Chairil Anwar (oleh Aboe Bakar Loebis, 1995)

Seorang teman saya yang sering sekali datang di asrama ialah Chairil Anwar, penyair dan pelopor sastra Angkatan 45. Saya pertama kali berkenalan dengan Chairil di rumah Bung Syahrir. Pada suatu hari saya melihat seorang pemuda, berbadan kurus, dengan pakaian kurang bersih, berambut seperti tidak disisir, matanya besar dan agak merah. Pada waktu itu ia sedang membaca, berdiri di depan lemari buku. Rupanya ia sedang mencari buku. Syahrir yang sedang bercakap-cakap dengan saya, tiba-tiba berteriak, “Nini, jangan kau ambil buku dari sini. Tiap buku yang kau bawa tidak pernah kembali!” Saya pun bertanya siapa orang itu. “Kau belum kenal dia, itu Chairil Anwar, penyair, kemenakan saya,” kata Syahrir. Chairil kemudian menggabungkan diri dengan kami, dan sesudah berbincang-bincang beberapa waktu, saya pun minta diri hendak pulang ke asrama. Chairil langsung mengatakan mau ikut dengan saya. Ia belum pernah masuk ke asrama itu. Kami berjalan dari Jalan Maluku ke Parapatan. Di tengah jalan ia terus-menerus melampiaskan ras bencinya kepada Jepang dan kekagumannya terhadap Syahrir. “Oom aku ini, begini” atau “oom aku ini begitu” dan seterusnya. Di Jalan Jawa ia mengajak mampir sebentar di suatu rumah. “Aku mau bertemu dengan Affandi, barangkali ia ada di rumah.” Pada waktu itu Affandi rupanya tinggal di jalan itu, maka kami pun mampir. Ia memperkenalkan saya kepada Affandi, yang baru pertama kali saya temui. Chairil berbicara macam-macam dengan Affandi, saya hanya mendengar. Sesudah beberapa waktu saya katakan bahwa saya mau pulang. Baru Chairil berhenti berbicara.

Sesudah perkenalan yang pertama kali itu, seringkali ia datang kepada saya, paling tidak tiga kali seminggu. Kalau ia datang biasanya pertanyaannya ialah, “Kar, kau ada duit? Aku lapar.” Kalau memang sedang ada duit, maka kami pun pergi ke Pasar Senen untuk makan. Kalau sedang tidak ada duit, saya katakan saja, kantong sedang kosong. Pertanyaan lain ialah apakah saya punya buku baru. Walaupun ada, saya selalu mengatakan tidak ada, karena kalau saya katakan ada, ia langsung mau membaca buku itu dan membawanya. Buku itu pasti tidak akan saya lihat lagi. Sering pula sehabis makan di Pasar Senen, kami mampir di kios-kios buku bekas. Di sana ia selalu memilih-milih buku, dan menganjurkan buku-buku tertentu kepada saya. Kalau saya beli satu buku, maka pasti ia mengatakan, “Aku saja yang baca dulu, kau toh banyak buku pelajaran yang mesti dibaca.” Kalau saya iyakan, maka buku itu akan lenyap. Kalau ia datang di asrama sesudah bertemu dengan orang lain, maka diceritakan pembicaraannya dengan orang itu. Seringkali ia datang marah-marah, juga kepada Takdir (S. Takdir Alisyahbana), yang dianggapnya seorang materialis dan egois, atau marah pada seniman-seniman yang bekerja di Pusat Kebudayaan yang didirikan oleh Jepang. Chairil selalu berkata, “Orang-orang apa itu, mereka menyebut dirinya seniman, padahal tidak lebih daripada pelacur, melacurkan diri pada Jepang supaya dapat duit. Kau baca sajak si Anu yang memuji-muji kehebatan perang Jepang, sedangkan Jepang akan kalah? Apakah itu bukan pelacuran karena dia membuat sajak itu cuma supaya dapat duit dari Jepang!” Ada dua orang tidak dicaci makinya, yaitu Cornel Simanjuntak, komponis terkenal, dan pelukis Basuki Resobowo. Melalui Chairil pula saya menjadi kenal baik dengan dua seniman ini.

