Tiga Tahapan Tiga Warna

Baru-baru ini saya mengetik ulang cerita dari Bobo lawas. Cukup mengasyikkan. Saat membuka halaman-halaman majalah tersebut, terasa kembali semarak dunia anak-anak, ketika segalanya tampak menarik dan menimbulkan keingintahuan, imajinatif, fantastis, lucu, dan sebagainya. Nostalgia. Cerita-cerita yang saya ketik ulang itu walau sederhana, namun mengandung gagasan kreatif maupun pengetahuan, dan, terutama, menenteramkan*: kebaikan pasti menang; hitam dan putih tampak benderang walau hanya di permukaan.

Lalu tebersit pikiran untuk memandang hidup ini menurut tiga tahapan.

Tahap pertama, yaitu masa anak-anak, zona hitam-putih. Sebetulnya masa ini tidak murni hitam-putih, sebab itu merupakan kacamata yang para pendidik berupaya memakaikannya pada kita. Kita toh belum benar-benar bisa membedakan yang hitam dengan yang putih itu menurut pemahaman sendiri.

Tahap kedua, yaitu masa remaja atau dewasa muda, zona abu-abu. Istilah kerennya sih coming of age. Pada masa ini kepolosan memudar, mulai tumbuh kesadaran akan kesenjangan antara diri dan dunia nyata di sekelilingnya. Kacamata hitam-putih yang dulu dipakaikan mulai terasa tidak cocok, dan ketika dilepas yang tampak serba abu-abu. Yang hitam dan yang putih mengabur. Hidup bukan melulu soal yang baik dan yang jahat, bahkan kita sulit menentukannya. Agaknya pandangan kita tengah dikeruhkan oleh gejolak diri yang memang sedang masanya.

Tahap ketiga, yaitu masa dewasa matang, zona hitam-putih keabu-buan. Badai mungkin tidak sepenuhnya berlalu seperti yang dikatakan dalam lagu itu. Namun, di sela-sela terpaan angin ribut dan dera hujan, kita mulai dapat melihat yang terang. Kadang penglihatan kita mengabur sehingga susah lagi menentukan arah. Tetapi, ketika cahaya kesadaran kembali menyorot, kita tahu bahwa ke arah terang itulah kita hendak berpegang dan menuju, memperjuangkannya.

Pandangan ini mungkin bisa diterapkan dalam pembacaan/penulisan, katakanlah karya fiksi. Karya pada tahap pertama itu seperti cerita anak, atau cerita dewasa dengan pelakonan sesederhana gadis baik melankolis versus ibu tiri berhati bengis. Karya pada tahap kedua berupa cerita yang apa adanya, tidak berpretensi memberikan suatu arahan pada pembaca sebab penulisnya sendiri belum bisa atau sebodo teuing dalam menentukannya. Karya pada tahap ketiga yaitu ketika penulis berusaha menunjukkan “pencerahan” dengan cara sesamar mungkin sehingga cuma pembaca dengan penglihatan bagus yang dapat menemukannya.

Cuma Ilmu Lamun sih, tanpa Ilmu Filsafat apalagi Ilmu Sastra. Bukan serius.

*) Jika masih punya nafsu untuk mengorek-ngorek koreng duniawi dan punya banyak waktu, tiap-tiap cerita anak tersebut bisa saja dibuat versi undercover atau politically correct-nya; diperluas bingkainya dan diperumit. Misal, ayah Pian yang menganggur itu di-PHK karena memperjuangkan hak-hak buruh di pabrik tempat kerjanya dulu, atau, sebetulnya ia suka menghabiskan waktu dengan mabuk ciu, mengadu babi, dan lagi diburu oleh kader Partai yang enggak kira-kira saat menagih pajak.

Advertisements

Terjemahan Dongeng Agus Kurniawan, “Namaku Tokek”/”My Name is Gecko” (Bobo, 13 Desember 2001)

Untuk mengasah kemampuan berbahasa Inggris secara tertulis, saya mencoba menerjemahkan tulisan dari bahasa Indonesia ke bahasa Inggris. Cerita anak dipilih sebagai bahan belajar karena bahasanya sederhana. Penyajiannya di blog ini–yang berselang-seling antara teks sumber dan sasaran–terinspirasi dari blog Raysa Prima. Terjemahan ini pastinya tidak luput dari kesalahan. Saya sangat terbuka dan berterima kasih apabila ada pembaca yang berkenan memberikan saran.

Namaku Tokek

oleh Agus Kurniawan

My Name is Gecko

by Agus Kurniawan

Namaku Tokek. Bentuk tubuhku mirip dengan cicak, hanya sedikit lebih besar. Aku tinggal di atap rumah keluarga Pak Rahmat. Keluarga ini miskin, namun hidupnya tenteram dan bahagia.

