Belajar dengan Menerjemahkan Ulang

The Kite Runner_01.jpg

Atas: Teks sumber (The Kite Runner karya Khaled Hosseini); Tengah: Hasil latihan; Bawah: Hasil latihan disesuaikan dengan teks terbitan Qanita, cetakan I, Maret 2006 (penerjemah Berliani M. Nugrahani, penyunting Pangestuningsih, proofreader Herlina Sitorus)

Beberapa waktu lalu saya memiliki partner berlatih menerjemahkan. Awalnya, salah seorang dari mereka mengusulkan untuk menerjemahkan The Perks of Being Wallflower (selanjutnya TPBW) bersama-sama, lalu hasilnya dipertukarkan dan dibandingkan sebagai bahan belajar. TPBW dipilih karena merupakan novel remaja yang bahasanya relatif sederhana. Dari membandingkan hasil terjemahan, ditemukanlah sekian perbedaan. Perbedaan itu menjadi patokan untuk memperbaiki hasil terjemahan sendiri.

Ternyata, walau bahasanya relatif sederhana, ada saja ungkapan yang memerlukan penelusuran lebih jauh. Kebodoran pun terjadi. Karena sama-sama baru belajar dengan pemahaman bahasa yang kurang mendalam, mungkin juga karena pakewuh, kami sulit menentukan hasil terjemahan siapa yang betul. Bagaimana diskusi bisa berjalan? Partner saya itu bilang: Seperti orang buta menuntun orang buta.

Baru belakangan ini saya terpikir untuk mencoba cara lain dalam belajar menerjemahkan: Menerjemahkan teks yang sudah pernah diterjemahkan orang lain dan diterbitkan, terutama yang buku terjemahannya laris (anggaplah itu sebagai yang baku), lalu membandingkan hasilnya. Cara ini seperti dalam blog Latihan Menerjemahkan Novel, hanya saja tanpa ulasan sehingga perlu proaktif dalam membandingkan hasil latihan dengan terjemahan yang dianggap baku itu.

Dulu saya kurang tertarik dengan cara ini karena ingin menerjemahkan karya yang belum pernah diterjemahkan orang lain. Akan tetapi, ada waktunya ketika orang mulai merenungkan draf yang menumpuk dan mempertanyakan kualitas.

Terjemahan Dongeng Novianita, “Kendi di Depan Rumah”/”Jug in the Front Yard” (Kompas Klasika, 31 Januari 2016)

Untuk mengasah kemampuan berbahasa Inggris secara tertulis, saya mencoba menerjemahkan tulisan dari bahasa Indonesia ke bahasa Inggris. Cerita anak dipilih sebagai bahan belajar karena bahasanya sederhana. Penyajiannya di blog ini–yang berselang-seling antara teks sumber dan sasaran–terinspirasi dari blog Raysa Prima. Terjemahan ini pastinya tidak luput dari kesalahan. Saya sangat terbuka dan berterima kasih apabila ada pembaca yang berkenan memberikan saran.

Kendi di Depan Rumah

Jug in the Front Yard

Penulis : Novianita

Writer : Novianita

“Bima, kendinya sudah kamu isi?” tanya eyang dari depan pintu kamar Bima.

“Bima, have you filled the jug?” asked Eyang[1] in front of Bima’s bedroom door.

Bima meletakkan novel, lalu beringsut dari tempat tidur. “Belum Bima isi, Eyang. Paling, masih ada.”

Bima put his novel, then moved slowly from the bed. “I haven’t filled the jug yet, Eyang. I guess there’s still some water in it.”

“Kalau kendi itu kosong, kasihan orang-orang yang kehausan.”

“If the jug is empty, poor those who are thirsty.”

Bima lalu menenteng ceret mungil keluar dari dapur. Setiap ceret berayun, sepercik air tumpah dari mulut ceret.

And then Bima carried a tiny jug out of kitchen. Every time the jug swung, a splash of water spilled from its mouth.

“Aduh, Bima. Sayang airnya. Banyak orang ndak bisa minum,” omel eyang.

“Oh, Bima. What a waste. Many people can’t afford drink,” grumbled Eyang.

Eyang menyediakan sebuah kendi besar lengkap dengan gelasnya di depan pagar rumahnya di Klaten, Jawa Tengah. Pedagang keliling atau siapa pun yang kebetulan lewat dan merasa haus bisa minum air dari kendi itu.

Eyang provides a big jug of water, completed with some glasses in front of her gate in Klaten, Central Java. Peddler or anyone who happens to pass and feels thirsty can drink water in it.

Sebelum dan sepulang sekolah, Bima harus memastikan kendi itu selalu terisi. Saat matahari sangat terik, kendi itu cepat sekali kosong karena banyak pedagang keliling yang minum air.

Before and after school, Bima has to make sure that the jug is always filled. When the sun is very hot, the jug is quickly empty since many peddlers drink the water.

