Seputar Proklamasi Kemerdekaan Indonesia ke Romantisisme

Tahun lalu, di Kemudian.com akun azkashabrina memublikasikan cerpen komedi sejarah berjudul “Agenda“. Dalam cerpen ini pengarang memarodikan detik-detik menjelang proklamasi kemerdekaan Republik Indonesia, ketika tokoh-tokoh pemuda seperti Sukarni, Wikana, dan Adam Malik membujuk Bung Karno agar segera melaksanakannya. Cerpen ini mendapat sambutan ramai, ada yang menyanjung ada pula yang tidak sreg.

1400468

sumber gambar

Dalam buku Kilas Balik Revolusi: Kenangan, Pelaku, Saksi oleh Aboe Bakar Loebis* (editor Sugiarta Sriwibawa, penerbit Universitas Indonesia Press, Jakarta, cetakan kedua, 1995), peristiwa persiapan proklamasi itu memang mengandung momen yang menggelikan. Sedikitnya kesan itulah yang saya tangkap dari gaya bahasa penulis.

Bagian yang menurut saya lucu dimulai ketika penulis menyebutkan di halaman 101 bahwa Sukarni, salah seorang tokoh pemuda yang menjadi tokoh utama dalam cerpen azkashabrina, memiliki kesuburan imajinasi. Berikut paragraf lengkapnya.

Rapat bubar dan semuanya pulang ke tempat masing-masing untuk menyebarluaskan putusan-putusan yang diambil. Sebagian berkumpul di asrama Baperpi, Cikini 71 (sekarang gedung Bank Niaga, cabang Cikini). Saya sendiri pergi ke Cikini. Di sana kami menunggu kedatangan kembali utusan yang dikirimkan kepada Soekarno. Mereka kembali kira-kira pukul 10, dan melaporkan kegagalan usaha mereka serta menambahkan bahwa Soekarno marah-marah dan tidak mau dipaksa-paksa oleh pemuda. Reaksi kami yang berkumpul di asrama Baperpi itu juga marah, karena itu dibicarakan tindak lanjut yang harus dilakukan. Putusannya ialah supaya Soekarno dan Hatta “diangkat” saja. Ketika kami sedang membicarakan hal ini tiba-tiba muncul tiga orang, dua di antaranya berpakaian PETA. Mereka adalah Sukarni yang memakai seragam PETA, Shodancho Singgih dan Yusuf Kunto. Sukarni segera berbicara dengan nada agitasi tentang semangat rakyat yang sedang meluap, ketegangan luar biasa di kalangan masyarakat, dan sebagainya. Semuanya ini menunjukkan kesuburan fantasi Sukarni, tetapi turut mempengaruhi putusan untuk menculik Soekarno-Hatta.

Sampai di sini saya belum kena benar dengan yang dimaksudkan sebagai “kesuburan imajinasi”. Barulah ketika sampai di halaman 103, saya tergelak.

Dalam perjalanan dari Rengasdengklok dari Jakarta, pada waktu senja, terlihat dari mobil asap dan api menyala di mana-mana. Sukarni pun berkata, “Lihatlah rakyat sudah mulai bergerak, membakar-bakar.”

Ini hanya merupakan bukti lagi kesuburan imajinasi Sukarni, karena yang dilihat hanya para petani membakar jerami di sawah yang selesai dipanen.

Dalam buku ini peristiwa persiapan proklamasi kemerdekaan RI diceritakan secara terperinci dalam bab “Hari-hari Sekitar Proklamasi” (halaman 76-121)–entah apakah azkashabrina sudah membacanya. Hal lain yang mengesankan yaitu simpulan dari peristiwa proklamasi itu sendiri. Dalam cerpen azkashabrina, peristiwa proklamasi dan pengibaran bendara merah-putih terasa khidmat dan menggetarkan. Sebaliknya yang dirasakan oleh Aboe Bakar Loebis selaku salah seorang tokoh pemuda yang turut berkontribusi dalam mempersiapkan peristiwa ini. Berikut penuturannya dalam halaman 106.

Bagi saya, pembacaan proklamasi kemerdekaan pada hari itu sebenarnya merupakan suatu anti klimaks. Setelah tiga tahun hidup dalam ketegangan dalam suasana konspirasi untuk mengejar cita-cita kemerdekaan, dan kemudian kegiatan tanpa lelah, tidak kenal haus dan lapar dengan ketegangan terus-menerus sejak tanggal 14 Agustus, berakhir dengan pembacaan naskah proklamasi yang terdiri dari beberapa kalimat kering, yang ditulis di rumah seorang pembesar Jepang, disaksikan oleh oknum-oknum Jepang, yang dibacakan dengan nada kering dan datar pula, di depan hanya puluhan orang di halaman rumah, oleh seorang Soekarno yang sedang tidak enak badan.

