saya tahu bahwa salah seorang teman karib saya semasa kanak-kanak di kampung termasuk juga salah seorang seniman yang tidak menerima hadiah Lebaran itu. Rusli namanya. Saya kenal dia sejak kanak-kanak benar, di Rangkasbitung. Saya kenal keluarganya. Kami satu sekolah dan pernah sama-sama bolos untuk belajar berenang di Kali Ciujung. Malah kalau mau pergi taraweh dia selalu saya samper. Tetapi ketika malam itu ia berdiri di muka saya, hampir tak bisa saya kenali. Mukanya pucat, matanya cekung. Terlalu sering begadang tentu, berdebat sampai pagi.

“Jadi, kau seniman, Rus?”

“Ya. Aku penulis sekarang …, maksudku aku penagrang,” jawab Rusli dengan tekanan-tekanan yang pasti.

“Mengarang apa?”

“Macam-macam,” jawabnya cepat. Lalu dipandangnya mata saya yang menunggu keterangan dia lebih lanjut. “Macam-macam. Tidak ada faedahnya buat kauketahui.” Saya mengangguk. Rusli senyum. “Bagaimana kabar kau, pegawai setia?”

“Biasa saja,” jawab saya sambil tetap terpikat pada keadaannya yang menyedihkan itu. Bajunya kumal.

“Apa ada kemajuan? Kapan pensiun?” tanya Rusli dengan nada olok-olok yang sudah saya kenal betul di Pasar Senen ini. Pertanyaan serupa itu tidak memerlukan jawaban.

“Kau tidak kerja lagi?” tanya saya. Rusli menggeleng ringan saja, serupa perempuan ditawari rokok. “Kenapa kau jadi seniman, Rus, kenapa?”

“Kenapa? Kenapa kautanyakan itu? Tiap manusia punya lapangan sendiri-sendiri. Ada bakatnya masing-masing. Kau tahu bakat?” tanya Rusli yang lebih dekat kepada membentak. “Kau tidak tahu, tentu. Menjadi pegawai tidak memerlukan bakat. Baiklah, tiap orang mempunyai lapangan dan daerah sendiri-sendiri. Ada yang lapangannya adalah memimpin, ada yang hanya cocok jadi budak, ada yang pantasnya hanya untuk menunggu pensiun.” Kata pensiun ditekankan Rusli hampir di muka saya. “Dan … jarang yang bisa dan berani menghadapi hidup ini dengan kekuatan sendiri, di atas kedua kakinya. Apa salahnya kalau aku bisa? Kau tak akan bisa mengerti. Kau tidak tahu apa artinya bakat! Ya ….”

Kata-kata Rusli terputus begitu saja sambil melihat ke kepala saya. Dan saya baru sadar bahwa rupanya waktu itu saya sedang menggaruk-garuk kepala. Alangkah panjang jawabannya. Saya hanya ingin tahu kenapa anak baik yang dulu kukenal benar di kampung itu kini jadi kusut begini. Tetapi dia jadi membentak-bentak saya di tengah Pasar Senen yang ramai. Ingin saya pergi saja, tetapi masih kangen. Setelah saya mengambil waktu sedikit dengan menoleh ke sana kemari, rupanya Rusli telah bisa tenang kembali. Ia minta rokok. Kebetulan ada rokok enak, maklum baru terima hadiah Lebaran. Cocok pula buat selera Rusli.

“Sehari sebelum Lebaran aku akan pulang ke Rangkas, Rus,” kata saya dan Rusli nampak jadi tertegun. “Lebaran yang lalu juga kau ‘kan tidak pulang?”

Rusli hanya menyeringai, buang muka. Kami sama-sama diam beberapa saat.

“Sebetulnya …,” kata Rusli tiba-tiba. “Ya, apa boleh buat …, sebetulnya aku pengin betul pulang.”

“Apa boleh buat bagaimana? Pulang saja! Kita berangkat sama-sama,” kata saya separo mendesak.

Rusli tidak langsung menjawab.

“Ayooo!”

“Pulang lebaran lain, kan,” jawabnya agak terlalu perlahan. “Ah, sudahlah! Rencanaku semuanya meleset. Aku harap tadinya bisa dapat uang dari majalah yang memuat tulisanku, tetapi, tjs baru bisa diambil habis bulan.”

