Tiga Cerita tentang Pengarang dari H. Misbach Yusa Biran: (3) Nasihat untuk Para Seniman

Bagaimanapun juga Rusli tetap teman saya, meskipun ia sudah jadi pemuda kumal. Saya harus menolong dia dari keadaannya sekarang. Baiklah, saya tidak akan mengatakan bahwa ia telanjur jadi seniman, karena ia akan sedia berkelahi dengan siapa saja yang mengatakan soal telanjur itu. Saya tidak takut bertarung dengan Rusli yang berbadan kerempeng dan berpantat tepos, cuma saya tidak gemar berkelahi. Lagi yang saya niatkan adalah ingin menolong dia. Dan syukurlah, ia bisa menyetujui pendapat saya tanpa harus berkelahi, yakni bahwa ia harus mempunyai pekerjaan tetap. Menurut Rusli, menganggur itu merusak jiwa. Entahlah, tetapi yang pasti dengan menganggur seperti sekarang ini penghidupannya tidak terjamin dan sayalah yang terus-menerus dirongrongnya: rokok sebatang, beli pita mesin tik, aspro …. Tak apa, sungguh tak apa kalau masih ada. Tapi dia harus menjamin hidupnya sendiri, bagaimana kalau saya mati?

Saya punya kenalan, seorang kepala di salah satu kantor pemerintah yang mengurus soal-soal kebudayaan. Ia baru saja diangkat. Rusli setuju untuk saya ajak minta pekerjaan padanya. Saya bisa bolos, gampang, saya kerja di kantor pemerintah.

“Pukul delapan baru buka kantor, kan?”

“Betul, tapi sebaiknya kita memberi kesan pertama yang baik. Kita harus sudah berada di sana pada pukul setengah delapan,” kata saya dengan perasaan mulai lega karena sudah terbayang rasanya sebentar lagi Rusli telah berpakaian rapi sebagaimana orang baik-baik lazimnya.

“Mana orang kantor pemerintah sudah datang sepagi itu?”

“Itu bukan urusan kita.”

“Tidak, soalnya apakah besok aku bisa bangun pagi-pagi. Nanti malam aku akan menyelesaikan cerita pendek yang tanggung dalam penggarapan.”

“Aku bermalam saja di rumahmu.” Menyesal saya. Sejak pukul tujuh sore ia sudah duduk di muka mesin tik. Termenung-menung kemudian mengetik, termenung dan mengetik lagi. Begitu terus tidak bisa diajak ngobrol. Kesal menunggunya. Mau keluar dari rumah, segan, jalanan di luar rumahnya becek betul. Tadinya saya pikir paling lama juga tiga jam ia kerja, sudah itu kami bisa cerita-cerita asyik tentang masa depan. Tetapi lewat tiga jam malah ia lebih asyik lagi termenung dan mengetik. Kadang-kadang hampir setengah jam penuh ia cuma melotot saja. Rokoknya sudah punah pada jam dua belas, merembet pada rokok saya. Setengah satu mata saya sudah berat sekali.

“Tidurlah, tinggal sedikit lagi. Aku sedang mencari penutupnya saja.”

Tidak tega rasanya meninggalkan dia duduk bekerja sendiri. Saya paksa-paksakan membuka mata. Entah sesudah berapa lama, maka mata saya telah dengan sendirinya terpenjam. Rasanya belum lama ketika badan saya digoyang-goyang oleh Rusli. Sudah pukul setengah tujuh. Rusli tidak tidur hingga waktu itu.

“Kaubilang semalam cuma tinggal mencari buntutnya saja.”

“Aku ulang mengetiknya. Ada beberapa bagian di tengahnya yang harus diubah, karena penutupnya ada perubahan.”

“Satu cerita pendek harus dikerjakan semalam suntuk?”

“Sebenarnya tidak perlu, tapi kalau kutunda buyar lagi idenya. Sudah lima hari aku cernakan dalam kepala.”

Lima hari, bisik saya dalam hati. Lima hari satu cerita pendek.

Saya pergi mandi, Rusli duduk dengan kaki terbujur lepas, pucat benar mukanya. Lalu ia cuma cuci muka saja. Itu saya tidak setuju benar, tetapi saya tidak tega menegurnya. Ya Allah, bagaimana kalau anakku sendiri yang jadi pengarang …?

Perkiraan Rusli salah. Setengah delapan pagi kenalan saya itu sudah berada di kantornya. Ia kepala bagian, jadi harus memberi contoh pada bawahan. Tetapi soalnya yang pokok, menurut Rusli, karena ia baru dijadikan kepala bagian di situ.