Proklamasi Kemerdekaan yang kami impikan, suatu proklamasi yang menyatakan hak hidup dan hak menentukan nasib sendiri bangsa Indonesia dengan cita-cita untuk membangun suatu masyarakat yang adil dan makmur di tanah air Indonesia, proklamasi yang kita susun sendiri, tanpa diketahui oleh Jepang atau oknum-oknum Jepang, dan dibacakan dengan semangat berapi-api oleh seorang orator Soekarno, di suatu rapat raksasa di lapangan terbuka, hanya merupakan impian yang tidak terkabul.

***

Dengan sangat rasional, ia kemukakan mengapa menurut pandangannya, suatu negara serikat merupakan bentuk negara yang terbaik bagi Indonesia. Disebutnya antara lain besar dan luas wilayah, banyaknya suku bangsa dengan kebudayaan yang sangat beragam dan bahasa yang berlainan, tingkat kemajuan ekonomi dan sebagainya. Kalau kami juga rasional, mungkin sekali kami dapat menerima argumen Bung Hatta, tetapi kami tidak rasional. Mengenai soal persatuan, kami malahan sangat emosional; persatuan tidak dapat ditawar. 

Kutipan di atas, yang diambil dari halaman 256 buku ini, memafhumkan saya betapa peristiwa-peristiwa sejarah sering kali diwarnai oleh sentimen, sampai-sampai Harun Yahya pun mengeluarkan buku Ancaman di Balik Romantisisme dan menyinggung nasionalisme di dalamnya. Sentimen, romantisisme, emosi, dan berbagai istilah lainnya yang menurutkan perasaan itu apabila dialami sekelompok manusia yang menyatakan kesatuannya sebagai bangsa akan melahirkan negara, adapun pada seorang individu dapat menghasilkan, katakanlah, karya fiksi berupa cerpen.

*Aboe Bakar Loebis (l. 1923) merupakan salah seorang tokoh pemuda yang turut serta dalam berbagai kegiatan persiapan proklamasi kemerdekaan. Nantinya beliau berkiprah banyak dalam membantu perjuangan pemerintahan Indonesia yang baru berdiri hingga memangku berbagai jabatan di lingkungan KBRI.

Membaca Cerpen Ray Bradbury, “Let’s Play ‘Poison'” (1946)

“Let’s Play Poison” merupakan cerpen paling pendek (< 2.000 kata) dalam kumpulan cerpen Ray Bradbury yang pertama-tama terbit, The Dark Carnival (1947), dan sebelumnya pernah dimuat dalam Weird Tales, November 1946.  Cerpen ini menampilkan segi kejiwaan yang unik pada manusia, diwakili tokoh Mr. Howard, yaitu guru SD yang–ironisnya–membenci anak-anak. Barangkali kita pernah beberapa kali berjumpa orang yang mengaku tidak suka anak-anak, atau jangan-jangan orang itu diri kita sendiri. Aneh, bukan? Padahal setiap orang pernah menjadi anak-anak, mengapa dia membenci dirinya sendiri dalam versi yang unyu-unyu?

Kebencian Mr. Howard pada anak-anak terungkap setelah suatu tragedi terjadi di SD tempatnya mengajar; seorang siswa tewas akibat didorong oleh teman-temannya sendiri dari lantai tiga. Akan tetapi, agaknya, sejak dulu Mr. Howard memang sudah membenci anak-anak–terselip keterangan ever again saat disebutkan bahwa dia menolak untuk mengajar pascakejadian itu. Mr. Howard rupanya memiliki semacam delusi bahwa anak-anak itu penjajah dari dimensi lain (invaders from another dimension“), monster kecil yang diusir dari neraka karena iblis tidak sanggup lagi menangani mereka (“little monsters thrust out of hell, because the devil could no longer cope with them“). Ia bahkan menganggap anak-anak itu bukan manusia. Sebelumnya ia tidak pernah mengungkapkan itu pada orang lain karena takut dikira gila.

