Membaca Terjemahan Inggris Cerpen Mitsuyo Kakuta, “The Memory” oleh Polly Barton (Words Without Borders, Maret 2015)

Cerpen ini pendek banget, kurang dari seribu kata.  Bahasa Inggris terjemahannya juga sederhana. Meski begitu, cerpen ini mengandung misteri yang bisa dijadikan pemantik untuk membuat cerpen baru. Apakah itu?

Pada awalnya cerpen ini seolah-olah diceritakan melalui sudut pandang orang ketiga. Ia menceritakan sosok perempuan cantik dengan latar belakang yang kelam. Perempuan tersebut memendam rahasia yang membikin orang-orang tidak betah berada di dekatnya lama-lama, kecuali orang-orang tanpa perasaan.

Perempuan itu pernah memberitahukan rahasianya kepada seseorang, satu-satunya orang yang ia cintai dan menjadi kekasihnya. Namun lelaki itu kemudian tidak betah juga dengan dia.

Rupanya ada satu orang lagi yang mengetahui rahasia itu tanpa si perempuan memberitahukannya. Nah, di sinilah tahu-tahu muncul orang pertama. Rupanya sedari awal cerita ini disampaikan melalui sudut pandang orang pertama.

Namun ternyata si orang pertama ini memiliki versi lain dari rahasia itu. Rahasia tersebut sebenarnya merupakan peristiwa yang terjadi sewaktu si perempuan masih kecil. Si orang pertama merupakan saksi atas peristiwa itu tanpa si perempuan mengetahuinya. Akan tetapi, yang diingat si perempuan berbeda dengan kesaksian si orang pertama.

Bingung? Saya sarankan untuk membaca sendiri cerpennya kalau begitu.

Nah, ya, maka menjadi misteri mengenai siapakah si aku dalam cerpen ini. Apalagi di akhir cerpen ada suatu pernyataan ganjil yang seolah-olah menunjukkan bahwa si aku lebih muda daripada si perempuan. Padahal saya mengira dengan keterlibatannya itu mestilah ia lebih tua.

Seandainya sedang butuh ide cerpen, kita bisa saja mencoba untuk menjawab misteri tersebut–mengarang penjelasan mengenai si aku–dengan menjadikannya cerpen baru.

Lagi pula, cerpen ini sendiri agaknya terinspirasi dari lukisan Félix Valloton, Le Ballon. 

z4-liddell-vallotton-a-20140718-870x677

Nah, kan, inspirasi itu bisa dari mana saja.

Saya merasa cerpen ini juga lebih daripada sekadar misteri yang memantik inspirasi. Cerpen ini juga tentang ingatan yang bisa silap, terpengaruh oleh berbagai kondisi.

Menurut versi si perempuan, dalam peristiwa yang kemudian menjadi rahasianya itu ia menempatkan diri sebagai orang yang tak bersalah–anak kecil lugu yang menjadi saksi atas sesuatu yang di luar kendali dirinya.

Akan tetapi, menurut versi si aku, dalam peristiwa yang disaksikannya diam-diam dan kemudian menjadi rahasianya juga itu, perempuan tersebutlah yang sesungguhnya memiliki peran fatal.

Jadinya saya teringat pada satu cerpen terjemahan di Fiksi Lotus mengenai jahatnya anak-anak.

Mungkin seiring dengan bertumbuhbesarnya si perempuan, ia menyadari perannya dalam peristiwa itu, menolaknya, dan sadar-tidak-sadar membuat versi baru dari ingatan itu untuk menekan rasa bersalahnya.

Mungkin juga peristiwa itu sesungguhnya berdampak traumatis bagi dia. Memang sewaktu terjadinya peristiwa ia tidak berbuat apa-apa untuk mencegah tragedi. Tetapi, memangnya ia bisa apa? Pada waktu itu ia hanya seorang anak kecil! Kadang seorang anak kecil bisa sangat arogan dan egois, tak memiliki kesadaran akan kesusahan orang lain. Alhasil, yang timbul pada ingatannya merupakan versi lain yang rada mending.

Dalam cerpen ini muncul pula persepsi bahwa bunuh diri itu sesuatu yang indah. Kebetulan pada waktu yang berbarengan dengan penemuan cerpen ini, saya baru menyelesaikan pembacaan novela Yukio Mishima, Patriotism. Karya tersebut juga mengangkat tentang bunuh diri. Memang agaknya budaya Jepang memiliki pandangan unik pada bunuh diri, yang terejawantahkan di antaranya dalam dua karya ini.

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out /  Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out /  Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out /  Change )

Connecting to %s