“Saya baru beberapa bulan saja duduk di bagian ini,” kata kenalan saya, “Dan Saudara tahu apa yang baru bisa saya lakukan? Membongkar, membongkar, dan merombak! Saya telah diserahi kerja untuk meneruskan kerja orang yang terdahulu, dan ternyata rencana serta konsep mereka tentang kebudayaan hanya membuat saya terpingkal-pingkal saja. Saya rombak semua, apa boleh buat harus peras keringat karena untuk kebudayaan kita tidak bisa main-main. Kebudayaan adalah jiwa, warna, dan segala-galanya dari suatu bangsa. Bagaimana mungkin hal besar ini hanya diserahkan kepada orang-orang yang hanya biasa kerja rutin, yang kerja hanya untuk menunggu pensiun saja? Omong kosong! Orang dengan kapasitas begitu tak mungkin bisa mencintai kebudayaan, menghargai hasil seni, menghargai seniman, serta bisa ikut mengembangkan kesenian Indonesia yang tengah mencari coraknya ini! Bagaimana mereka bisa menghargai, bahkan untuk hanya sekadar bisa mengerti penghidupan seniman?”

Kalau diladeni terus omongan bapak ini bisa sampai malam, pikir saya. Maka begitu ia sedang terhenti karena menempelkan rokok ke mulutnya, saya buru-buru masuk bicara.

“Pak, maksud kedatangan saya ini ialah untuk memperkenalkan kawan saya, yang tempo hari pernah saya ceritakan kepada Bapak.”

Bapak Kebudayaan dan saya sama-sama memandang ke arah Rusli. Masya Allah, Rusli tertunduk, tidur rupanya. Saya tendang kakinya. Bapak kebudayaan pura-pura tidak melihat.

“Saudara pengarang, bukan?” tanya Bapak kebudayaan sambil menoleh ke arah lain. Rusli termenung-menung kebingungan, masih belum pulih kesadarannya. Saya tendang lagi kakinya.

“Ya …, ya, begitulah ….”

“Saya yakin bahwa pekerjaan saya harus mendapat dukungan kalangan seniman-seniman muda, yang jiwanya masih hidup, dinamis, penuh cita-cita, dan semangat. Saya kira kita akan banyak bisa kerja sama.”

“Jadi, apa saya bisa diterima kerja di sini, Pak?” tanya Rusli.

Saya kagum akan keberanian Rusli kali ini.

“Punya ijazah SMA?”

“Tidak, Pak,” kata saya, “Saudara Rusli pernah duduk di kelas tertinggi SMA, bagian B lagi, Pak.”

“Yang penting ijazah,” jawab Pak Kebudayaan dengan suara kecewa sambil bangkit. Melangkah pelan ke jendela. “Saya sudah memajukan sebuah rencana ke atas. Kalau diterima, saya kira Saudara bisa saya pakai. Tetapi itu harus menunggu lama sekali karena banyak betul meja yang mesti dilewati oleh rencana tersebut.” Pak Kebudayaan menoleh pada Rusli, Rusli sedang melamun ke arah lain. “Saya gembira sekali bisa bekerja sama dengan seniman muda. Jangan salah sangka, saya bukan orang kolot. Tetapi saya kira, buat seorang seniman hidup tidak terikat adalah lebih baik, kan?”

“Tidak!” jawab saya kontan. “Penghasilan yang didapat dari tulisan tidak mencukupi.”

“O, ya …?” Bapak Kebudayaan duduk, nampak ia sangat tertarik pada jawaban saya. Rusli menendang kaki saya.

“Berapa honorarium sebuah cerita pendek? Dapat empat ratus?”

“Tidak sampai ….”

“Berapa? Tiga ratus?”

“Tujuh puluh lima,” jawab Rusli, “paling tinggi.”

Bapak Kebudayaan lesu menyandarkan bahunya ke sandaran kursi. “Begitu kecil ….”

“Majalah-majalah sekarang oplahnya kecil, terutama majalan kesusasteraan.”

“Tetapi itu bukan alasan untuk tidak menghargai suatu hasil seni!” kata Pak Kebudayaan dengan amat sungguh-sungguh, bernafsu. Berdebar hati saya, rasanya Rusli akan ditolongnya juga bekerja.

“Jadi, bagaimana, Pak?” tanya saya halus dan sopan.

“Pemuda tidak boleh mundur!” Pak Kebudayaan merenung sebentar. “Saya kira, saya bisa mendapatkan jalannya ….”

“Ya, Pak,” sambut Rusli tidak sabar. “Jalan apa?”