Mr. Howard toh tidak bisa lepas dari anak-anak. Ia sempat memensiunkan diri selama tujuh tahun dan mencari penghidupan lewat menulis cerita dan puisi. Ia tidak menikah karena setiap wanita yang didekatinya selalu menginginkan anak. Hingga suatu hari Mr. Howard diminta kembali mengajar untuk menggantikan guru yang sedang berhalangan. Dengan terpaksa Mr. Howard menyanggupi panggilan itu. Pikirnya, tugas itu paling-paling hanya untuk beberapa minggu saja. Maka selama beberapa minggu itu pun Mr. Howard membangun kebencian dan ketakutan di antara dirinya dan anak-anak. Mereka bertemu bukan hanya di sekolah, tetapi juga di jalanan dan di sekitar rumah Mr. Howard. Akibatnya, Mr. Howard merasa sangat terganggu oleh ulah anak-anak yang memang suka bermain apa saja dan di mana saja: poison, hopscotch, kick-the-can, hide-and-seek, Over-Annie-Over, jacks, tops, dan mibs. 

Setelah melakukan penelusuran di internet, saya takjub karena beberapa permainan anak dalam cerpen ini dikenal juga di Indonesia, sebut saja: hopscotch–engklek/sondah-mandah, hide-and-seek–petak umpet, jacks–bekel, tops–gasingdan, mibs–kelereng. Saya pun teringat, dalam buku Folklor Indonesia: ilmu gosip, dongeng dan lain-lain karya pakar folklor Indonesia, James Danandjaja, permainan tradisional pun termasuk folklor. Adapun folklor ternyata tidak selalu khas dimiliki bangsa tertentu, melainkan bisa jadi terdapat juga dalam khazanah budaya banyak bangsa lainnya. Malah ada pakar yang sampai membuat indeks kesamaan folklor dari seluruh dunia.

Permainan anak yang lainnya dalam cerpen ini tampaknya asing, ada juga yang cuma karangan penulis. Kita bisa menemukan kick-the-can dan Over-Annie-Over di Wikipedia, tetapi poison hanya ada dalam cerpen ini. Permainan poison inilah yang tampaknya menjadi semacam Chekhov’s gunmuncul pada judul, di tengah-tengah cerita, dan sebagai penutup. Akan tetapi, apakah gerangan yang dihubungkannya?

Jika sedang malas membaca teks berbahasa Inggris, cerita ini telah diadaptasi menjadi acara TV sehingga bisa ditonton saja. Tinggal pasang kuping tajam-tajam karena dialognya tentu saja dalam bahasa Inggris dan tanpa subtitle.

 

Intermeso: Dalam khazanah sastra Indonesia, ada juga cerpen yang mengungkapkan kebencian orang dewasa pada anak-anak yaitu “Lelaki dan Bintang Kecil” karya Stefanny Irawan (Koran Tempo, 13 Februari 2011).

 

Membaca Cerpen Charlotte-Arrisoa Rafenomanjato, “Omeo Zanako” (Words Without Borders, Desember 2015)

Karya sastra Madagaskar yang diterjemahkan ke dalam bahasa Inggris itu langka, bahkan bisa dikatakan tidak ada, hingga situs Words Without Borders menerbitkan edisi khusus negara itu pada Desember 2015, “Knowing the Unknowable: Writing from Madagaskar”. Demikian menurut editor tamu WWB untuk edisi tersebut, Allison M. Charette. Karya sastra Madagaskar umumnya ditulis dalam bahasa Malagasi (bahasa nasional negara itu) atau bahasa Perancis (bahasa negara yang pernah menjajahnya). Usut-usut, ternyata bahasa Malagasi termasuk rumpun bahasa Austronesia, yang mana bahasa Indonesia pun ada di dalamnya. Bahkan, nenek moyang penduduk Madagaskar ternyata berasal dari Indonesia! Jadi mestilah ada semacam rasa keterkaitan secara kultural antara kita dan negara itu.

Meski begitu, sebelum menelusuri kenyataan di atas, keterkaitan itu sudah dapat dirasakan saat membaca salah satu karya fiksi Madagaskar yang disajikan WWB. Pilihan saya jatuh pada “Omeo Zanako” karya Charlotte-Arrisoa Rafenomanjato karena panjangnya hanya sekitar 1.300 kata dan bahasanya mudah dicerna. Terjemahannya dalam bahasa Inggris bahkan menggunakan present tense. (Padahal lazimnya kita menemukan teks berbahasa Inggris dalam bentuk past tense.) Cerpen ini diterjemahkan dari bahasa Prancis oleh Sophie Lewis dan pertama kali dipublikasikan pada 2005 dalam buku berjudul Chroniques de Madagascar. Berikut ringkasan ceritanya.

