Tiga Tahapan Tiga Warna

Baru-baru ini saya mengetik ulang cerita dari Bobo lawas. Cukup mengasyikkan. Saat membuka halaman-halaman majalah tersebut, terasa kembali semarak dunia anak-anak, ketika segalanya tampak menarik dan menimbulkan keingintahuan, imajinatif, fantastis, lucu, dan sebagainya. Nostalgia. Cerita-cerita yang saya ketik ulang itu walau sederhana, namun mengandung gagasan kreatif maupun pengetahuan, dan, terutama, menenteramkan*: kebaikan pasti menang; hitam dan putih tampak benderang walau hanya di permukaan.

Lalu tebersit pikiran untuk memandang hidup ini menurut tiga tahapan.

Tahap pertama, yaitu masa anak-anak, zona hitam-putih. Sebetulnya masa ini tidak murni hitam-putih, sebab itu merupakan kacamata yang para pendidik berupaya memakaikannya pada kita. Kita toh belum benar-benar bisa membedakan yang hitam dengan yang putih itu menurut pemahaman sendiri.

Tahap kedua, yaitu masa remaja atau dewasa muda, zona abu-abu. Istilah kerennya sih coming of age. Pada masa ini kepolosan memudar, mulai tumbuh kesadaran akan kesenjangan antara diri dan dunia nyata di sekelilingnya. Kacamata hitam-putih yang dulu dipakaikan mulai terasa tidak cocok, dan ketika dilepas yang tampak serba abu-abu. Yang hitam dan yang putih mengabur. Hidup bukan melulu soal yang baik dan yang jahat, bahkan kita sulit menentukannya. Agaknya pandangan kita tengah dikeruhkan oleh gejolak diri yang memang sedang masanya.

Tahap ketiga, yaitu masa dewasa matang, zona hitam-putih keabu-buan. Badai mungkin tidak sepenuhnya berlalu seperti yang dikatakan dalam lagu itu. Namun, di sela-sela terpaan angin ribut dan dera hujan, kita mulai dapat melihat yang terang. Kadang penglihatan kita mengabur sehingga susah lagi menentukan arah. Tetapi, ketika cahaya kesadaran kembali menyorot, kita tahu bahwa ke arah terang itulah kita hendak berpegang dan menuju, memperjuangkannya.

Pandangan ini mungkin bisa diterapkan dalam pembacaan/penulisan, katakanlah karya fiksi. Karya pada tahap pertama itu seperti cerita anak, atau cerita dewasa dengan pelakonan sesederhana gadis baik melankolis versus ibu tiri berhati bengis. Karya pada tahap kedua berupa cerita yang apa adanya, tidak berpretensi memberikan suatu arahan pada pembaca sebab penulisnya sendiri belum bisa atau sebodo teuing dalam menentukannya. Karya pada tahap ketiga yaitu ketika penulis berusaha menunjukkan “pencerahan” dengan cara sesamar mungkin sehingga cuma pembaca dengan penglihatan bagus yang dapat menemukannya.

Cuma Ilmu Lamun sih, tanpa Ilmu Filsafat apalagi Ilmu Sastra. Bukan serius.

*) Jika masih punya nafsu untuk mengorek-ngorek koreng duniawi dan punya banyak waktu, tiap-tiap cerita anak tersebut bisa saja dibuat versi undercover atau politically correct-nya; diperluas bingkainya dan diperumit. Misal, ayah Pian yang menganggur itu di-PHK karena memperjuangkan hak-hak buruh di pabrik tempat kerjanya dulu, atau, sebetulnya ia suka menghabiskan waktu dengan mabuk ciu, mengadu babi, dan lagi diburu oleh kader Partai yang enggak kira-kira saat menagih pajak.

Belajar dengan Menerjemahkan Ulang

The Kite Runner_01.jpg

Atas: Teks sumber (The Kite Runner karya Khaled Hosseini); Tengah: Hasil latihan; Bawah: Hasil latihan disesuaikan dengan teks terbitan Qanita, cetakan I, Maret 2006 (penerjemah Berliani M. Nugrahani, penyunting Pangestuningsih, proofreader Herlina Sitorus)

Beberapa waktu lalu saya memiliki partner berlatih menerjemahkan. Awalnya, salah seorang dari mereka mengusulkan untuk menerjemahkan The Perks of Being Wallflower (selanjutnya TPBW) bersama-sama, lalu hasilnya dipertukarkan dan dibandingkan sebagai bahan belajar. TPBW dipilih karena merupakan novel remaja yang bahasanya relatif sederhana. Dari membandingkan hasil terjemahan, ditemukanlah sekian perbedaan. Perbedaan itu menjadi patokan untuk memperbaiki hasil terjemahan sendiri.