Keesokan hari saat pulang sekolah. “Panas sekali hari ini,” gumam Bima yang kehausan. Sayangnya, bekal air minum di botol sudah habis. Lalu, ia melihat teman-temannya mengerumuni para penjual minuman dingin di depan sekolah. Bima hanya bisa menatap kepingin karena tidak berbekal uang.

The next day after school. “It’s hot today,” mumbled Bima, who was thirsty. Unfortunately, he ran out of water in his drinking bottle. And then, he saw his friends was gathering around cold drink pedlars in front of the schoolyard. Bima could only stare in thirst because he didn’t bring any money.

Bima lalu bergegas pulang. Berkali-kali ia menjilati bibir karena menahan haus. Di tengah perjalanan, ia bertemu pedagang yang menarik gerobak penuh bertumpuk-tumpuk ember. Bibir si pedagang tampak kering karena terlalu lama menahan haus.

And then Bima rushed home. Many times he licked his lips, suffering thirst. On his way home, he saw a peddler pulling a cart filled with piles of buckets. The peddlar’s lips were dry for too long suffering thirst.

Bapak itu pasti haus sekali, batin Bima. Semoga dia lewat depan rumahku biar bisa minum dari kendi eyang. Eh, kendi eyang? Tadi pagi belum aku isi! gumam Bima.

That man must be very thirsty, thought Bima. I hope he will pass in front of my home so he can drink from Eyang’s jug. Ah, Eyang’s jug? I haven’t filled it up this morning! murmured Bima.

“Selamat siang, Eyang,” ujar Bima saat masuk ke rumah. “Bima haus. Bekal minum Bima habis,” katanya sambil menyambar segelas air yang disodorkan eyang.

“Good afternoon, Eyang,” said Bima, going into home. “I’m thirsty. My drinking bottle is empty,” he said, at the same time grabbing a glass of water Eyang gave him.

“Eyang, baru saja di jalan. Aku bertemu tukang ember. Sepertinya tukang ember itu haus sekali. Terus aku ingat. Tadi pagi aku lupa mengisi kendi,” ujar Bima.

“Eyang, I’ve just met a bucket peddler on my way home. He seemed very thirsty. And then I remember that this morning I forgot to fill the jug,” said Bima.

“Besok jangan lupa lagi, ya. Tadi sudah diisi Eyang Kakung sebelum ke kantor.”

“Then you must not forget tomorrow. Eyang Kakung[2] had filled it before he went to work.”

“Iya, Eyang. Bima janji ndak lupa lagi. Kasihan kalau ada pedagang kehausan. Bima saja haus sekali, padahal cuma bawa ransel. Pedagang itu bawa dagangannya berat sekali. Pasti lebih haus dari aku.”

“I promise, Eyang, I will not forget anymore. How pity the thirsty peddler. I felt very thirsty, though I carried mere backpack. While the peddler carried such heavy load. He must be thirstier than me.”

“Ya, itulah sebabnya Eyang menyediakan kendi. Biar mereka bisa minum gratis. Rumah ini punya air bersih yang melimpah agar Eyang bisa berbuat baik untuk mereka yang kehausan.”

“That’s way I provide the jug so they can have free drink. This home has abundance pure water, so I can be kindly giving some to the ones who feel thirsty.”

“Bima juga ingin berbuat baik,” sahut Bima penuh tekad.

“I want to be kind, too,” said Bima in determination.

Semenjak hari itu, Bima tidak pernah lupa mengisi kendi. Ia senang bisa berbuat baik untuk orang lain melalui sekendi air.

From that day on, Bima never forget to fill the jug. He is happy doing good thing for other people by a jug of water.

Dari Kompas Klasika, Minggu, 31 Januari 2016

From Kompas Klasika, Sunday, January 31, 2016

[1] (Java) term of address and reference for grandparent

[2] (honorific, Java) male

Catatan: Tradisi menaruh kendi di depan rumah ini pertama kali saya dengar dari dosen bertahun-tahun lalu. Sejak kecil, saya tidak pernah menemui tradisi itu di lingkungan perumahan saya di Jawa Barat, termasuk di tempat saudara saya di beberapa kawasan berbahasa Jawa, yang hampir semuanya berada di perkotaan. Maka ketika mengetahui adanya tradisi itu, dan mengingat betapa banyaknya pedagang keliling yang lewat di sekitar rumah sepanjang hari, saya merasa tersentil. Tradisi ini baik sekali, sehingga sayang karena tidak dilestarikan dan malah akibatnya terasa tidak lazim jika dilakukan.