Lehilahy bekerja sebagai tukang. Ia bangga akan profesinya itu begitu pula tanah airnya. Istrinya meninggal setelah melahirkan anak pertama mereka. Anak lelaki itu kemudian dinamai Ny Rako, yang berarti “darahku”.

Ny Rako anak yang unik; bersemangat, cerdas, rajin, sekaligus sangat menyadari hak-haknya. Ny Rako bercita-cita menyejahterakan ayahnya saat dewasa. Ia bersekolah dengan sebaik-baiknya, namun ayahnya sendiri khawatir karena tidak memiliki cukup uang untuk membayar pendidikannya–termasuk kelulusannya.

Ny Rako tidak lulus SD meskipun telah mengerjakan ujian dengan sungguh-sungguh. Ny Rako yang sedih pulang ke rumah namun dalam perjalanan ia tertabrak dan tewas. Lehihahy sangat berduka sampai-sampai tidak membiarkan orang lain menyentuh anaknya dan dokter mesti menaruh obat penenang dalam minumannya.

Begitu terjaga dan menyadari bahwa anaknya telah dikuburkan,  Lehilahy berkeluyuran dan menyayat lengannya sendiri. Dengan darahnya ia menulisi segala permukaan dengan “omeo zanako”–“kembalikan anakku”. Para tetangga mengumpulkan uang untuk membelikan dirinya cat merah dan mengatakan bahwa itu darahnya. Adapun penabrak anaknya selamat karena merupakan orang kaya dan berkuasa, sehingga yang ditahan malah orang lain.  

Cerita tentang orang miskin bernasib memilukan mungkin sudah sangat jamak, apalagi dalam kemasan satire yang gamblang. Malah jika ingin membuat cerita dewasa yang bernilai sastra, tulislah tentang orang miskin–demikian menurut A. S. Laksana dalam “Cerita untuk Anak-anakmu” (Murjangkung: Cinta yang Dungu dan Hantu-hantu, penerbit GagasMedia, Jakarta). Tokoh melankolis semacam ini juga seakan menjadi konten wajib dalam sinetron di negara kita.

Meski begitu, saya justru tertarik ketika menemukan keadaan serupa di negara lain. Misalnya saja dalam The White Tiger Aravind Adiga (edisi Indonesia diterjemahkan Rosemary Kesauly dan diterbitkan Sheila–imprint Penerbit Andi, Yogyakarta) yang berlatar di India. Seperti dalam “Omeo Zanako”, dalam novel itu pun ada bagian mengenai tabrak-lari-salah-tangkap. Lebih menarik lagi ketika belum lama ini saya mendengar kasus serupa terjadi di dunia nyata dan menimpa aktor kenamaan India–siapa pun yang pernah menonton Kuch Kuch Hota Hai pasti mengenalnya–Salman Khan. Dengan demikian membaca fiksi bukan sekadar soal orisinal-versus-klise lagi, melainkan refleksi atas fenomena di dunia nyata. Ketika isu ketidakadilan sedemikian banyak diungkapkan dalam karya fiksi, dunia macam apakah yang kita tinggali ini?

Saya telah membaca banyak cerita semacam ini (biasanya dimuat Republika) dan tetap saja merasa sedih. Bahkan, saat pertama kali membaca “Omeo Zanako”, saya merasa merinding–lebih karena sedih ketimbang seram. Bagaimanapun penyampaiannya, entahkah lurus-lurus saja sehingga bagi sebagian orang mungkin membosankan, atau kocak, unik, dan segar seperti dalam The White Tiger, esensinya toh cerita sedih, atau, mungkin, lebih tepatnya: refleksi atas realita yang menyedihkan.

 

Membaca Penggalan Novel Saud Alsanousi, The Bamboo Stalk (Words Without Borders, Juli 2014)

Dikisahkan bahwa pada suatu malam si narator hendak menukar tabung gas ke pasar induk. Ia naik taksi dan terjebak dalam kemacetan di Jabariya. Jabariya itu nama kawasan ramai di Kuwait, salah satu negara di Timur Tengah. Rupanya ada razia. Namun, ketika diminta menunjukkan kartu identitas, si “aku” menyadari bahwa dia lupa membawa dompet. Dia pun dibawa ke kantor polisi bersama beberapa orang lainnya yang terjaring. Para korban razia itu rata-rata imigran, mulai dari Arab, India, Bangladesh, sampai Filipina.