Ternyata, walau bahasanya relatif sederhana, ada saja ungkapan yang memerlukan penelusuran lebih jauh. Kebodoran pun terjadi. Karena sama-sama baru belajar dengan pemahaman bahasa yang kurang mendalam, mungkin juga karena pakewuh, kami sulit menentukan hasil terjemahan siapa yang betul. Bagaimana diskusi bisa berjalan? Partner saya itu bilang: Seperti orang buta menuntun orang buta.

Baru belakangan ini saya terpikir untuk mencoba cara lain dalam belajar menerjemahkan: Menerjemahkan teks yang sudah pernah diterjemahkan orang lain dan diterbitkan, terutama yang buku terjemahannya laris (anggaplah itu sebagai yang baku), lalu membandingkan hasilnya. Cara ini seperti dalam blog Latihan Menerjemahkan Novel, hanya saja tanpa ulasan sehingga perlu proaktif dalam membandingkan hasil latihan dengan terjemahan yang dianggap baku itu.

Dulu saya kurang tertarik dengan cara ini karena ingin menerjemahkan karya yang belum pernah diterjemahkan orang lain. Akan tetapi, ada waktunya ketika orang mulai merenungkan draf yang menumpuk dan mempertanyakan kualitas.

Terjemahan Dongeng Novianita, “Kendi di Depan Rumah”/”Jug in the Front Yard” (Kompas Klasika, 31 Januari 2016)

Untuk mengasah kemampuan berbahasa Inggris secara tertulis, saya mencoba menerjemahkan tulisan dari bahasa Indonesia ke bahasa Inggris. Cerita anak dipilih sebagai bahan belajar karena bahasanya sederhana. Penyajiannya di blog ini–yang berselang-seling antara teks sumber dan sasaran–terinspirasi dari blog Raysa Prima. Terjemahan ini pastinya tidak luput dari kesalahan. Saya sangat terbuka dan berterima kasih apabila ada pembaca yang berkenan memberikan saran.

Kendi di Depan Rumah

Jug in the Front Yard

Penulis : Novianita

Writer : Novianita

“Bima, kendinya sudah kamu isi?” tanya eyang dari depan pintu kamar Bima.

“Bima, have you filled the jug?” asked Eyang[1] in front of Bima’s bedroom door.

Bima meletakkan novel, lalu beringsut dari tempat tidur. “Belum Bima isi, Eyang. Paling, masih ada.”

Bima put his novel, then moved slowly from the bed. “I haven’t filled the jug yet, Eyang. I guess there’s still some water in it.”

“Kalau kendi itu kosong, kasihan orang-orang yang kehausan.”

“If the jug is empty, poor those who are thirsty.”

Bima lalu menenteng ceret mungil keluar dari dapur. Setiap ceret berayun, sepercik air tumpah dari mulut ceret.

And then Bima carried a tiny jug out of kitchen. Every time the jug swung, a splash of water spilled from its mouth.

“Aduh, Bima. Sayang airnya. Banyak orang ndak bisa minum,” omel eyang.

“Oh, Bima. What a waste. Many people can’t afford drink,” grumbled Eyang.

Eyang menyediakan sebuah kendi besar lengkap dengan gelasnya di depan pagar rumahnya di Klaten, Jawa Tengah. Pedagang keliling atau siapa pun yang kebetulan lewat dan merasa haus bisa minum air dari kendi itu.

Eyang provides a big jug of water, completed with some glasses in front of her gate in Klaten, Central Java. Peddler or anyone who happens to pass and feels thirsty can drink water in it.

Sebelum dan sepulang sekolah, Bima harus memastikan kendi itu selalu terisi. Saat matahari sangat terik, kendi itu cepat sekali kosong karena banyak pedagang keliling yang minum air.

Before and after school, Bima has to make sure that the jug is always filled. When the sun is very hot, the jug is quickly empty since many peddlers drink the water.

Keesokan hari saat pulang sekolah. “Panas sekali hari ini,” gumam Bima yang kehausan. Sayangnya, bekal air minum di botol sudah habis. Lalu, ia melihat teman-temannya mengerumuni para penjual minuman dingin di depan sekolah. Bima hanya bisa menatap kepingin karena tidak berbekal uang.

The next day after school. “It’s hot today,” mumbled Bima, who was thirsty. Unfortunately, he ran out of water in his drinking bottle. And then, he saw his friends was gathering around cold drink pedlars in front of the schoolyard. Bima could only stare in thirst because he didn’t bring any money.

Bima lalu bergegas pulang. Berkali-kali ia menjilati bibir karena menahan haus. Di tengah perjalanan, ia bertemu pedagang yang menarik gerobak penuh bertumpuk-tumpuk ember. Bibir si pedagang tampak kering karena terlalu lama menahan haus.

And then Bima rushed home. Many times he licked his lips, suffering thirst. On his way home, he saw a peddler pulling a cart filled with piles of buckets. The peddlar’s lips were dry for too long suffering thirst.