Terjemahan Cerita Anak FiFadila, “Oto-Bot” (Kompas Anak, 13 Desember 2015)

Untuk mengasah kemampuan berbahasa Inggris secara tertulis, saya mencoba menerjemahkan tulisan dari bahasa Indonesia ke bahasa Inggris. Cerita anak dipilih sebagai bahan belajar karena bahasanya sederhana. Penyajiannya di blog ini–yang berselang-seling antara teks sumber dan sasaran–terinspirasi dari blog Raysa Prima. Terjemahan ini pastinya tidak luput dari kesalahan. Saya sangat terbuka dan berterima kasih apabila ada pembaca yang berkenan memberikan saran.

Oto-Bot

Oleh: FiFadila

Penulis Anak, Tinggal di Malang, Jawa Timur 

Oto-Bot

By: FiFadila

Author of children’s literature, Lives in Malang, East Java, Indonesia

Profesor Teri seorang ilmuwan genius. Namun, ia juga pelupa. Ia membuat sebuah robot serbaguna yang diberi nama Oto-Bot. Sayangnya ia lupa bagaimana cara menghidupkan si robot. Catatannya pun terselip entah ke mana. Profesor Teri sibuk mencari kertas catatannya dari laboratorium kerja, kamar tidur, ruang makan, ruang tamu, dapur, hingga gudang atas.

Professor Teri is a genius scientist. Yet, he is absent-minded. He creates a versatile robot named  Oto-Bot. Unfortunately, he forgets how to turn the robot on. His note slips somewhere. Professor Teri is busy looking for the paper from work laboratory, bedroom, dining room, guest room, kitchen, up to storeroom.

Dani, cucu Profesor Teri, masuk ke laboratorium. Dia mencari sang Kakek untuk mengerjakan PR Matematika yang sulit. Dani melihat sosok berdiri menghadap jendela. Ia mengira itu Kakek. Dani mengendap-endap dan mengejutkannya.

Dani, Professor Teri’s grandchild, comes into the laboratory. He looks for his Grandpa to perform difficult Mathematics homework. Dani sees a figure is standing before window. Dani supposes that it is Grandpa. Dani creeps up and startles it.

“Dooor …. Kakek Teri!” Dani mendorong pinggang sosok itu.

“Baaang …. Grandpa Teri!” Dani pushes its waist.

Sosok itu tidak melompat terkejut atau berteriak kaget. Sosok itu jatuh menabrak meja tanpa gerakan. Bunyi jatuhnya pun mengejutkan Dani.

That figure doesn’t jump over nor screamed in surprise. That figure falls against a table without moving. The sound of its fall startles Dani.

Klontang! Seperti bunyi kaleng beradu. Punggungnya menabrak kaki meja. Terdengar suara seperti tombol dipencet. Klik.

Clank! It sounds like hitting metal. Its back rushes against leg of the table. There is a sound like pushed button. Click.

Dani jadi bingung melihatnya. Sosok yang jatuh itu bukan Kakek Teri. Tapi, kaleng besi yang bisa bergerak. 

Dani is puzzled to see it. The fallen figure is not Grandpa Teri. But, an iron bucket who is able to move.

“Halo … halo … halo …” ucap kaleng besi itu dengan suara mesin komputer. Ia melambai-lambaikan tangan dan duduk tegak.

“Hello … hello … hello …” says the iron bucket in computer machine voice. It waves its hand and sit upright.

“Hei, kamu robot buatan Kakek Teri ya?” Dani kegirangan. Ia seperti bertemu seorang teman. Ia mengulurkan tangan dan menarik robot itu berdiri. “Namaku Dani. Kamu siapa?” 

“Hi, you are made by Grandpa Teri, aren’t you?” Dani is happy. He seems like have met some friend. He passes his hand and pulls the robot to stand. “My name is Dani. Who are you?”

Robot mengangguk. “Halo, Dani. Aku Oto-Bot, robot serbaguna. Dibuat oleh Profesor Teri. Aku bisa membersihkan rumah. Bisa juga bermain bola.”

The robot nods. “Hello, Dani. I am Oto-Bot, a versatile robot. Made by Professor Teri. I can do housecleaning. Can play football, too.”

Dani girang bukan kepalang. Dengan adanya robot ini, dia bisa bebas tugas. Dia bisa bermain sepanjang waktu.  

Dani is pleased as punch. With this robot, he can be free of duty. He can play all the time.

“Bisakah kau mengerjakan PR Matematika?” Dani menyodorkan buku tulisnya di meja. “Lalu kita bisa main bola.”

“Can you do Math homework?” Dani puts his book on the table. “And then we can play football.”

Oto-Bot melihat buku Matematika Dani, “Tentu …. Tapi, bateraiku lemah. Aku bisa hidup sampai 15 menit lagi.” 

Oto-Bot looks at Dani’s Mathematics book, “Sure …. But, my battery is low. I can go for fifteen minutes left.”

“Mana charger-mu?” Dani mengelilingi laboratorium kakek mencari semacam charger laptop. Setelah berputar selama sepuluh menit, ia bisa menemukan charger yang pas buat Oto-Bot. Lubang charge ada di punggung Oto-Bot.