Sekali-kali ia datang dengan sajak yang baru ditulisnya. “Kar, dengar ini,” lalu dibacanya sajaknya. “Bagus tidak?” tanyanya. Saya tidak mengerti apa pun tentang puisi, jadi tidak tahu apakah sajak itu bagus atau tidak. Kalau saya hendak menyenangkan hatinya, saya puji sajak barunya itu, kalau saya sedang kesal, saya katakan apakah bagusnya? Maka ia pun menerangkan dengan panjang-lebar mengapa sajak itu bagus, dan apa artinya dan sebagainya. Supaya ia menghentikan uraiannya, saya katakan, “Memang hebat kau, Nini. Ayo, kita pergi makan!” Begitulah, pergaulan saya dengan Chairil Anwar sangat akrab. Berhubung sikapnya yang suka bicara seenaknya, dan sikapnya yang benci pada Jepang, maka ia beberapa kali ditangkap polisi. Beberapa minggu setelah saya keluar dari tahanan Kenpeitai, dan saya baru saja sampai di Jakarta setelah “mengungsi” beberapa waktu ke Yogya, dan sedang naik trem dari stasiun Gambir ke Kramat melalui Cikini dan Kalipasir, di halte Cikini, Chairil melihat saya duduk dalam trem. Ia segera naik, dan dengan gugup ia katakan, “Kar, kau jangan marah ya, tetapi aku tidak tahan sakit. Aku digebug oleh polisi. Mereka tanya, siapa temanku bergaul tiap hari, aku sebut nama kau. Aku tidak tahan sakit.” Memang saya lihat pipinya luka. Saya tidak marah, melihat ia ketakutan begitu. Saya cuma berkata, “Gila kau.” Esok harinya saya pergi lagi dari Jakarta, untuk menghindari kemungkinan dipanggil oleh polisi.

Pergaulan saya dengan Chairil berjalan terus, sampai di masa revolusi, sampai ia kawin dengan Hafsah di Karawang. Malahan kalau Basuki Resobowo atau Suryo Sumanto (kemudian bekerja di Perfini) melihat saya sendirian saja, mereka selalu bertanya, “Chairil mana?”

Saya bertemu terakhir dengan Chairil di Yogya beberapa minggu sebelum saya bertolak ke Sumatera. Ia merengek minta duit. Katanya ia hendak pulang ke Karawang. “Biniku menunggu di Karawang, aku tidak ada uang buat pulang.” Saya pun memberinya uang. Begitu uang itu diterimanya, ia langsung melompat-lompat kesenangan, dan cepat-cepat ia meninggalkan saya dengan ucapan, “Sekarang aku bisa ke Balokan ….” Balokan adalah lokasi pelacuran di dekat stasiun Tugu, Yogya.

Begitulah perpisahan saya dengan Chairil Anwar, “binatang jalang” itu. Perkawinannya dengan Hafsah tidak berlangsung lama sesudah mereka memperoleh seorang anak perempuan. Saya sedang bertugas di India ketika mendapat kabar, bahwa Chairil telah meninggal dunia, karena menderita bermacam-macam penyakit yang didapatnya karena cara hidup seperti binatang jalang.

….

Bagian lain yang memberi kesan “tertentu” bagi saya dalam buku Kilas Balik Revolusi: Kenangan, Pelaku, Saksi oleh  Aboe Bakar Loebis (editor Sugiarta Sriwibawa, penerbit Universitas Indonesia Press, Jakarta, cetakan kedua, 1995), dari halaman 71-74.

Seputar Proklamasi Kemerdekaan Indonesia ke Romantisisme

Tahun lalu, di Kemudian.com akun azkashabrina memublikasikan cerpen komedi sejarah berjudul “Agenda“. Dalam cerpen ini pengarang memarodikan detik-detik menjelang proklamasi kemerdekaan Republik Indonesia, ketika tokoh-tokoh pemuda seperti Sukarni, Wikana, dan Adam Malik membujuk Bung Karno agar segera melaksanakannya. Cerpen ini mendapat sambutan ramai, ada yang menyanjung ada pula yang tidak sreg.

1400468

sumber gambar

Dalam buku Kilas Balik Revolusi: Kenangan, Pelaku, Saksi oleh Aboe Bakar Loebis* (editor Sugiarta Sriwibawa, penerbit Universitas Indonesia Press, Jakarta, cetakan kedua, 1995), peristiwa persiapan proklamasi itu memang mengandung momen yang menggelikan. Sedikitnya kesan itulah yang saya tangkap dari gaya bahasa penulis.

Bagian yang menurut saya lucu dimulai ketika penulis menyebutkan di halaman 101 bahwa Sukarni, salah seorang tokoh pemuda yang menjadi tokoh utama dalam cerpen azkashabrina, memiliki kesuburan imajinasi. Berikut paragraf lengkapnya.

Rapat bubar dan semuanya pulang ke tempat masing-masing untuk menyebarluaskan putusan-putusan yang diambil. Sebagian berkumpul di asrama Baperpi, Cikini 71 (sekarang gedung Bank Niaga, cabang Cikini). Saya sendiri pergi ke Cikini. Di sana kami menunggu kedatangan kembali utusan yang dikirimkan kepada Soekarno. Mereka kembali kira-kira pukul 10, dan melaporkan kegagalan usaha mereka serta menambahkan bahwa Soekarno marah-marah dan tidak mau dipaksa-paksa oleh pemuda. Reaksi kami yang berkumpul di asrama Baperpi itu juga marah, karena itu dibicarakan tindak lanjut yang harus dilakukan. Putusannya ialah supaya Soekarno dan Hatta “diangkat” saja. Ketika kami sedang membicarakan hal ini tiba-tiba muncul tiga orang, dua di antaranya berpakaian PETA. Mereka adalah Sukarni yang memakai seragam PETA, Shodancho Singgih dan Yusuf Kunto. Sukarni segera berbicara dengan nada agitasi tentang semangat rakyat yang sedang meluap, ketegangan luar biasa di kalangan masyarakat, dan sebagainya. Semuanya ini menunjukkan kesuburan fantasi Sukarni, tetapi turut mempengaruhi putusan untuk menculik Soekarno-Hatta.

