Seputar Proklamasi Kemerdekaan Indonesia ke Romantisisme

Tahun lalu, di Kemudian.com akun azkashabrina memublikasikan cerpen komedi sejarah berjudul “Agenda“. Dalam cerpen ini pengarang memarodikan detik-detik menjelang proklamasi kemerdekaan Republik Indonesia, ketika tokoh-tokoh pemuda seperti Sukarni, Wikana, dan Adam Malik membujuk Bung Karno agar segera melaksanakannya. Cerpen ini mendapat sambutan ramai, ada yang menyanjung ada pula yang tidak sreg.

1400468

sumber gambar

Dalam buku Kilas Balik Revolusi: Kenangan, Pelaku, Saksi oleh Aboe Bakar Loebis* (editor Sugiarta Sriwibawa, penerbit Universitas Indonesia Press, Jakarta, cetakan kedua, 1995), peristiwa persiapan proklamasi itu memang mengandung momen yang menggelikan. Sedikitnya kesan itulah yang saya tangkap dari gaya bahasa penulis.

Bagian yang menurut saya lucu dimulai ketika penulis menyebutkan di halaman 101 bahwa Sukarni, salah seorang tokoh pemuda yang menjadi tokoh utama dalam cerpen azkashabrina, memiliki kesuburan imajinasi. Berikut paragraf lengkapnya.

Rapat bubar dan semuanya pulang ke tempat masing-masing untuk menyebarluaskan putusan-putusan yang diambil. Sebagian berkumpul di asrama Baperpi, Cikini 71 (sekarang gedung Bank Niaga, cabang Cikini). Saya sendiri pergi ke Cikini. Di sana kami menunggu kedatangan kembali utusan yang dikirimkan kepada Soekarno. Mereka kembali kira-kira pukul 10, dan melaporkan kegagalan usaha mereka serta menambahkan bahwa Soekarno marah-marah dan tidak mau dipaksa-paksa oleh pemuda. Reaksi kami yang berkumpul di asrama Baperpi itu juga marah, karena itu dibicarakan tindak lanjut yang harus dilakukan. Putusannya ialah supaya Soekarno dan Hatta “diangkat” saja. Ketika kami sedang membicarakan hal ini tiba-tiba muncul tiga orang, dua di antaranya berpakaian PETA. Mereka adalah Sukarni yang memakai seragam PETA, Shodancho Singgih dan Yusuf Kunto. Sukarni segera berbicara dengan nada agitasi tentang semangat rakyat yang sedang meluap, ketegangan luar biasa di kalangan masyarakat, dan sebagainya. Semuanya ini menunjukkan kesuburan fantasi Sukarni, tetapi turut mempengaruhi putusan untuk menculik Soekarno-Hatta.

Sampai di sini saya belum kena benar dengan yang dimaksudkan sebagai “kesuburan imajinasi”. Barulah ketika sampai di halaman 103, saya tergelak.

Dalam perjalanan dari Rengasdengklok dari Jakarta, pada waktu senja, terlihat dari mobil asap dan api menyala di mana-mana. Sukarni pun berkata, “Lihatlah rakyat sudah mulai bergerak, membakar-bakar.”

Ini hanya merupakan bukti lagi kesuburan imajinasi Sukarni, karena yang dilihat hanya para petani membakar jerami di sawah yang selesai dipanen.

Dalam buku ini peristiwa persiapan proklamasi kemerdekaan RI diceritakan secara terperinci dalam bab “Hari-hari Sekitar Proklamasi” (halaman 76-121)–entah apakah azkashabrina sudah membacanya. Hal lain yang mengesankan yaitu simpulan dari peristiwa proklamasi itu sendiri. Dalam cerpen azkashabrina, peristiwa proklamasi dan pengibaran bendara merah-putih terasa khidmat dan menggetarkan. Sebaliknya yang dirasakan oleh Aboe Bakar Loebis selaku salah seorang tokoh pemuda yang turut berkontribusi dalam mempersiapkan peristiwa ini. Berikut penuturannya dalam halaman 106.

Bagi saya, pembacaan proklamasi kemerdekaan pada hari itu sebenarnya merupakan suatu anti klimaks. Setelah tiga tahun hidup dalam ketegangan dalam suasana konspirasi untuk mengejar cita-cita kemerdekaan, dan kemudian kegiatan tanpa lelah, tidak kenal haus dan lapar dengan ketegangan terus-menerus sejak tanggal 14 Agustus, berakhir dengan pembacaan naskah proklamasi yang terdiri dari beberapa kalimat kering, yang ditulis di rumah seorang pembesar Jepang, disaksikan oleh oknum-oknum Jepang, yang dibacakan dengan nada kering dan datar pula, di depan hanya puluhan orang di halaman rumah, oleh seorang Soekarno yang sedang tidak enak badan.

Proklamasi Kemerdekaan yang kami impikan, suatu proklamasi yang menyatakan hak hidup dan hak menentukan nasib sendiri bangsa Indonesia dengan cita-cita untuk membangun suatu masyarakat yang adil dan makmur di tanah air Indonesia, proklamasi yang kita susun sendiri, tanpa diketahui oleh Jepang atau oknum-oknum Jepang, dan dibacakan dengan semangat berapi-api oleh seorang orator Soekarno, di suatu rapat raksasa di lapangan terbuka, hanya merupakan impian yang tidak terkabul.

***

Dengan sangat rasional, ia kemukakan mengapa menurut pandangannya, suatu negara serikat merupakan bentuk negara yang terbaik bagi Indonesia. Disebutnya antara lain besar dan luas wilayah, banyaknya suku bangsa dengan kebudayaan yang sangat beragam dan bahasa yang berlainan, tingkat kemajuan ekonomi dan sebagainya. Kalau kami juga rasional, mungkin sekali kami dapat menerima argumen Bung Hatta, tetapi kami tidak rasional. Mengenai soal persatuan, kami malahan sangat emosional; persatuan tidak dapat ditawar. 

Kutipan di atas, yang diambil dari halaman 256 buku ini, memafhumkan saya betapa peristiwa-peristiwa sejarah sering kali diwarnai oleh sentimen, sampai-sampai Harun Yahya pun mengeluarkan buku Ancaman di Balik Romantisisme dan menyinggung nasionalisme di dalamnya. Sentimen, romantisisme, emosi, dan berbagai istilah lainnya yang menurutkan perasaan itu apabila dialami sekelompok manusia yang menyatakan kesatuannya sebagai bangsa akan melahirkan negara, adapun pada seorang individu dapat menghasilkan, katakanlah, karya fiksi berupa cerpen.

*Aboe Bakar Loebis (l. 1923) merupakan salah seorang tokoh pemuda yang turut serta dalam berbagai kegiatan persiapan proklamasi kemerdekaan. Nantinya beliau berkiprah banyak dalam membantu perjuangan pemerintahan Indonesia yang baru berdiri hingga memangku berbagai jabatan di lingkungan KBRI.

Advertisements