“Where is your charger?” Dani goes around grandfather’s laboratory looking for a kind of laptop charger. After turning around for ten minutes, he can find an appropriate charger for Oto-Bot. The charger slot is on Oto-Bot’s back.

“Isi aku selama 24 jam. Dalam keadaan mati, agar tidak panas berlebihan,” kata Oto-Bot menunjuk tombol di punggungnya. 

“Charged me for 24 hours. I must be turned off, so as to not overheat,” says Oto-Bot pointing to a button on his back.

“Tidak usah. Bateraimu bisa diisi sambil mengerjakan PR matematika. Biasanya main tablet sambil nge-charge juga tak apa kok,” jawab Dani. 

“It is not necessary. You can be charged while working on my homework. I used to play tablet while charging its battery and it was just fine,” answers Dani.

Dani menyorongkan buku Matematika di tangan Oto-Bot. Mata Oto-Bot bergerak memindai 10 soal Matematika di hadapannya. Menghitung luas dan volume bangun ruang. Tak ada sepuluh menit, Oto-Bot sudah menyelesaikan soal nomor sembilan. Tulisan Oto-Bot juga rapi. Seperti cetakan printer.

Dani hands his Math book to Oto-Bot. Oto-Bot’s eyes move scanning the ten Mathematics problems in front of them. Calculating size and volume of geometry. Less than ten minutes, Oto-Bot has done the ninth problem. Its writing is neat, too, like printing.

“Peringatan! Panas berlebihan. Panas berlebihan. Panas berlebihan. Cabut … charger … dari … soket.” Oto-Bot memberikan peringatan.

“Warning! Overheat. Overheat. Overheat. Take … the charger … off … the slot.” Oto-Bot gives warning.

Sayangnya, Dani terlambat memahami peringatan Oto-Bot. Dia sibuk melihat kecanggihan Oto-Bot bekerja. Dalam bayangannya, Bu Guru dan teman-teman akan memuji hasil PR-nya.

Unfortunately, Dani is lost in getting the Oto-Bot’s warning. He is busy observing how sophisticated Oto-Bot works. He imagines, his teacher and friends will praise his homework.

Oto-Bot diam tak bergerak. Padahal tinggal satu nomor lagi. Bau gosong tercium di hidung Dani. Punggung Oto-Bot berasap. Dani cepat-cepat mencabut aliran listrik. 

Oto-Bot is still. Whereas there is only one problem left. Dani sniffs burnt smell. Oto-Bot’s back is smoky. Dani quickly unplugs its power supply.

“Oh, tidak! Bukuku gosong!” teriak Dani. Dilihatnya tangan Oto-Bot juga berasap dan meninggalkan bekas hitam di buku Dani.

“Oh, no! My book is burnt!” cries Dani. He sees Oto-Bot’s hand is smoky, too, and leaves dark traces on Dani’s book.

Dani ketakutan. Dia melakukan dua kesalahan. Yang pertama dia tidak mendengarkan peringatan Oto-Bot men-charge baterai harus dalam keadaan mati. Yang kedua, dia merusak robot buatan Kakek. Akibatnya, PR-nya gosong. Belum lagi harus mendapat hukuman dari Kakek.

Dani is afraid. He has made two mistakes. First, he didn’t listen to Oto-Bot’s warning in order to charge the battery off stage. Second, he has damaged Grandpa’s robot. As a result, his homework is burnt. Not to mention he must get punishment from Grandpa.

“Dani, apa yang kau lakukan di laboratorium Kakek tanpa izin?” terdengar suara Kakek Teri tiba-tiba. 

“Dani, what are you doing in my laboratory without my permission?” Suddenly there is Grandpa Teri’s voice.

Dani tertunduk. Ia takut Kakek marah. Tetapi, ia tak punya alasan untuk lolos dari kemarahan Kakek. Dani pun menceritakan kejadian Oto-Bot berasap dengan jujur. Ia juga ikhlas mendapat hukuman. 

Dani bows. He is afraid Grandpa will be angry to him. However, he has no reason to escape from Grandpa’s anger. Then, Dani tells the smoky Oto-Bot incident honestly. He also willngly have the punishment.

Mata Kakek membulat, “Jadi, kau tadi menghidupkan Oto-Bot? Kau bercakap-cakap dengan Oto-Bot? Dan Oto-Bot memintamu men-charge baterainya?” 

Grandpa’s eyes rounded. “So, you had just turned Oto-Bot on? You talked to Oto-Bot? And Oto-Bot asked you to charge its battery?”

Dani terkejut saat Kakek menepuk kepalanya dengan bangga. 

Dani is surprised when Grandpa taps his head proudly.

“Kau genius, Dani! Kakek dari seminggu lalu bingung menghidupkan Oto-Bot. Ternyata kau berhasil melakukannya. Setelah kau selesaikan PR-mu, bantu Kakek memperbaiki Oto-Bot.”