Sampai di sini saya belum kena benar dengan yang dimaksudkan sebagai “kesuburan imajinasi”. Barulah ketika sampai di halaman 103, saya tergelak.

Dalam perjalanan dari Rengasdengklok dari Jakarta, pada waktu senja, terlihat dari mobil asap dan api menyala di mana-mana. Sukarni pun berkata, “Lihatlah rakyat sudah mulai bergerak, membakar-bakar.”

Ini hanya merupakan bukti lagi kesuburan imajinasi Sukarni, karena yang dilihat hanya para petani membakar jerami di sawah yang selesai dipanen.

Dalam buku ini peristiwa persiapan proklamasi kemerdekaan RI diceritakan secara terperinci dalam bab “Hari-hari Sekitar Proklamasi” (halaman 76-121)–entah apakah azkashabrina sudah membacanya. Hal lain yang mengesankan yaitu simpulan dari peristiwa proklamasi itu sendiri. Dalam cerpen azkashabrina, peristiwa proklamasi dan pengibaran bendara merah-putih terasa khidmat dan menggetarkan. Sebaliknya yang dirasakan oleh Aboe Bakar Loebis selaku salah seorang tokoh pemuda yang turut berkontribusi dalam mempersiapkan peristiwa ini. Berikut penuturannya dalam halaman 106.

Bagi saya, pembacaan proklamasi kemerdekaan pada hari itu sebenarnya merupakan suatu anti klimaks. Setelah tiga tahun hidup dalam ketegangan dalam suasana konspirasi untuk mengejar cita-cita kemerdekaan, dan kemudian kegiatan tanpa lelah, tidak kenal haus dan lapar dengan ketegangan terus-menerus sejak tanggal 14 Agustus, berakhir dengan pembacaan naskah proklamasi yang terdiri dari beberapa kalimat kering, yang ditulis di rumah seorang pembesar Jepang, disaksikan oleh oknum-oknum Jepang, yang dibacakan dengan nada kering dan datar pula, di depan hanya puluhan orang di halaman rumah, oleh seorang Soekarno yang sedang tidak enak badan.

Proklamasi Kemerdekaan yang kami impikan, suatu proklamasi yang menyatakan hak hidup dan hak menentukan nasib sendiri bangsa Indonesia dengan cita-cita untuk membangun suatu masyarakat yang adil dan makmur di tanah air Indonesia, proklamasi yang kita susun sendiri, tanpa diketahui oleh Jepang atau oknum-oknum Jepang, dan dibacakan dengan semangat berapi-api oleh seorang orator Soekarno, di suatu rapat raksasa di lapangan terbuka, hanya merupakan impian yang tidak terkabul.

***

Dengan sangat rasional, ia kemukakan mengapa menurut pandangannya, suatu negara serikat merupakan bentuk negara yang terbaik bagi Indonesia. Disebutnya antara lain besar dan luas wilayah, banyaknya suku bangsa dengan kebudayaan yang sangat beragam dan bahasa yang berlainan, tingkat kemajuan ekonomi dan sebagainya. Kalau kami juga rasional, mungkin sekali kami dapat menerima argumen Bung Hatta, tetapi kami tidak rasional. Mengenai soal persatuan, kami malahan sangat emosional; persatuan tidak dapat ditawar. 

Kutipan di atas, yang diambil dari halaman 256 buku ini, memafhumkan saya betapa peristiwa-peristiwa sejarah sering kali diwarnai oleh sentimen, sampai-sampai Harun Yahya pun mengeluarkan buku Ancaman di Balik Romantisisme dan menyinggung nasionalisme di dalamnya. Sentimen, romantisisme, emosi, dan berbagai istilah lainnya yang menurutkan perasaan itu apabila dialami sekelompok manusia yang menyatakan kesatuannya sebagai bangsa akan melahirkan negara, adapun pada seorang individu dapat menghasilkan, katakanlah, karya fiksi berupa cerpen.

*Aboe Bakar Loebis (l. 1923) merupakan salah seorang tokoh pemuda yang turut serta dalam berbagai kegiatan persiapan proklamasi kemerdekaan. Nantinya beliau berkiprah banyak dalam membantu perjuangan pemerintahan Indonesia yang baru berdiri hingga memangku berbagai jabatan di lingkungan KBRI.