Bapak itu pasti haus sekali, batin Bima. Semoga dia lewat depan rumahku biar bisa minum dari kendi eyang. Eh, kendi eyang? Tadi pagi belum aku isi! gumam Bima.

That man must be very thirsty, thought Bima. I hope he will pass in front of my home so he can drink from Eyang’s jug. Ah, Eyang’s jug? I haven’t filled it up this morning! murmured Bima.

“Selamat siang, Eyang,” ujar Bima saat masuk ke rumah. “Bima haus. Bekal minum Bima habis,” katanya sambil menyambar segelas air yang disodorkan eyang.

“Good afternoon, Eyang,” said Bima, going into home. “I’m thirsty. My drinking bottle is empty,” he said, at the same time grabbing a glass of water Eyang gave him.

“Eyang, baru saja di jalan. Aku bertemu tukang ember. Sepertinya tukang ember itu haus sekali. Terus aku ingat. Tadi pagi aku lupa mengisi kendi,” ujar Bima.

“Eyang, I’ve just met a bucket peddler on my way home. He seemed very thirsty. And then I remember that this morning I forgot to fill the jug,” said Bima.

“Besok jangan lupa lagi, ya. Tadi sudah diisi Eyang Kakung sebelum ke kantor.”

“Then you must not forget tomorrow. Eyang Kakung[2] had filled it before he went to work.”

“Iya, Eyang. Bima janji ndak lupa lagi. Kasihan kalau ada pedagang kehausan. Bima saja haus sekali, padahal cuma bawa ransel. Pedagang itu bawa dagangannya berat sekali. Pasti lebih haus dari aku.”

“I promise, Eyang, I will not forget anymore. How pity the thirsty peddler. I felt very thirsty, though I carried mere backpack. While the peddler carried such heavy load. He must be thirstier than me.”

“Ya, itulah sebabnya Eyang menyediakan kendi. Biar mereka bisa minum gratis. Rumah ini punya air bersih yang melimpah agar Eyang bisa berbuat baik untuk mereka yang kehausan.”

“That’s way I provide the jug so they can have free drink. This home has abundance pure water, so I can be kindly giving some to the ones who feel thirsty.”

“Bima juga ingin berbuat baik,” sahut Bima penuh tekad.

“I want to be kind, too,” said Bima in determination.

Semenjak hari itu, Bima tidak pernah lupa mengisi kendi. Ia senang bisa berbuat baik untuk orang lain melalui sekendi air.

From that day on, Bima never forget to fill the jug. He is happy doing good thing for other people by a jug of water.

Dari Kompas Klasika, Minggu, 31 Januari 2016

From Kompas Klasika, Sunday, January 31, 2016

[1] (Java) term of address and reference for grandparent

[2] (honorific, Java) male

Catatan: Tradisi menaruh kendi di depan rumah ini pertama kali saya dengar dari dosen bertahun-tahun lalu. Sejak kecil, saya tidak pernah menemui tradisi itu di lingkungan perumahan saya di Jawa Barat, termasuk di tempat saudara saya di beberapa kawasan berbahasa Jawa, yang hampir semuanya berada di perkotaan. Maka ketika mengetahui adanya tradisi itu, dan mengingat betapa banyaknya pedagang keliling yang lewat di sekitar rumah sepanjang hari, saya merasa tersentil. Tradisi ini baik sekali, sehingga sayang karena tidak dilestarikan dan malah akibatnya terasa tidak lazim jika dilakukan.

Mengubah Cara Membaca

Dulu, seperti banyak orang, saya berusaha untuk membaca buku sebanyak-banyaknya, dan menuliskan pembacaan saya di blog (atau, bahasa bekennya sih: ngereview). Tetapi kemudian sampailah saya pada suatu titik ketika saya merasa semua itu tidak ada gunanya dalam kehidupan nyata, dan daya tangkap saya terhadap bacaan pun kian biarpet. Sering kali pembacaan saya hanya sekadar menyapu kata demi kata, dari halaman awal hingga akhir–asal tamat–tanpa benar-benar memahami maksudnya, dan ketika menutup buku benak saya bak disaput halimun.

Tetapi, saya tidak bisa berhenti membaca sama sekali. Kalau bukan buku, saya membaca cerita-cerita di internet, atau majalah … lalu kembali lagi ke buku, meski dosisnya berkurang.