“Dani, you are a genius! Since a week ago I was confused how to turn Oto-Bot on. It turns out that you can do it. After you finish your homework, help me to fix Oto-Bot.”

Dani mengangguk lega dan cepat kembali ke kamarnya. Untung ia berkata jujur kepada Kakek. Kali ini Dani mengerjakan PR sendiri dengan semangat. Ia tak sabar membantu Kakek memperbaiki Oto-Bot.

Dani nods in relief and quickly go back to his room. Fortunately he told the truth to Grandpa. This time he performs his homework by himself with vigor. He can’t wait to help Grandpa fixing Oto-Bot.

Dari Kompas Anak, 13 Desember 2015 

From Kompas Anak, December 13, 2015

Terjemahan Dongeng Agus Kurniawan, “Namaku Tokek”/”My Name is Gecko” (Bobo, 13 Desember 2001)

Untuk mengasah kemampuan berbahasa Inggris secara tertulis, saya mencoba menerjemahkan tulisan dari bahasa Indonesia ke bahasa Inggris. Cerita anak dipilih sebagai bahan belajar karena bahasanya sederhana. Penyajiannya di blog ini–yang berselang-seling antara teks sumber dan sasaran–terinspirasi dari blog Raysa Prima. Terjemahan ini pastinya tidak luput dari kesalahan. Saya sangat terbuka dan berterima kasih apabila ada pembaca yang berkenan memberikan saran.

Namaku Tokek

oleh Agus Kurniawan

My Name is Gecko

by Agus Kurniawan

Namaku Tokek. Bentuk tubuhku mirip dengan cicak, hanya sedikit lebih besar. Aku tinggal di atap rumah keluarga Pak Rahmat. Keluarga ini miskin, namun hidupnya tenteram dan bahagia.

My name was Gecko. The shape of my body was like small house lizard, but a little much bigger. I lived in The Rahmats’ rooftop. The family was poor but they lived happily in peace.

Pak Rahmat mempunyai dua anak, Budi dan Uci. Mereka senang sekali memakai suaraku untuk bersenda gurau. Caranya begini, setiap aku berbunyi, “Tokek…” Budi mengangkat telunjuk sambil berkata, “Aku”. Kemudian pada bunyi yang kedua, “Tokek…” ganti Uci yang mengangkat telunjuk dan berkata, “Aku.” Begitu seterusnya sampai aku tidak bersuara. Nah, anak yang mengangkat telunjuk pada bunyiku yang terakhir, dialah yang kalah dan harus mendapat pukulan. Tentu saja pukulannya pelan dan tidak menyakitkan. Karena mereka saling menyayangi.

Mr. Rahmat had two children, Budi dan Uci. They were very happy making fun with my sound. This way: each time I made the sound, “Gecko…” Budi raised his index finger saying, “Me.” Then on the other sound, “Gecko…” it was Uci raised her index finger saying, “Me.” And so on until I got silent. Well, whoever raised the index finger at my last sound was the one whom lose and must be beaten by the other. It was just a soft blow and hurtless, of course, for they love each other.

Ada lagi yang lucu. Budi sering menjadikan suaraku untuk meramal apa yang akan dia lakukan. Bila dia ragu-ragu untuk menerima ajakan temannya, maka dia menghitung suaraku.

There was another amusement:  Budi often made my voice to predict what he would do. When he hesitated to accept an invitation from his friend, then he counted my voice.

“Tokek…” kataku, dan Budi menyahut, “pergi.”

“Gecko…” I said, and Budi said, “go.”

“Tokek…” kataku lagi, disahut oleh Budi, “tidak.” Begitu seterusnya sampai aku berhenti bersuara. Bila aku berhenti pada kata “Pergi,” maka dia terima ajakan temannya. Dan bila sebaliknya, maka ia akan menolak.

“Tokek…” I said again, answered by Budi, “not go.” And so on until I was quiet. When I stopped on the word “Go,” then he received the invitation. And if I said the opposite, then he refused.

Namun yang mengharukan bagiku adalah Uci. Bila sedang sendiri, anak itu sering mengajakku bercakap-cakap. Seolah sedang berbicara dengan sahabatnya. Padahal aku hanya diam. Kalaupun aku berkata, dia tidak akan mengerti apa yang aku katakan.

But I was touched by Uci. If she was alone, she often talked to me as if she babbled with some friend. I was quiet, though. Even though I said something, she wouldn’t tell what it was.

Uci juga sering meletakkan remah-remah roti di atas lemari. Maksudnya untuk diberikan kepadaku. Dia tidak tahu makanan kegemaranku adalah nyamuk, bukan roti. Namun untuk menyenangkan hatinya, remah-remah roti itu terpaksa kumakan juga.