Bapak Kebudayaan tersenyum, “Jalannya adalah bekerja secara sistematis. Anak-anak muda sekarang memang tidak bisa disalahkan kalau mereka tidak bisa bekerja secara sistematis karena orang-orang tua mereka sendiri telah mengalami keguncangan hidup disebabkan perang dunia kedua. Tetapi walaupun bagaimana, bekerja secara sistematis tetap diperlukan. Terutama bagi para seniman dewasa ini.”

“Betul, Pak!” saya menggongi. “Maksud Bapak, di sini Saudara Rusli harus bekerja secara sistematis?”

“Bukan kerja di sini. Bekerja sendiri, sebagai pencipta. Maksud saya begini, sebuah cerita pendek kan honorariumnya tujuh puluh lima?” kata Pak Kebudayaan. Rusli diam saja, saya yang mengangguk. “Saya tidak bisa menduga berapa biaya hidup seniman sebulannya, entah tiga atau empat ribu. Akan tetapi biasanya seniman irit, taruhlah dua ribu. Maka mulailah dengan mengumpulkan nama-nama majalah serta mingguan yang memuat cerita pendek. Sepuluh buah saja cukuplah. Maka kalau semua penerbitan itu sekaligus Saudara kirimi cerita pendek dan memuatnya, artinya Saudara akan menerima honorarium sepuluh kali tujuh puluh lima rupiah, berarti tujuh ratus lima puuu …?”

“Luh,” sambung saya.

“Ya! Tujuh ratus lima puluh, satu minggu. Maka satu bulan akan berarti empat kali itu, sama dengan tiga riii ….”

“…,” saya tidak menyambung.

“Tiga ribu rupiah, berarti seribu lebih banyak daripada biaya yang dibutuhkan oleh seorang seniman. Itu kalau Saudara bekerja secara biasa saja. Lebih-lebih kalau Saudara mau pula mengisi majalah dan mingguan yang begitu banyak bertebaran. Saya satu, satu bulan bisa terima bersih enam ribu rupiah, gampang!”

Enam ribu sama dengan harga sebuah scooter Vespa. Bapak Kebudayaan memandang kami berdua sambil tersenyum, menunggu pujian atas idenya yang hebat itu. Rusli hanya mengangguk-angguk kecil, tetapi saya segera tahu bahwa ia akan berbuat nekad. Betul saja. Kalau saya tidak buru-buru minta permisi pulang, Rusli sudah niat akan ngomong yang kasar-kasar.

“Enak saja …, empat puluh karangan sebulan,” gumam Rusli waktu saya bonceng menuju ke tempat redaktur untuk mengambil honorarium tulisannya. “Kalau semua nenek-moyangnya mau bangun lagi dari dalam kubur untuk membantu aku mengarang sih, boleh juga …!”

“Sabar,” kata saya. “Innallaha ma’a shabirin.”

Untung belum terlambat, sang redaktur baru saja akan berangkat.

“Tapi daftar honorariumnya belum dibuat, Bung Rusli. Sabarlah, besok saja kemari lagi. Atau hari Senin sajalah, besok Sabtu, setengah hari kita kerja.”

“Ini kali saya betul-betul minta tolong, Bung. Saya ada …, saya perlu betul ….”

Redaktur kesal, membuka majalah yang memuat tulisan Rusli. Dipelajari, ya sebentar, diukur-ukurnya panjang karangan.

“Lima puluh rupiah, bagaimana?”

Rusli tak menjawab. Terasa mata saya berkaca-kaca. Redaktur tak mau melihat keadaan kami berdua. Ia menjatuhkan matanya kembali pada tulisan Rusli dalam majalah. Ujung jarinya dipukul-pukulkan ke meja, berpikir.

“Nah,” kata redaktur tiba-tiba sambil merogoh kantong, “Saudara terima saja dulu uang saya pribadi, enam puluh lima …. Sisanya terserah kapan mau ambil, sepuluh lagi …. Beres?”

Rupanya Rusli ada janji bayar utang hari itu pada warung nasi dekat rumahnya, lima puluh rupiah. Sisa lima belas.

“Lebihnya ini kita belikan rokok dulu, kemudian boleh kita makan sama-sama …, kita habiskan semua, habiskan semua!”

Lima belas dikurangi lima setengah rupiah untuk rokok, tinggal sembilan setengah rupiah. Sisanya akan dihabiskan untuk makan berdua.

“Saya sakit perut sajalah, Rus.”

“Sakit perut saja bagaimana?”

“Maksud saya, saya pulang saja …, sakit perut …, tidak ikut makan ….”

Kami berpandangan dan sama-sama mengerti. Rusli makan sendiri.[]

halaman 96-102, Keajaiban di Pasar Senen oleh H. Misbach Yusa Biran (penerbit CV Indocamp, Jakarta, cetakan ketiga, 2005)

Advertisements

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s