Lalu saya berpikir bahwa saya perlu memperbaiki pembacaan saya; mengesampingkan kuantitas dan memajukan kualitas. Barangkali saya perlu membaca dengan lambat, sembari membuat catatan, dan ketika pembacaan selesai–seperti biasanya–saya membuat jurnal, merefleksikan kandungan buku itu pada diri pribadi saya–minimal satu halaman buku tulis–dan tidak harus dipajang di blog seperti sebelumnya. Lagi pula menulis jurnal pembacaan sudah menjadi pembiasaan sejak SMA, sehingga rasanya tidak afdal ketika sehabis membaca buku lalu tidak menulis tentang itu biarpun hanya untuk diri sendiri. Menulis jurnal juga menjadi cara untuk menguji pemahaman akan bacaan (dan karena itu saya sering malu untuk memperlihatkannya; isinya paling-paling kesan yang sangat personal lagi subjektif sekali, dan malah melantur ke mamana … tidak berhubungan lagi dengan bacaan).

Betapapun jua, hasrat untuk berbagi masih ada, tanpa peduli akankah ada orang yang mengaksesnya; yang penting saya sudah menyampaikannya di tempat umum, atau istilah lumrahnya, media sosial, dan berharap saja akan ada orang yang kesasar ke situ.

Maka, saya pun mencoba cara-cara berikut.

Memperluas topik bacaan

Jika sebelumnya saya menggandrungi fiksi, dan sesekali saja nonfiksi seputar sastra, jurnalistik, agama, dan sebagainya, belakangan saya berusaha untuk membaca lebih banyak nonfiksi terutama tentang agama (supaya tidak tergolong Jamaah Alkatepewiyah), sejarah (karena ibu saya mengoleksinya jadi sayang kalau tidak dimanfaatkan menarik mengetahui cara manusia mengatasi kehidupan sejak awal penciptaan hingga sampai pada keadaan sekarang), dan topik-topik menyangkut “kecakapan hidup”. Saya juga berusaha menyisihkan waktu untuk membaca koran karena kadang kala ada hal menarik yang kita bisa ambil dari situ, untuk digunting, disimpan, dan dibaca lagi kapan-kapan (Pinterest analog, yeah).

Membuat blog kutipan

Sering kali saya membaca suatu teks dan hanya menangkap kalimat-kalimat tertentu alih-alih intinya secara keseluruhan, dan, sebetulnya, saya belum tahan memperlambat kecepatan membaca, atau membaca ulang hingga berkali-kali, apalagi mesti disambi membuat catatan. Maka, jika saya belum bisa menyampaikan kembali maksud teks secara keseluruhan, boro-boro analisis atau tanggapan kritis, saya kutip saja bagian yang mengena itu dan mengumpulkannya dalam suatu wadah–sekalian menjadi kotak memori.

Membuat blog terjemahan

Setelah beberapa kali mencoba, saya menyadari banyak sekali manfaat menerjemahkan, di antaranya, ya, dapat menangkap maksud teks secara mendingan. Menerjemahkan terasa seperti membaca sekalian menulis–sambil menyelam minum air. Ketika saya jenuh membaca dan menulis, menerjemahkan seakan menjadi solusi. Maka, dibuatlah blog yang khusus menampung hasil percobaan saya, supaya saya merasa perlu untuk terus memperbaruinya secara berkala, ya, dengan tidak putus menerjemahkan.

Membuat blog apresiasi cerpen Indonesia ramai-ramai

Menulis review buku di blog itu biasa … banget, bahkan ada komunitasnya. Tetapi, menulis review cerpen, cerpen Indonesia pula, di blog? Saya kira jumlah pelakunya tidak sebanyak reviewer buku. Padahal cerpen panjangnya jauh lebih singkat ketimbang novel, sehingga dapat menjadi bahan yang praktis dalam pembelajaran sastra. Yah, kita tahu apresiasi sastra di Indonesia tidaklah sesemarak di Barat. Kalau kita googling satu saja judul cerpen lawas Barat, sebutlah “Miss Brill” dari Katherine Mansfield, atau “Popular Mechanics” dari Raymond Carver, kita akan menemukan banyak blog yang mengulasnya. Blog bule yang rajin membahas cerpen di antaranya The Mookse and the Gripse, The Sitting Bee, dan Great Writers Steal. Mengapa tidak, kita mencoba seperti mereka–belajar dari cerpen–cerpen produk negeri sendiri pula? Terinspirasi dari penemuan itu, tercetuslah gagasan blog yang khusus memajang review cerpen Indonesia–ditulis dalam bahasa Indonesia dan oleh penulis Indonesia. Proyek ini mula-mula dijalankan oleh tim yang notabene anggota Kemudian.com dan bercita-cita merangkul kontributor serta pengurus dari mana saja–terbuka bagi khalayak seluas-luasnya. Berkat kerja tim, blog ini dapat memperbarui kontennya secara reguler hingga–sebagaimana lazimnya terjadi pada gagasan apa pun yang tampak “wah” pada awalnyaaa–mandek setelah beberapa bulan.