Uci often put breadcrumbs upon the cupboard as well. She would like to give it to me. She didn’t know that my favorite food was mosquito, not bread. But, in pleasing her, I forced myself to eat the breadcrumbs.

Pada suatu hari aku mengintip Uci dan ibunya sedang berbicara. Kulihat Uci menggaruk sela-sela jemari kakinya. Bu Rahmat memeriksa kaki anaknya sambil berjongkok.

One day I peeked at Uci and her mother were talking. I saw Uci was scratching between her toes. Mrs. Rahmat squatted while examining the child’s feet.

“Sejak tadi malam gatal sekali. Aku menggaruknya sampai luka,” kata Uci sambil meringis menahan sakit dan gatal.

“It was so itchy since last night. I scratched until it hurt,” said Uci in grimace for bearing the itch and pain.

“Ini penyakit kulit. Eksim namanya, Ci. Sebaiknya kamu makan daging tokek agar cepat sembuh. Biar nanti ayahmu yang menangkap tokek di atap rumah kita.”

“It’s skin disease named eczema. You should eat gecko flesh so that you recover soon. Your father will catch the gecko in our rooftop.”

“Jangan, Bu. Tokek itu jangan dibunuh. Kasihan. Belikan saja obat penyakit kulit yang dijual di toko,” pinta Uci.

“Don’t do it, Mother. Don’t kill the gecko. What a pity. Just buy me some medicine for skin disease from store,” asked Uci.

“Boleh. Tapi Ibu ragu apa penyakitmu bisa sembuh dengan obat dari toko.”

“You may, but I ‘m not sure the medicine from store will help.”

Benar juga apa yang dikatakan Ibu. Obat yang dibeli di toko ternyata tidak manjur. Setelah beberapa hari kaki Uci diolesi salep, masih saja dia menggaruk-garuk sela-sela jemari kakinya. Bu Rahmat akhirnya memutuskan memakai cara pertama.

Mother was right. The medicine from store was not strong enough. For a couple of days Uci’s feet got recovered by salve, yet she scratched between her toes. Mrs. Rahmat, finally, decided to take the first method.

Tuh, lihat saja. Obat dari toko tidak manjur. Karena itu, kamu harus makan daging tokek,” ujar Bu Rahmat.

“See? The medicine from store is not strong enough. Therefore, you have to eat gecko’s flesh,” said Mrs. Rahmat.

“Kita tunggu sampai tiga hari lagi, Bu.”

“Let’s see for another three days, Mother.”

“Untuk apa?” tanya Bu Rahmat tidak mengerti.

“What for?” asked Mrs. Rahmat didn’t get the idea.

“Saya sudah menulis surat buat Paman di kota. Saya ceritakan tentang gatal-gatal di kaki saya. Saya meminta Paman untuk membelikan obat yang paling baik,” Uci menjelaskan. Bu Rahmat setuju dan mau menunggu hingga tiga hari lagi.

“I have written a letter to Uncle in town. I told him about the itch on my feet. I asked Uncle to buy me the best medicine,” explained Uci. Mrs. Rahmat agreed and would wait for the next three days.

Tepat di hari terakhir, hatiku cemas. Kiriman obat dari paman Uci hingga siang belum juga datang. Uci juga merasakan kecemasan yang sama. Aku tahu dari raut wajah gadis kecil itu.

Just on the last day, I was worried. The medicine from Uci’s uncle hadn’t come yet until noon. Uci was worried as well. I knew it from her face.

“Petugas pos sudah lewat sejak tadi, Ci. Berarti Pamanmu tidak mengirim obat ke sini. Bagaimana, kalau kita tangkap tokek itu sekarang juga?” kata Pak Rahmat. Uci terpaksa mengangguk lemah. Seakan tidak rela aku diburu dan dibunuh untuk menyembuhkan penyakitnya.

“The postman have past from a little while ago. It means your uncle doesn’t send the medicine here. How if we catch the gecko right now?” said Mr. Rahmat. Uci perforce nodded weakly, as if not willing I was hunted and killed to cure her disease.

Di atas atap aku bersiap diri untuk mati. Aku tidak akan lagi menghindar bila Pak Rahmat menangkapku. Aku rela dibunuh untuk menyembuhkan penyakit Uci. Kasihan sekali gadis kecil itu. Sudah satu minggu dia tersiksa oleh penyakit yang dideritanya.

On the rooftop I was prepared to die. I would not stay away anymore if Mr. Rahmat catch me. I was willing to be killed for Uci’s health. It was too bad for that little girl. It had been a week she suffered the disease.

Pak Rahmat sudah mengambil galah untuk menangkapku. Sementara Bu Rahmat, Budi, dan Uci memperhatikan Pak Rahmat yang bersiap menyodok tubuhku. Namun ajalku rupanya belum tiba hari itu. Pintu rumah diketok dari luar sebelum galah digerakkan.