Dalam perjalanan menuju kantor polisi, terjadi percakapan antara si “aku” dan dua orang perempuan dari Filipina. Perempuan yang satu masih muda, sedangkan yang lainnya sudah tua. Rupanya si perempuan muda sudah berpengalaman kena razia. Dia bahkan mengungkapkan bahwa dirinya sering membayar izin tinggal secara “gelap-gelapan” kepada para polisi bejat. Adapun si perempuan tua baru kali ini tertangkap dan ketakutan, sama halnya dengan si “aku”.

Saat itu akhir pekan dan di kantor polisi tidak ada petugas yang berwenang. Maka si “aku” pun terpaksa menginap di tahanan hingga akhir pekan usai. Pada malam-malam yang tidak menenteramkan itu, si aku mendengar, di sel lain, si perempuan tua memohon-mohon pada penjaga tahanan agar dibebaskan. Selain itu, dia menyaksikan kebenaran perkataan si perempuan muda sewaktu di van. Ketika para tahanan yang lain sedang tertidur, si penjaga menjemput si perempuan muda dan entah ke mana mereka seterusnya.

Cerita ini dipublikasikan di Words Without Borders edisi Juli 2014: “Migrant Labor”, dan ternyata merupakan penggalan novel. Pantas saja. Jika kita membaca cerita ini tanpa mengetahui tentang itu sebelumnya, mungkin bakalan terlintas dalam pikiran kita: Siapa Bibi Hindun? Khoula? Ghassan? Nama-nama itu muncul selewat saja dalam narasi si “aku” tanpa mengambil peran signifikan. Selain itu, si “aku” sempat mengatakan bahwa dirinya orang Kuwait yang tidak mirip orang Kuwait.

Setelah menelusuri lebih lanjut tentang teks ini dan membaca sinopsis novelnya, teranglah bahwa si “aku” ternyata anak dari seorang pemuda Kuwait dan pembantunya yang berasal dari Filipina. Si “aku” yang masih bayi dan ibunya kemudian “dipulangkan” ke Filipina karena orang tua si pemuda tidak merestui hubungan tersebut. Nah, setelah beranjak dewasa, si “aku” pun kembali ke negara ayahnya untuk mencari jati diri dan menghadapi berbagai masalah menyangkut identitasnya. Mungkin karena itulah novel ini dijuduli The Bamboo Stalks–batang bambu–tanaman adaptif tanpa akar yang dapat tumbuh di mana saja (menurut situs ini).

Terlepas dari tidak utuhnya konteks dalam penggalan ini, situasi yang disuguhkan saja sudah cukup menarik, khususnya bagi pembaca Indonesia–saya kira. Kita tahu negara kita pun “mengimpor” banyak tenaga kerja ke negara-negara Timur Tengah, yang mana Kuwait termasuk di antaranya. Adakalanya kita mendengar atau membaca berita tentang TKW yang pulang dalam kondisi babak-belur, hamil, bahkan meninggal dunia. Oleh karena itu, saya merasa dapat sedikit bersimpati terhadap cerita ini.

Tidak heran jika novel ini dianggap kontroversial. Penulisnya berani mengungkapkan fenomena yang barangkali enggan diakui oleh masyarakat itu sendiri*. Meski begitu, novel ini toh mendapat penghargaan International Prize for Arabic Fiction pada 2013 serta Kuwait State Appreciation and Encouragement Award, yang menunjukkan bahwa mata masyarakat Arab mulai terbuka akan isu yang diangkatnya. Mudah-mudahan tidak ada lagi kabar tentang perlakuan tidak semena-mena terhadap TKI kita di negara-negara sana.

*Bukankah ini semestinya tugas pengarang? Inspiratif, bukan? Baca deh wawancara dengan Saud Alsanousi di sini untuk inspirasi lebih.

Membaca Cerpen César Aira, “Picasso” (The New Yorker, 11 Agustus 2014)

Bagaimana jika ada jin muncul di hadapanmu dan menyuruhmu memilih satu di antara dua, dan kedua pilihan itu sama-sama dapat memenuhi aspirasimu?