Mengetik ulang teks dari media cetak

Niat saya semakin kuat setelah membaca artikel di Pikiran Rakyat, edisi Minggu, 13 Desember 2015, tentang aksi Ngetik Keroyokan. Aksi tersebut berupa mengetik ulang teks dari buku cetak untuk dijadikan bahan membuat buku braille. Kebetulan di rumah saya ada tumpukan majalah lawas yang memuat cerpen-cerpen karangan penulis besar seperti Danarto, Putu Wijaya, Leila S. Chudori, hingga George Bernard Shaw, Pearl S. Buck, dan William Faulkner. Saya kira pencinta sastra akan tertarik membacanya dan, barangkali, ada yang hendak membraillekannya. Maka, sudah beberapa minggu ini secara reguler saya mengetik ulang cerpen dari majalah lawas itu dan mengirimkan drafnya ke suatu situs yang misinya mengarsipkan karya sastra Indonesia dari media cetak. Inisiatif ini pun tidak akan muncul tanpa membaca posting-an di blog pengurus situs tersebut, yang memberitahukan bahwa cerpen lawas hendak dipajang juga di sana. Sambil mengetik cerpen–cerpen itu, saya sekalian mengikuti jalan ceritanya … untuk pertama kali. Soalnya, jika tidak disambi begitu, belum tentu saya menyempatkan diri untuk membacanya.

Membaca audiobook

Lagi-lagi supaya sambil menyelam minum air. Daripada pikiran tidak produktif saat menyapu, mengepel, menyiram tanaman, menjahit, dan sebagainya, mending diisi dengan pengetahuan dari buku. Caranya, ya, dengan mendengarkan audiobook. Ada beberapa situs di internet yang menyediakan audiobook dan bisa diunduh secara cuma-cuma. Tidak saja melatih kemampuan mendengarkan (atau berkonsentrasi), jika audiobook yang didengarkan berbahasa Inggris (atau bahasa asing lainnya yang sedang dipelajari), kita bisa sekalian menguji perbendaharaan kata dan pemahaman. Akan lebih baik jika tersedia pula versi teks (misalnya epub) dari audiobook tersebut, sehingga pada waktu senggang kita bisa membandingkan keduanya dan mencari tahu sekaligus mempelajari pengucapan kata-kata asing yang tidak dimengerti saat hanya didengarkan.

Membagi waktu antara membaca teks dan membaca yang lainnya

Membaca tidak mesti berhubungan dengan teks. Menurut Kamus Besar Bahasa Indonesia, membaca dapat berarti mengetahui, meramalkan, memperhitungkan, dan memahami dalam konteks yang umum, misalnya saja membaca garis tangan untuk mengetahui peruntungan atau membaca permainan lawan untuk memperhitungkan strategi. Umat Islam pun mengenal adanya ayat qauliyah (sebagaimana yang tersurat dalam Alquran) dan ayat kauniyah (yaitu yang tersirat pada segala ciptaan Allah berupa alam semesta dan isinya). Ayat pertama Alquran yang turun memerintahkan agar manusia aktif membaca kedua tipe ayat tersebut. Dalam praktiknya, cara ini bisa dilakukan dengan meletakkan buku sejenak, memerhatikan keadaan di sekitar, berjalan-jalan sambil terus mengamat-amati, dan … berbuatlah sesuatu, agar pikiran seimbang dengan tindakan. Terlalu banyak berpikir dan terlalu sedikit bertindak membikin kita makin terasing dari kenyataan dan tidak akan mengubah apa-apa selain, mungkin, memperburuk kesehatan mental, bukankah begitu? Dengan cara ini pula hidup dapat berarti membaca sepanjang waktu.

Dengan cara-cara tersebut, saya merasa kebiasaan membaca jadi lebih berdaya guna sementara kemampuan menulis (atau sekadar mengetik cepat-cepat) tetap terasah. Saya menyadari bahwa pada dasarnya saya senang membaca dan menulis, meski sering kali tidak memahami apa yang dibaca sementara apa yang ditulis tidak jelas baik struktur maupun intinya. Tetapi, seperti kata-kata mutiara di bawah halaman buku tulis, It’s never late to learn (though sometimes we learn when it’s too late–and it’s been more than a decade, actually). Maka, seperti yang dianjurkan Rumah Sakit dalam “Untuk Semua”, saya pun bersyukur kau (saya) masih berjiwa (literer), di samping terus berusaha menyeimbangkannya dengan berbagai aktivitas fisik. Alhamdulillah, ya.

diperbarui: 20160213

Terima kasih kepada Arip yang lagi-lagi menambah ilham.

 

 

Membaca Penggalan Novel Saud Alsanousi, The Bamboo Stalk (Words Without Borders, Juli 2014)

Dikisahkan bahwa pada suatu malam si narator hendak menukar tabung gas ke pasar induk. Ia naik taksi dan terjebak dalam kemacetan di Jabariya. Jabariya itu nama kawasan ramai di Kuwait, salah satu negara di Timur Tengah. Rupanya ada razia. Namun, ketika diminta menunjukkan kartu identitas, si “aku” menyadari bahwa dia lupa membawa dompet. Dia pun dibawa ke kantor polisi bersama beberapa orang lainnya yang terjaring. Para korban razia itu rata-rata imigran, mulai dari Arab, India, Bangladesh, sampai Filipina.