Mr. Rahmat had taken a spear to catch me, while Mrs. Rahmat, Budi, and Uci watched him was ready to shovel me. However, it seemed that the day was not my time to die yet. There was knocking on the door before the spear was moved.

“Hore …. Paman datang! Paman membawakan obat untukku, kan?” sambut Uci gembira.

“Hurray …. Uncle is coming! Do you bring the medicine for me, don’t you?” Uci welcomed happily.

“Tentu sayang. Mana mungkin Paman membiarkan Uci menghabiskan waktu hanya untuk menggaruk-garuk kaki,” jawab Paman dengan mimik lucu.

“Of course, dear. How could I let you spend your time just for scratching your feet,” answered Uncle in funny expression.

Hari itu juga Uci meminum obat dan mengoleskan kakinya dengan salep yang dibawa Paman. Kata Paman, obat dan salep itu didapat dari dokter spesialis penyakit kulit. Tentu saja harganya mahal. Namun sangat manjur. Beberapa hari kemudian penyakit Uci sembuh. Dia tidak lagi menggaruk-garuk sela-sela jemari kakinya.

That very day Uci took the medicine and dabbed the salve her Uncle had brought on her feet. Uncle said that he got the medicine and the salve from a doctor specialized in dermatology. Of cource their prices were expensive. However they were really strong. A few days later the disease had gone. Uci didn’t scratch between her toes anymore.

Namaku Tokek. Aku tinggal di atap rumah keluarga Pak Rahmat. Keluarga yang miskin, namun hidupnya tenteram bahagia. Aku merasa sangat beruntung bisa hidup di tengah-tengah mereka.***

My name is Gecko. I live in The Rahmat’s rooftop. The family is poor, but they live happily in peace. I feel so lucky to live among them.***

Dari majalah Bobo tahun XXIX 13 Desember 2001 Rp 4.500,00

From Bobo magazine year XXIX December 13, 2001 Rp 4.500,00

Memperbaiki Terjemahan Sendiri

Belum lama ini saya mendapat kawan baru. Dia menyukai Bab 2 dari Buku 1 The Wind-Up Bird Chronicle karya Haruki Murakami dan pernah menerjemahkannya. Kebetulan saya juga pernah menerjemahkan itu, kira-kira awal tahun ini. Kami pun bertukar hasil terjemahan.

Membandingkan hasil terjemahan bukan saja menarik, tapi memang penting. Saya menemukan banyak sekali kesalahan dalam hasil terjemahan saya. Saat baru menyelesaikan suatu draf, saya biasanya membacanya beberapa kali sampai merasa itu cukup layak untuk ditampilkan di blog. Tetapi, rupanya masih ada yang terlewat: ada bagian yang belum diterjemahkan, kalimat-kalimat tidak efektif, terjemahan yang tidak tepat, kesalahan ketik, dan sebagainya.

Yang paling menonjol mungkin pengertian dari “green pepper”. Dengan konyolnya, saya mengartikan itu sebagai “lada hijau”, seakan seumur-umur saya belum pernah memasak menggunakan lada. Kawan saya itu menyarankan supaya meng-googling kata benda yang kurang dikenal. Saya taati, dan hasil googling menunjukkan bahwa “green pepper” ternyata paprika! Dalam teks itu juga terdapat “bean sprout”, yang kalau diterjemahkan secara harfiah mungkin “kecambah buncis”–lucu juga bukan? Google memastikan bahwa itu “taoge”–untung kali ini saya benar.

Ada juga bagian yang ternyata tidak dipahami saya seutuhnya. Ada kalimat begini:

Going out to work can be tough, not something sweet and peaceful like picking the prettiest rose in your garden for your sick grandmother and spending the day with her, two streets away.

Mulanya saya mengira two streets away di situ bermakna jarak tempat tinggal si nenek, katakanlah, beda dua RT. Tetapi, ketika melihat terjemahan kawan saya, dan menanyakannya pada kawan yang lain, menurut mereka two streets away itu jarak yang ditempuh dengan berjalan-jalan bersama si nenek. Jadi, spending the day di situ bukan sekadar “menghabiskan hari” bersama si nenek–apa pun kegiatannya; spending the day + two streets away = jalan-jalan …. :-O

Membandingkan hasil terjemahan semakin seru ketika dilakukan beramai-ramai. Saya sangat senang dan bersyukur sekali dengan adanya blog Latihan Menerjemahkan Novel. Tiap bulan blog itu menampilkan penggalan novel (sekitar 200-300 kata) dalam bahasa Inggris. Siapa saja yang berminat berlatih, diharapkan menerjemahkan penggalan tersebut dan membagi hasilnya di kolom komentar. Namun, hasil terjemahan itu baru akan ditayangkan secara serentak pada tanggal 15, bersama dengan ulasannya per kalimat dari seorang penerjemah profesional. (Salut teramat dalam pada beliau yang telah bersedia meluangkan waktu untuk memberikan pembelajaran pada para penerjemah pemula.) Dari latihan pertama saja saya mencatat belasan poin untuk diperhatikan setiap kali saya hendak menerjemahkan lagi.