My name was Gecko. The shape of my body was like small house lizard, but a little much bigger. I lived in The Rahmats’ rooftop. The family was poor but they lived happily in peace.

Pak Rahmat mempunyai dua anak, Budi dan Uci. Mereka senang sekali memakai suaraku untuk bersenda gurau. Caranya begini, setiap aku berbunyi, “Tokek…” Budi mengangkat telunjuk sambil berkata, “Aku”. Kemudian pada bunyi yang kedua, “Tokek…” ganti Uci yang mengangkat telunjuk dan berkata, “Aku.” Begitu seterusnya sampai aku tidak bersuara. Nah, anak yang mengangkat telunjuk pada bunyiku yang terakhir, dialah yang kalah dan harus mendapat pukulan. Tentu saja pukulannya pelan dan tidak menyakitkan. Karena mereka saling menyayangi.

Mr. Rahmat had two children, Budi dan Uci. They were very happy making fun with my sound. This way: each time I made the sound, “Gecko…” Budi raised his index finger saying, “Me.” Then on the other sound, “Gecko…” it was Uci raised her index finger saying, “Me.” And so on until I got silent. Well, whoever raised the index finger at my last sound was the one whom lose and must be beaten by the other. It was just a soft blow and hurtless, of course, for they love each other.

Ada lagi yang lucu. Budi sering menjadikan suaraku untuk meramal apa yang akan dia lakukan. Bila dia ragu-ragu untuk menerima ajakan temannya, maka dia menghitung suaraku.

There was another amusement:  Budi often made my voice to predict what he would do. When he hesitated to accept an invitation from his friend, then he counted my voice.

“Tokek…” kataku, dan Budi menyahut, “pergi.”

“Gecko…” I said, and Budi said, “go.”

“Tokek…” kataku lagi, disahut oleh Budi, “tidak.” Begitu seterusnya sampai aku berhenti bersuara. Bila aku berhenti pada kata “Pergi,” maka dia terima ajakan temannya. Dan bila sebaliknya, maka ia akan menolak.

“Tokek…” I said again, answered by Budi, “not go.” And so on until I was quiet. When I stopped on the word “Go,” then he received the invitation. And if I said the opposite, then he refused.

Namun yang mengharukan bagiku adalah Uci. Bila sedang sendiri, anak itu sering mengajakku bercakap-cakap. Seolah sedang berbicara dengan sahabatnya. Padahal aku hanya diam. Kalaupun aku berkata, dia tidak akan mengerti apa yang aku katakan.

But I was touched by Uci. If she was alone, she often talked to me as if she babbled with some friend. I was quiet, though. Even though I said something, she wouldn’t tell what it was.

Uci juga sering meletakkan remah-remah roti di atas lemari. Maksudnya untuk diberikan kepadaku. Dia tidak tahu makanan kegemaranku adalah nyamuk, bukan roti. Namun untuk menyenangkan hatinya, remah-remah roti itu terpaksa kumakan juga.

Uci often put breadcrumbs upon the cupboard as well. She would like to give it to me. She didn’t know that my favorite food was mosquito, not bread. But, in pleasing her, I forced myself to eat the breadcrumbs.

Pada suatu hari aku mengintip Uci dan ibunya sedang berbicara. Kulihat Uci menggaruk sela-sela jemari kakinya. Bu Rahmat memeriksa kaki anaknya sambil berjongkok.

One day I peeked at Uci and her mother were talking. I saw Uci was scratching between her toes. Mrs. Rahmat squatted while examining the child’s feet.

“Sejak tadi malam gatal sekali. Aku menggaruknya sampai luka,” kata Uci sambil meringis menahan sakit dan gatal.

“It was so itchy since last night. I scratched until it hurt,” said Uci in grimace for bearing the itch and pain.

“Ini penyakit kulit. Eksim namanya, Ci. Sebaiknya kamu makan daging tokek agar cepat sembuh. Biar nanti ayahmu yang menangkap tokek di atap rumah kita.”

“It’s skin disease named eczema. You should eat gecko flesh so that you recover soon. Your father will catch the gecko in our rooftop.”

“Jangan, Bu. Tokek itu jangan dibunuh. Kasihan. Belikan saja obat penyakit kulit yang dijual di toko,” pinta Uci.

“Don’t do it, Mother. Don’t kill the gecko. What a pity. Just buy me some medicine for skin disease from store,” asked Uci.

“Boleh. Tapi Ibu ragu apa penyakitmu bisa sembuh dengan obat dari toko.”

“You may, but I ‘m not sure the medicine from store will help.”

Benar juga apa yang dikatakan Ibu. Obat yang dibeli di toko ternyata tidak manjur. Setelah beberapa hari kaki Uci diolesi salep, masih saja dia menggaruk-garuk sela-sela jemari kakinya. Bu Rahmat akhirnya memutuskan memakai cara pertama.