Dalam perjalanan menuju kantor polisi, terjadi percakapan antara si “aku” dan dua orang perempuan dari Filipina. Perempuan yang satu masih muda, sedangkan yang lainnya sudah tua. Rupanya si perempuan muda sudah berpengalaman kena razia. Dia bahkan mengungkapkan bahwa dirinya sering membayar izin tinggal secara “gelap-gelapan” kepada para polisi bejat. Adapun si perempuan tua baru kali ini tertangkap dan ketakutan, sama halnya dengan si “aku”.

Saat itu akhir pekan dan di kantor polisi tidak ada petugas yang berwenang. Maka si “aku” pun terpaksa menginap di tahanan hingga akhir pekan usai. Pada malam-malam yang tidak menenteramkan itu, si aku mendengar, di sel lain, si perempuan tua memohon-mohon pada penjaga tahanan agar dibebaskan. Selain itu, dia menyaksikan kebenaran perkataan si perempuan muda sewaktu di van. Ketika para tahanan yang lain sedang tertidur, si penjaga menjemput si perempuan muda dan entah ke mana mereka seterusnya.

Cerita ini dipublikasikan di Words Without Borders edisi Juli 2014: “Migrant Labor”, dan ternyata merupakan penggalan novel. Pantas saja. Jika kita membaca cerita ini tanpa mengetahui tentang itu sebelumnya, mungkin bakalan terlintas dalam pikiran kita: Siapa Bibi Hindun? Khoula? Ghassan? Nama-nama itu muncul selewat saja dalam narasi si “aku” tanpa mengambil peran signifikan. Selain itu, si “aku” sempat mengatakan bahwa dirinya orang Kuwait yang tidak mirip orang Kuwait.

Setelah menelusuri lebih lanjut tentang teks ini dan membaca sinopsis novelnya, teranglah bahwa si “aku” ternyata anak dari seorang pemuda Kuwait dan pembantunya yang berasal dari Filipina. Si “aku” yang masih bayi dan ibunya kemudian “dipulangkan” ke Filipina karena orang tua si pemuda tidak merestui hubungan tersebut. Nah, setelah beranjak dewasa, si “aku” pun kembali ke negara ayahnya untuk mencari jati diri dan menghadapi berbagai masalah menyangkut identitasnya. Mungkin karena itulah novel ini dijuduli The Bamboo Stalks–batang bambu–tanaman adaptif tanpa akar yang dapat tumbuh di mana saja (menurut situs ini).

Terlepas dari tidak utuhnya konteks dalam penggalan ini, situasi yang disuguhkan saja sudah cukup menarik, khususnya bagi pembaca Indonesia–saya kira. Kita tahu negara kita pun “mengimpor” banyak tenaga kerja ke negara-negara Timur Tengah, yang mana Kuwait termasuk di antaranya. Adakalanya kita mendengar atau membaca berita tentang TKW yang pulang dalam kondisi babak-belur, hamil, bahkan meninggal dunia. Oleh karena itu, saya merasa dapat sedikit bersimpati terhadap cerita ini.

Tidak heran jika novel ini dianggap kontroversial. Penulisnya berani mengungkapkan fenomena yang barangkali enggan diakui oleh masyarakat itu sendiri*. Meski begitu, novel ini toh mendapat penghargaan International Prize for Arabic Fiction pada 2013 serta Kuwait State Appreciation and Encouragement Award, yang menunjukkan bahwa mata masyarakat Arab mulai terbuka akan isu yang diangkatnya. Mudah-mudahan tidak ada lagi kabar tentang perlakuan tidak semena-mena terhadap TKI kita di negara-negara sana.

*Bukankah ini semestinya tugas pengarang? Inspiratif, bukan? Baca deh wawancara dengan Saud Alsanousi di sini untuk inspirasi lebih.

Membaca Cerpen César Aira, “Picasso” (The New Yorker, 11 Agustus 2014)

Bagaimana jika ada jin muncul di hadapanmu dan menyuruhmu memilih satu di antara dua, dan kedua pilihan itu sama-sama dapat memenuhi aspirasimu?