Situasi itu terjadi dalam cerpen “Picasso” karangan César Aira yang terjemahan versi bahasa Inggrisnya oleh Chris Andrews termuat dalam The New Yorker edisi 11 Agustus 2014. Cerpen ini lebih berupa lika-liku pemikiran seseorang yang dihadapkan dalam suatu situasi dan ia mesti mengambil keputusan, ketimbang serangkaian kejadian yang saling berkait dengan unsur-unsur fiksi selazimnya. Cerpen ini bahkan tidak mengandung dialog. Tokohnya paling-paling si “aku” dan si jin–yang sama sekali tidak ditampilkan berbicara secara langsung. Kalaupun ada sosok-sosok lainnya, mereka cuma figuran atau kelebatan dalam benak si “aku”. Membaca cerpen ini serasa menempatkan diri dalam suatu situasi pelik yang ajaib–apa pun itu terserah dikarang sendiri saja yang penting ajaib–lalu menulis berlembar-lembar catatan harian untuk mencari pemecahannya tanpa meluputkan unsur jebakan, yang menurut si “aku” mesti ada dalam karangan.

Dalam cerpen ini, si tokoh dihadapkan pada pilihan: memiliki lukisan Picasso atau menjadi Picasso? Pilihan itu diajukan oleh jin yang muncul sekonyong-konyong dari botol susu yang ia beli. Ia baru keluar dari Museum Picasso dan merasa sangat tergugah seakan-akan tak ada hal lain yang dapat memikatnya lebih daripada kunjungan itu. Ia sangat mengagumi Picasso dan menganggap tidak ada tokoh lain di dunia yang sebanding dengan sang pelukis ulung dari Málaga.

Sebagian orang mungkin berpikir: Mudah saja, jadilah Picasso dan dengan begitu kita bisa membuat lukisan Picasso sebanyak yang kita mau dan menjualnya dan jadi kaya. Tetapi, jalan pikiran si “aku” rupanya tidak sesimpel itu. Pemikirannya bahkan dapat mengajak kita untuk turut berpikir filosofis akan diri kita sendiri: Maukah kita menyerahkan diri kita begitu saja untuk menjadi orang lain, meskipun dia orang yang sangat hebat, dan pastinya memiliki permasalahannya sendiri namun toh tak akan seberat yang kita alami?

Dalam pemikiran si “aku” pun terasa adanya kesadaran bahwa orang tidak perlu meraup yang setinggi-tingginya jika yang sederhana saja–yang sesuai dengan keperluan saja–cukup.

Sejak mula–ketika jin mengajukan kedua pilihan itu padanya–si “aku” langsung teringat akan cerita-cerita tentang “tiga permintaan”. Ia telah belajar bahwa sifat tamak dan sikap gegabah akan membawa manusia pada penderitaan. Ia pun menyadari bahwa dirinya tengah berada dalam situasi persis seperti dalam cerita-cerita tersebut, dan dalam karangan selalu ada jebakan. Oleh karena itu, ia mempertimbangkan dengan hati-hati tawaran si jin hingga separuh cerpen ini … hingga ia memutuskan ….

Paruh berikutnya menceritakan konsekuensi atas keputusan si “aku”. Di sini ia mengajak kita untuk mengenal lebih dalam dunia Picasso, bukan saja yang terdapat di permukaan, tetapi juga yang berada di baliknya dan membutuhkan interpretasi; teknik melukis, permainan bahasa, bahkan sekelumit sejarah.

Akan tetapi, sekalipun si “aku” sudah menginsafi situasi yang tengah dialaminya, ia tak luput dari jebakan. Bagaimanapun juga, ia sendiri tokoh dalam cerita. Maka, setelah menyasarkan kita dalam labirin pemikiran si “aku”, cerpen ini tidak hanya membentuk “kebulatan”*, tetapi juga merupakan metafiksi.

Jika kita menelusuri lebih lanjut tentang Aira maupun Picasso, dapat disimpulkan bahwa si penulis cerpen tak ubahnya sang pelukis ulung. Mereka sama-sama frenetic (lebih sophisticated ketimbang prolifichuh?); telah menghasilkan karya yang berlimpah ruah. Dari beberapa ulasan mengenai Aira, tampaknya konten dalam karya-karyanya sangat beragam dan fantastis–seperti deskripsinya terhadap lukisan Picasso saja: it was a chaos of dislocated figures. Maka timbul dugaan: Jangan-jangan melalui cerpen ini César Aira hendak mengungkapkan sumber inspirasinya dalam berkarya. Hanya saja, jika Picasso menuangkan seninya melalui lukisan dan berbagai bentuk seni rupa lain, maka Aira menggunakan kata-kata yang hasilnya berupa novel-novel pendek, cerpen, esai, dan terjemahan.

* Istilah yang biasa kami gunakan secara tidak semena-mena untuk mengomentari cerita yang awalan dan akhirannya nyambung ….