“Kalau sekadar ongkos kereta saja bisa aku tolong,” kata saya.

Rusli hanya memandang saja pada saya.

“Kau tahu jumlah hadiah Lebaran sekarang ….”

“Ya, ya, aku tahu,” tukasnya. Diam sesaat, senyum tak enak. “Pulang Lebaran harus bawa apa-apa tentunya.” Rusli diam lagi, sangsi untuk bicara, tetapi harus mengucapkannya, “Aku punya celana yang masih baik satu. Tapi kalau kujual pakai apa nanti Lebaran?”

“O, jangan … jangan, jangan dijual! Lagi celana twedehan tak berapa harganya hampir-hampir Lebaran begini,” kata saya. Dia setuju. Saya sodorkan lagi rokok, lalu kami sama-sama berpikir mencari jalan.

“Apa kau kenal pada redaktur majalah Kancil?” tanyanya iseng.

“Majalah cerita anak-anak?” tanya saya kembali iseng-iseng pula.

“Ya!” jawabnya semangat. “Bisa minta persekot kalau kau kenal ….”

“Tidak,” jawab saya.

“Redaktur majalah …. Ah, mana pula kaukenal sama redaktur.”

“Kenal, Rus, tetapi redaktur mingguan, bukan majalah. Si Medi ….”

“Haaa?” teriaknya sampai saya terkejut. “Betul kau kenal dia?”

“Betul. Aku pernah indekos di rumah kakaknya …. Nanti, tahun berapa tu ….”

“Kau harus tolong aku!” potongnya sangat bersemangat.

“Tentu. Bagaimana?”

“Ini jalan yang kucari. Rasanya kita bisa pulang sama-sama. Kau tahu bagaimana?”

“Tidak,” jawab saya. “Itu yang aku tanya. Bagaimana?”

“Ya, begini …, aku punya cerita pendek. Kalau teman kau bisa tolong memuatkan, beres. Kita bisa pulang. Honorariumnya cukup untuk beli sekadar kue-kue, ole-ole,” tuturnya dengan lancar dan gembira.

“Aku antar besok, jangan khawatir.”

“Tapi besok kan kau kerja?”

“Ah gampang, aku bisa permisi sebentar. Bilang saja …, ah, gampang deh.”

Hari baru pukul sepuluh malam waktu itu, masih ada dua jam lagi untuk mencapai pukul dua belas, yakni saat yang saya rencanakan malam itu untuk pulang dan tidur. Kami habiskan waktu dua jam ini dengan cerita-cerita tentang masa kanak-kanak di kampung dulu. Kemudian kami bayang-bayangkan apa yang kami lakukan pada hari-hari Lebaran nanti. Sesudah sembahyang Ied ia akan menjemput saya di rumah nenek, lalu kami akan sama-sama menuju kebun ayahnya di Rumbut, lima kilometer dari kota. Dulu, kami sering ke sana pada bulan puasa untuk menunggu-nunggu sore. Sekarang kakek Rusli tinggal di situ, jadi sekalian famili akan tumplek ke sana. Mudah-mudahan kemenakan Rusli yang manis itu juga akan datang. Tentu yang belakangan ini tidak saya sampaikan pada Rusli, tetapi rasanya ia sudah maklum juga. Rencana perjalanan pada hari raya telah tersusun lengkap sampai jam-jamnya. Demikian pula apa yang akan kami lakukan pada beberapa hari setelah Lebaran karena saya masih akan tinggal agak seminggu di kampung, dapat perlop, dan Rusli telah memutuskan untuk terus tinggal di sana selama itu. Hari demi hari telah terisi dengan rencana-rencana yang serba asyik. Termasuk berlayar-layar dengan getek batang pisang, seperti yang pernah kami lakukan dulu. Walhasil asyiiik.

Besoknya saya bonceng Rusli ke kantor si Medi. Untung orangnya ada dan kantor lagi sepi. Biasanya penuh saja dengan kuncup-kuncup seniman yang bukan main bisingnya kalau ngobrol. Dengan begini bisa leluasa omong-omong dengan Medi, bisa pakai bumbu dan bunga-bunga untuk memperlicin jalan menggolkan cerita Rusli.