Situasi itu terjadi dalam cerpen “Picasso” karangan César Aira yang terjemahan versi bahasa Inggrisnya oleh Chris Andrews termuat dalam The New Yorker edisi 11 Agustus 2014. Cerpen ini lebih berupa lika-liku pemikiran seseorang yang dihadapkan dalam suatu situasi dan ia mesti mengambil keputusan, ketimbang serangkaian kejadian yang saling berkait dengan unsur-unsur fiksi selazimnya. Cerpen ini bahkan tidak mengandung dialog. Tokohnya paling-paling si “aku” dan si jin–yang sama sekali tidak ditampilkan berbicara secara langsung. Kalaupun ada sosok-sosok lainnya, mereka cuma figuran atau kelebatan dalam benak si “aku”. Membaca cerpen ini serasa menempatkan diri dalam suatu situasi pelik yang ajaib–apa pun itu terserah dikarang sendiri saja yang penting ajaib–lalu menulis berlembar-lembar catatan harian untuk mencari pemecahannya tanpa meluputkan unsur jebakan, yang menurut si “aku” mesti ada dalam karangan.

Dalam cerpen ini, si tokoh dihadapkan pada pilihan: memiliki lukisan Picasso atau menjadi Picasso? Pilihan itu diajukan oleh jin yang muncul sekonyong-konyong dari botol susu yang ia beli. Ia baru keluar dari Museum Picasso dan merasa sangat tergugah seakan-akan tak ada hal lain yang dapat memikatnya lebih daripada kunjungan itu. Ia sangat mengagumi Picasso dan menganggap tidak ada tokoh lain di dunia yang sebanding dengan sang pelukis ulung dari Málaga.

Sebagian orang mungkin berpikir: Mudah saja, jadilah Picasso dan dengan begitu kita bisa membuat lukisan Picasso sebanyak yang kita mau dan menjualnya dan jadi kaya. Tetapi, jalan pikiran si “aku” rupanya tidak sesimpel itu. Pemikirannya bahkan dapat mengajak kita untuk turut berpikir filosofis akan diri kita sendiri: Maukah kita menyerahkan diri kita begitu saja untuk menjadi orang lain, meskipun dia orang yang sangat hebat, dan pastinya memiliki permasalahannya sendiri namun toh tak akan seberat yang kita alami?

Dalam pemikiran si “aku” pun terasa adanya kesadaran bahwa orang tidak perlu meraup yang setinggi-tingginya jika yang sederhana saja–yang sesuai dengan keperluan saja–cukup.

Sejak mula–ketika jin mengajukan kedua pilihan itu padanya–si “aku” langsung teringat akan cerita-cerita tentang “tiga permintaan”. Ia telah belajar bahwa sifat tamak dan sikap gegabah akan membawa manusia pada penderitaan. Ia pun menyadari bahwa dirinya tengah berada dalam situasi persis seperti dalam cerita-cerita tersebut, dan dalam karangan selalu ada jebakan. Oleh karena itu, ia mempertimbangkan dengan hati-hati tawaran si jin hingga separuh cerpen ini … hingga ia memutuskan ….

Paruh berikutnya menceritakan konsekuensi atas keputusan si “aku”. Di sini ia mengajak kita untuk mengenal lebih dalam dunia Picasso, bukan saja yang terdapat di permukaan, tetapi juga yang berada di baliknya dan membutuhkan interpretasi; teknik melukis, permainan bahasa, bahkan sekelumit sejarah.

Akan tetapi, sekalipun si “aku” sudah menginsafi situasi yang tengah dialaminya, ia tak luput dari jebakan. Bagaimanapun juga, ia sendiri tokoh dalam cerita. Maka, setelah menyasarkan kita dalam labirin pemikiran si “aku”, cerpen ini tidak hanya membentuk “kebulatan”*, tetapi juga merupakan metafiksi.

Jika kita menelusuri lebih lanjut tentang Aira maupun Picasso, dapat disimpulkan bahwa si penulis cerpen tak ubahnya sang pelukis ulung. Mereka sama-sama frenetic (lebih sophisticated ketimbang prolifichuh?); telah menghasilkan karya yang berlimpah ruah. Dari beberapa ulasan mengenai Aira, tampaknya konten dalam karya-karyanya sangat beragam dan fantastis–seperti deskripsinya terhadap lukisan Picasso saja: it was a chaos of dislocated figures. Maka timbul dugaan: Jangan-jangan melalui cerpen ini César Aira hendak mengungkapkan sumber inspirasinya dalam berkarya. Hanya saja, jika Picasso menuangkan seninya melalui lukisan dan berbagai bentuk seni rupa lain, maka Aira menggunakan kata-kata yang hasilnya berupa novel-novel pendek, cerpen, esai, dan terjemahan.

* Istilah yang biasa kami gunakan secara tidak semena-mena untuk mengomentari cerita yang awalan dan akhirannya nyambung ….

Memperbaiki Terjemahan Sendiri

Belum lama ini saya mendapat kawan baru. Dia menyukai Bab 2 dari Buku 1 The Wind-Up Bird Chronicle karya Haruki Murakami dan pernah menerjemahkannya. Kebetulan saya juga pernah menerjemahkan itu, kira-kira awal tahun ini. Kami pun bertukar hasil terjemahan.