Membaca Cerpen Alexandre Najjar, “The Dragon of Rabieh” (Words Without Borders, Maret 2008)

Cerita ini merupakan karangan penulis Lebanon, Alexandre Najjar, yang ditulis dalam bahasa Prancis dan diterjemahkan ke bahasa Inggris oleh Laurie Wilson, termuat dalam Words Without Borders edisi Maret 2008: The Groves of Lebanon. Ada beberapa hal menarik dari cerita ini menyangkut Indonesia, ceritanya itu sendiri, serta riwayat penulisnya.

Dikisahkan: Inspektur Barud tengah bingung menghadapi suatu kasus. Muncul desas-desus bahwa monster ganjil sedang berkeliaran di pemukiman orang kaya di Gunung Lebanon. Monster itu mengacak-acak halaman, mengotori kolam renang, mengganyang ayam-ayam, dan mengigiti kuda. Media ramai memberitakannya. Bahkan Menteri Dalam Negeri sampai memerintahkan kepolisian untuk lekas-lekas mengatasi kasus itu.

Dalam kebingungan, Inspektur Barud didatangi seorang wanita. Wanita itu mengatakan bahwa monster yang tengah menjadi sumber kepanikan itu boleh jadi komodo piaraan anaknya. Hewan itu dibawa anaknya dari Indonesia bertahun-tahun lalu kemudian lepas di hutan, tidak pernah ditemukan lagi. Hewan itu sekarang mestinya sudah besar dan berkeliaran mencari mangsa demi bertahan hidup.

Inspektur Barud pun mengecek keterangan wanita itu di ensiklopedia. Ia menjadi yakin, nalurinya menguatkan dirinya. Ia menyampaikan itu pada bosnya, Superintenden Jamil. Karena keyakinannya itu, bosnya pun mengerahkan banyak pihak mulai dari polisi, damkar, pramuka, satpam, sampai angkatan darat untuk mencari makhluk itu. Namun hasilnya nihil. Menteri Dalam Negeri yang berang pun memutasi Superintenden Jamil ke perbatasan Lebanon-Israel; adapun Inspektur Badur, yang dipindahkan ke daerah yang merupakan sarang Hizbullah, terus menaruh dendam pada kadal yang telah menginjak-injak harga dirinya.

Ketika membaca cerita ini, saya takjub menemukan Indonesia dan hewan endemiknya, komodo, disebut-sebut. Gokil, ada komodo kesasar ke Lebanon! Padahal Lebanon bukan negara populer di Indonesia (yah, dibandingkan Jepang, Korea Selatan, dan belakangan ini, Turki), dan entahlah sebaliknya. Orang Lebanon yang membaca cerita ini mungkin akan tertarik pada Indonesia. (Terima kasih pada Pak Alexander Najjar.) Jadi cerita ini seakan-akan semacam iktikad baik untuk menghubungkan kedua negara, begitukah? Hahaha. Lagi pula, dalam rangka apa anak lelaki wanita yang menemui Inspektur Barud itu ke Indonesia? Jika untuk berwisata, khususnya ke Taman Nasional Komodo, bukankah itu berarti Indonesia memang terkenal? Kok bisa ia menyelundupkan seekor komodo, hewan yang statusnya dilindungi itu? Masyaallah. Yang lebih menakjubkan lagi, cerita ini betul-betul berdasarkan kejadian nyata! Konon, komodo itu sengaja dilepaskan oleh seorang ekspartiat Jerman.

Ide tersebut dikemas dalam petingkahan yang kocak. Cerita ini seperti semacam satire, ketika menyampaikan betapa penduduk Lebanon, yang berhasil bertahan selama lima belas tahun dalam perang saudara, geger akibat makhluk yang tidak diketahui wujudnya; juga betapa mereka, kendati religius, namun percaya pada hal-hal klenik seperti ramalan bintang hingga patung yang dapat mengeluarkan minyak, air, dan darah. Inspektur Barud sendiri pada dasarnya seorang skeptis yang tidak memercayai hal-hal tersebut, namun ia sangat yakin akan nalurinya. Meski begitu, adakalanya ia terkecoh seperti dalam kasus Biawak Komodo ini. Jika Inspektur Barud mendendam pada si kadal, saya agak kecewa karena ceritanya diakhiri dengan begitu saja. Usaha Inspektur Barud dan rekan-rekannya berbuah nihil, sehingga biang keladinya pun masih misteri. Betulkah itu si Komo? Jika betul, ke manakah dia sehingga tidak berhasil ditemukan? Apakah dia kembali ke Jakarta dan bikin macet?