“Ooo, kalian sama-sama dari Rangkasbitung? Dia (menunjuk saya) sering betul cerita tentang Rangkas. Seolah-olah kota yang paling hebat di seluruh dunia …,” kata Medi sambil tertawa. Saya ikut tertawa. Rusli payah betul memaksakan mukanya tersenyum, ia terlalu tegang pada cerita pendeknya yang berada di tangan Medi.

“Saudara Rusli sudah lama menulis?” tanya Medi sambil membaca-baca sepintas.

“Eee …, ya …, lama juga.”

“Hmmm. Kebetulan saya belum pernah baca tulisan Saudara. Dimuat di mana?”

“Dimuat di … eee …, begini, ya … baru di majalah-majalah kecil.”

“Ooo.” Medi mengebet-kebet. “Akan saya pelajari tulisan Saudara ini.”

“Maksudnya?” sambar saya cepat. “Kalau mungkin, bisa dimuat nomor depan ini, Med.” Medi mengangkat mukanya pada Rusli. Tapi Rusli tidak berbunyi sedikit pun, cuma tersenyum-senyum saja seperti perawan kampung yang baru pacaran. Kesal betul, padahal semalam bukan main galaknya kepada saya.

“Kenapa mau buru-buru?” tanya Medi baik-baik, tetapi nampak Rusli seperti terkejut betul mendengarnya.

“Saya ingin lekas melihat tulisan saya dimuat dalam mingguan terkenal …,” jawab Rusli, ia lalu tertawa sedikit, entah kenapa.

“Ah …, jangan tergesa-gesa, Saudara Rusli. Saudara masih muda,” kata Medi dengan cara biasa-biasa saja, tidak membentak atau sambil memelotot. Tetapi mungkin di telinga Rusli kedengarannya menggelegar karena Rusli jadi kuncup dan tersipu-sipu. Tidak sedikit pun nampak ada niatnya untuk menyampaikan apa yang sebenarnya dimaksud.

“Dia perlu duit, Med. Buat pulang!”

“O ….”

“Ah, tidak!” tukas Rusli tegas. Berikutnya kuncup lagi. “Cukup buat saya, asal bisa dimuat nomor depan.”

Medi mengebet-kebet lagi, dua-tiga kali melirik ke arah saya dan setiap kali beradu dengan pandangan saya yang terus tajam padanya. “Tapi …,” kata Medi agak diseret, “Kalaupun bisa dimuat, honorariumnya ….”

“Tidak apa habis bulan …, tidak apa. Asal bisa dimuat.”

“Hmmm …, isi nomor depan sudah penuh,” kata Medi sambil berpikir dan sesudah melirik saya selintas dia lanjutkan, “Tetapi kalau Saudara cuma perlu uang, saya bisa pinjamkan persekot ….”

“Baik!” potong saya, “Kami akan pulang tanggal dua puluh ini.”

Medi langsung merogoh kantongnya dan saya kagum akan kecepatan otak saya yang lantas sudah bisa menghayalkan berlebaran sama-sama dengan Rusli di Rangkas. Kami tertawa-tawa di kebun ayahnya, memukul bedug di surau semalam suntuk ….

“Tidak usah, Bung!” kata Rusli tiba-tiba. “Saya tidak perlu persekot. Saya hanya kepengin betul cerita saya itu bisa dimuat pada nomor Lebaran ini. Cukup itu saja, tolonglah.”

Dongkol benar saya pada Rusli. Pulangnya saya suruh dia yang membonceng saya.

Dua hari sesudah Lebaran, saya terima kiriman pos dari Jakarta: Mingguan yang memuat cerita pendek Rusli. Pada pojok atas tulisannya dicantumkan catatan, salam selamat hari raya dari dia buat sekalian teman-teman. Saya faham, maka saya bawa mingguan itu pada teman-teman.

“Hebat ya, si Rusli. Tidak sangka,” kata kawan yang satu.

“Memang, dari dulu sudah kelihatan bakatnya,” yang lain bilang.

“Bukan main dia sekarang,” menurut seorang gadis.

“Luar biasa. Pantas dia tidak pulang. Jadi wartawan memang repot sih ….”

“Bukan wartawan,” tukas saya. “Seniman. Ya, seniman ….”[]

halaman 65-72, Keajaiban di Pasar Senen oleh H. Misbach Yusa Biran (penerbit CV Indocamp, Jakarta, cetakan ketiga, 2005)

Advertisements

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s