Membandingkan hasil terjemahan bukan saja menarik, tapi memang penting. Saya menemukan banyak sekali kesalahan dalam hasil terjemahan saya. Saat baru menyelesaikan suatu draf, saya biasanya membacanya beberapa kali sampai merasa itu cukup layak untuk ditampilkan di blog. Tetapi, rupanya masih ada yang terlewat: ada bagian yang belum diterjemahkan, kalimat-kalimat tidak efektif, terjemahan yang tidak tepat, kesalahan ketik, dan sebagainya.

Yang paling menonjol mungkin pengertian dari “green pepper”. Dengan konyolnya, saya mengartikan itu sebagai “lada hijau”, seakan seumur-umur saya belum pernah memasak menggunakan lada. Kawan saya itu menyarankan supaya meng-googling kata benda yang kurang dikenal. Saya taati, dan hasil googling menunjukkan bahwa “green pepper” ternyata paprika! Dalam teks itu juga terdapat “bean sprout”, yang kalau diterjemahkan secara harfiah mungkin “kecambah buncis”–lucu juga bukan? Google memastikan bahwa itu “taoge”–untung kali ini saya benar.

Ada juga bagian yang ternyata tidak dipahami saya seutuhnya. Ada kalimat begini:

Going out to work can be tough, not something sweet and peaceful like picking the prettiest rose in your garden for your sick grandmother and spending the day with her, two streets away.

Mulanya saya mengira two streets away di situ bermakna jarak tempat tinggal si nenek, katakanlah, beda dua RT. Tetapi, ketika melihat terjemahan kawan saya, dan menanyakannya pada kawan yang lain, menurut mereka two streets away itu jarak yang ditempuh dengan berjalan-jalan bersama si nenek. Jadi, spending the day di situ bukan sekadar “menghabiskan hari” bersama si nenek–apa pun kegiatannya; spending the day + two streets away = jalan-jalan …. :-O

Membandingkan hasil terjemahan semakin seru ketika dilakukan beramai-ramai. Saya sangat senang dan bersyukur sekali dengan adanya blog Latihan Menerjemahkan Novel. Tiap bulan blog itu menampilkan penggalan novel (sekitar 200-300 kata) dalam bahasa Inggris. Siapa saja yang berminat berlatih, diharapkan menerjemahkan penggalan tersebut dan membagi hasilnya di kolom komentar. Namun, hasil terjemahan itu baru akan ditayangkan secara serentak pada tanggal 15, bersama dengan ulasannya per kalimat dari seorang penerjemah profesional. (Salut teramat dalam pada beliau yang telah bersedia meluangkan waktu untuk memberikan pembelajaran pada para penerjemah pemula.) Dari latihan pertama saja saya mencatat belasan poin untuk diperhatikan setiap kali saya hendak menerjemahkan lagi.

Dipikir-pikir, proses menerjemahkan persis seperti mengarang, sama-sama membutuhkan riset dan edit … berkali-kali. Kecanduan untuk selalu menghasilkan karya baru itu mungkin bagus, tetapi, perlu diiringi dengan menyediakan waktu untuk memperdalam (riset) dan memperbaiki (edit), di samping evaluasi kemampuan diri secara terus-menerus antara lain melalui perbandingan. Yah, kadang membandingkan diri dengan orang lain malah bikin inferior (atau malah belagu, iri, dengki, fitnah … dan berbagai penyakit hati lainnya yang pernah diajarkan guru PAI), tetapi barangkali itu tergantung pada perspektifnya. Bukan untuk menilai (dia bagus sedangkan saya jelek) apalagi mempertanyakan keadilan dunia, melainkan untuk mencari alternatif atau jalan dalam meningkatkan kemampuan diri (mungkin saya bisa mencoba cara seperti itu).

Selain perbandingan dengan orang lain yang melakukan hal serupa, baik dalam menerjemahkan karya orang ataupun mengarang karya sendiri, cara lainnya untuk mengevaluasi kemampuan adalah dengan memiliki pembaca. Pembaca yang tidak mesti pandai dalam menerjemahkan ataupun mengarang, meski lebih baik jika berpengalaman membaca tapi tidak pun tidak soal, asalkan: 1) mau membaca karya kita, dan; 2) memberitahukan secara jujur segala kesannya selama pembacaan dan dari situ kita mengenali poin-poin yang mesti diperbaiki. Namun kebutuhan ini kadang terbentur oleh suatu ironi. Saat ini kita hidup pada era digital ketika orang bisa mempublikasikan karya–apa pun–dengan teramat mudah. Banyak orang menulis. Banyak orang ingin dibaca. Termasuk kita. Tetapi, adakah yang benar-benar membaca karya kita? Sudahkah kita benar-benar menjadi pembaca?

(Terima kasih untuk Mbak Paraguay Parancis)