Mother was right. The medicine from store was not strong enough. For a couple of days Uci’s feet got recovered by salve, yet she scratched between her toes. Mrs. Rahmat, finally, decided to take the first method.

Tuh, lihat saja. Obat dari toko tidak manjur. Karena itu, kamu harus makan daging tokek,” ujar Bu Rahmat.

“See? The medicine from store is not strong enough. Therefore, you have to eat gecko’s flesh,” said Mrs. Rahmat.

“Kita tunggu sampai tiga hari lagi, Bu.”

“Let’s see for another three days, Mother.”

“Untuk apa?” tanya Bu Rahmat tidak mengerti.

“What for?” asked Mrs. Rahmat didn’t get the idea.

“Saya sudah menulis surat buat Paman di kota. Saya ceritakan tentang gatal-gatal di kaki saya. Saya meminta Paman untuk membelikan obat yang paling baik,” Uci menjelaskan. Bu Rahmat setuju dan mau menunggu hingga tiga hari lagi.

“I have written a letter to Uncle in town. I told him about the itch on my feet. I asked Uncle to buy me the best medicine,” explained Uci. Mrs. Rahmat agreed and would wait for the next three days.

Tepat di hari terakhir, hatiku cemas. Kiriman obat dari paman Uci hingga siang belum juga datang. Uci juga merasakan kecemasan yang sama. Aku tahu dari raut wajah gadis kecil itu.

Just on the last day, I was worried. The medicine from Uci’s uncle hadn’t come yet until noon. Uci was worried as well. I knew it from her face.

“Petugas pos sudah lewat sejak tadi, Ci. Berarti Pamanmu tidak mengirim obat ke sini. Bagaimana, kalau kita tangkap tokek itu sekarang juga?” kata Pak Rahmat. Uci terpaksa mengangguk lemah. Seakan tidak rela aku diburu dan dibunuh untuk menyembuhkan penyakitnya.

“The postman have past from a little while ago. It means your uncle doesn’t send the medicine here. How if we catch the gecko right now?” said Mr. Rahmat. Uci perforce nodded weakly, as if not willing I was hunted and killed to cure her disease.

Di atas atap aku bersiap diri untuk mati. Aku tidak akan lagi menghindar bila Pak Rahmat menangkapku. Aku rela dibunuh untuk menyembuhkan penyakit Uci. Kasihan sekali gadis kecil itu. Sudah satu minggu dia tersiksa oleh penyakit yang dideritanya.

On the rooftop I was prepared to die. I would not stay away anymore if Mr. Rahmat catch me. I was willing to be killed for Uci’s health. It was too bad for that little girl. It had been a week she suffered the disease.

Pak Rahmat sudah mengambil galah untuk menangkapku. Sementara Bu Rahmat, Budi, dan Uci memperhatikan Pak Rahmat yang bersiap menyodok tubuhku. Namun ajalku rupanya belum tiba hari itu. Pintu rumah diketok dari luar sebelum galah digerakkan.

Mr. Rahmat had taken a spear to catch me, while Mrs. Rahmat, Budi, and Uci watched him was ready to shovel me. However, it seemed that the day was not my time to die yet. There was knocking on the door before the spear was moved.

“Hore …. Paman datang! Paman membawakan obat untukku, kan?” sambut Uci gembira.

“Hurray …. Uncle is coming! Do you bring the medicine for me, don’t you?” Uci welcomed happily.

“Tentu sayang. Mana mungkin Paman membiarkan Uci menghabiskan waktu hanya untuk menggaruk-garuk kaki,” jawab Paman dengan mimik lucu.

“Of course, dear. How could I let you spend your time just for scratching your feet,” answered Uncle in funny expression.

Hari itu juga Uci meminum obat dan mengoleskan kakinya dengan salep yang dibawa Paman. Kata Paman, obat dan salep itu didapat dari dokter spesialis penyakit kulit. Tentu saja harganya mahal. Namun sangat manjur. Beberapa hari kemudian penyakit Uci sembuh. Dia tidak lagi menggaruk-garuk sela-sela jemari kakinya.

That very day Uci took the medicine and dabbed the salve her Uncle had brought on her feet. Uncle said that he got the medicine and the salve from a doctor specialized in dermatology. Of cource their prices were expensive. However they were really strong. A few days later the disease had gone. Uci didn’t scratch between her toes anymore.

Namaku Tokek. Aku tinggal di atap rumah keluarga Pak Rahmat. Keluarga yang miskin, namun hidupnya tenteram bahagia. Aku merasa sangat beruntung bisa hidup di tengah-tengah mereka.***

My name is Gecko. I live in The Rahmat’s rooftop. The family is poor, but they live happily in peace. I feel so lucky to live among them.***

Dari majalah Bobo tahun XXIX 13 Desember 2001 Rp 4.500,00

From Bobo magazine year XXIX December 13, 2001 Rp 4.500,00