Dipikir-pikir, proses menerjemahkan persis seperti mengarang, sama-sama membutuhkan riset dan edit … berkali-kali. Kecanduan untuk selalu menghasilkan karya baru itu mungkin bagus, tetapi, perlu diiringi dengan menyediakan waktu untuk memperdalam (riset) dan memperbaiki (edit), di samping evaluasi kemampuan diri secara terus-menerus antara lain melalui perbandingan. Yah, kadang membandingkan diri dengan orang lain malah bikin inferior (atau malah belagu, iri, dengki, fitnah … dan berbagai penyakit hati lainnya yang pernah diajarkan guru PAI), tetapi barangkali itu tergantung pada perspektifnya. Bukan untuk menilai (dia bagus sedangkan saya jelek) apalagi mempertanyakan keadilan dunia, melainkan untuk mencari alternatif atau jalan dalam meningkatkan kemampuan diri (mungkin saya bisa mencoba cara seperti itu).

Selain perbandingan dengan orang lain yang melakukan hal serupa, baik dalam menerjemahkan karya orang ataupun mengarang karya sendiri, cara lainnya untuk mengevaluasi kemampuan adalah dengan memiliki pembaca. Pembaca yang tidak mesti pandai dalam menerjemahkan ataupun mengarang, meski lebih baik jika berpengalaman membaca tapi tidak pun tidak soal, asalkan: 1) mau membaca karya kita, dan; 2) memberitahukan secara jujur segala kesannya selama pembacaan dan dari situ kita mengenali poin-poin yang mesti diperbaiki. Namun kebutuhan ini kadang terbentur oleh suatu ironi. Saat ini kita hidup pada era digital ketika orang bisa mempublikasikan karya–apa pun–dengan teramat mudah. Banyak orang menulis. Banyak orang ingin dibaca. Termasuk kita. Tetapi, adakah yang benar-benar membaca karya kita? Sudahkah kita benar-benar menjadi pembaca?

(Terima kasih untuk Mbak Paraguay Parancis)

Kiat Mengatasi Penerjemahan Mandek (untuk Penerjemah Amatir)

1. Membaca ulang teks yang akan diterjemahkan, jika perlu hingga berkali-kali, sambil mengartikan kata-kata sulitnya. Ini seperti berusaha memahami teks bahasa asing sebagaimana lazimnya tanpa mesti ada niat menerjemahkan. Ketika kita sudah lebih mengakrabi teks tersebut, barangkali penerjemahannya akan relatif mudah ketimbang sebelumnya.

2. Melakukan penelusuran seputar teks tersebut di internet; membaca ulasan tentangnya, jika ada, untuk membantu/menambah pemahaman; mencari tahu tentang penulisnya; dan semacamnya.

3. Bekerja dengan sangat pelan: mengecek arti setiap kata dalam kalimat, sekalipun itu kata yang tampaknya sudah diketahui artinya secara umum; menelusuri padanan kata-kata yang sulit (baik dalam bahasa sumber maupun untuk bahasa sasaran) di tesaurus; dan menerjemahkan per kalimat secara harfiah lebih dulu, lalu memolesnya sampai ketemu hasil yang lebih enak dibaca dan mengena.

4. Melompati ungkapan yang sulit diterjemahkan, kembali lagi setelah yang selebihnya dibereskan, atau tidak menerjemahkannya sama sekali jika itu tidak begitu memengaruhi jalannya cerita.

5. Mengingat-ingat tujuan belajar menerjemahkan, misalnya: untuk mempelajari secara mendalam karya yang hendak diterjemahkan; untuk memperluas wawasan mengenai khazanah sastra asing; untuk menambah pemahaman bahasa asing; untuk mengompensasi kejenuhan membaca dan kemandekan menulis; untuk mengasah kemampuan berbahasa; untuk membantu pembaca yang ingin memperluas wawasan mengenai khazanah sastra asing namun kurang pemahaman akan bahasa asing tersebut; untuk meramaikan khazanah sastra terjemahan Indonesia; sebagai sarana melatih disiplin; dan sebagainya.

6. Mencari teks lain yang lebih mudah untuk diterjemahkan. Ini tidak begitu disarankan karena akan menambah panjang daftar draf yang mandek; kecuali jika pikiran sudah benar-benar tulalit, atau keperluan untuk menghasilkan terjemahan baru sudah mendesak.

7. Ingat kata-kata Konfusius: Tidak masalah seberapa lambatnya kamu berjalan selama kamu tidak berhenti. Atau bahasa Jawanya: Alon-alon waton kelakon. Slow but sure.

diperbarui: 20151117