Penulis cerita ini, yaitu Alexandre Najjar, lahir di Beirut pada 1967, namun menulis dalam bahasa Prancis. Ia bukan saja penulis yang produktif (telah menerbitkan lebih dari 30 buku dan diterjemahkan ke dalam lebih dari 12 bahasa), tapi juga pengacara dalam bidang hukum keuangan dan perbankan. Saya selalu kagum pada penulis yang selain produktif berkarya juga menjalani kehidupan profesional lainnya.

Membaca Cerpen Alice Walker, “To Hell with Dying” (1968)

Jika ingin membuat cerpen dengan pendekatan karakter, barangkali “To Hell with Dying” karya Alice Walker (1968) dapat dijadikan salah satu model. Cerpen ini mengisahkan tentang sosok Mr. Sweet, seorang lelaki kulit hitam, alkoholik, pengidap diabetes, dan seniman gitar, yang tinggal di pedalaman Amerika Serikat pada sekitar paruh pertama abad dua puluh.

Cerita disampaikan melalui sudut pandang orang pertama, seorang perempuan yang mengenal Mr. Sweet sejak dia masih kecil hingga dewasa. Keluarganya pun amat dekat dengan lelaki itu. Tiap kali Mr. Sweet jatuh sakit dan seakan sekarat, mereka ramai-ramai mendatangi gubuk lelaki itu dan berusaha “menghidupkan”nya kembali. Namun pada akhirnya mereka tak lagi kuasa menahan maut menjemput Mr. Sweet pergi.

Tokoh Mr. Sweet rupanya didasarkan pada sosok yang benar-benar ada. Demikian dibeberkan Alice Walker dalam tulisannya, “Remembering Mr. Sweet” dalam The New York Times Book Review, selang dua puluhan tahun sejak cerpen itu diterbitkan. Mr. Sweet yang asli persis seperti yang digambarkan Alice Walker dalam cerpennya. Ia seniman gitar yang suka duduk-duduk di dapur rumah kakek-neneknya. Mereka memberinya makanan dan duduk berkumpul di sekitarnya, sementar ia membawakan lagu. Namun rupanya ingatan Alice Walker sebatas itu, dan samar pula. Meski begitu, ia tahu bahwa Mr. Sweet merupakan sosok langka yang sudah menjadi bagian dari keluarganya, dan mereka sangat menghargainya, sekalipun lelaki itu pemabuk, penjudi, dan kadang “menggila”. Barangkali karena ia seniman, maka, terlepas dari segala permasalahannya itu, karismanya dapat menimbulkan empati dan perenungan bagi siapa saja melalui musik dan lirik gubahannya.

Dalam cerpen, pengalaman dengan Mr. Sweet itu dikembangkan sehingga hubungan antara si narator (yang mewakili pengarang)–beserta keluarganya–dan lelaki itu lebih intens daripada kenyataannya. Bagaimanapun, dalam kenyataannya, walau mengenal Mr. Sweet sekilas saja, sosok itu telah menjadi semacam idola bagi si pengarang. Ia juga ingin menjadi seniman, berkulit hitam, miskin, dan terlebih lagi: seorang wanita–yang posisinya acap termarjinalkan. Maka ia sedih sekali ketika mendapat kabar bahwa Mr. Sweet meninggal, dan tidak dapat menjenguknya pula karena tidak punya uang.

Di samping romantika yang jelas terasa antara si narator (atau si pengarang) dan Mr. Sweet (malah mungkin itu merupakan suguhan utamanya), mengetahui kenyataan tentang sumber inspirasi cerpen ini menambahkan kesan wishful thinking. Namun terlepas dari romantisasi itu–bagaimanapun juga cerpen ini merupakan karya fiksi–kedekatan antara keluarga si narator dan Mr. Sweet menarik untuk diperhatikan. Apalagi jika itu dibandingkan dengan kenyataan di lingkungan kita. Barangkali kasih sayang antar tetangga seperti yang ditunjukkan dalam cerpen ini bukanlah hal yang lazim di lingkungan tertentu. Jangankan dengan yang “cuma” tetangga seperti Mr. Sweet, dengan orang serumah pun belum tentu kita dapat menunjukkan kasih sayang secara intens.

(Saya mencoba menerjemahkan cerpen ini ke dalam bahasa Indonesia, hasilnya bisa dilihat di sini.)