Puisi (Cerpen Nugroho Notosusanto, 1954)

Ketika aku bersama Gon keluar dari Bioskop Menteng habis nonton “High Noon”, kami melihat Gajah berjalan di muka kami bersama seorang gadis. Kami membuntut dia dari belakang: itulah pertama kalinya aku melihat dia.

Dari muka datang dua orang pemuda yang badannya kukuh dan mukanya hitam dan seram. Sambil menyiulkan ballade “High Noon” mereka menerjang siapa saja yang menutupi jalan mereka. Setiba di muka Gajah dengan gadisnya, mereka agak minggir, tetapi yang satu masih menyenggol sang gadis. Tenang Gajah membalikkan badannya, telunjuknya diacungkan kepada pemuda itu yang kebetulan sedang menengok, “Sini!”

Kedua pemuda itu berhenti, mengambil sikap mengancam. Gajah mendekati mereka. “Ayo, minta maaf kepada nona itu,” katanya dengan isyarat tangan yang kaku. Kami berhenti juga, menonton dari kejauhan. Kedua pemuda itu bertolak pinggang.

“Berani sama saya?” kata yang ditunjuk.

“Kurangajar ya kowe!” bentak yang satu.

Sesaat kemudian Gajah sekali pukul menghajar kedua lawannya itu. Khalayak ramai secepat semut mengerumuni mereka. Gajah payah dikerubut kedua orang itu, karena satu-satu di antara mereka sama besarnya dengan dia, hanya tingginya kalah. Gon menyentuh lenganku. Kemudian cepat ia maju dan memeluk salah seorang di antara pemuda itu. Aku mencoba berbuat demikian pada yang satunya, tetapi satu saja tak berhasil dengan lenganku yang seperti sapu lidi. Tetapi orang-orang lain membantu. Gajah–yang hidungnya sudah keluar kecapnya–juga dipeluk orang sehingga tak dapat bergerak. Setelah Polisi Perintis datang, persoalan diselesaikan di tempat, dan kami mengantar Gajah pulang liwat rumah gadis itu.

Ketika salah seorang anak dari rumah yang didiami Gajah merayakan lulus propaedeusenya, aku diundang juga. Pesta malam itu pesta laki-laki. Gajah spesial membeli cognac dan whisky dan sebentar saja ia bersaingan dengan Dean Martin, Mary Ford, Patti Page dan lain-lain yang suaranya membubung dari record-changer mereka yang masih baru.

Namun julukan Gajah sesungguhnya kurang tepat, karena ia tidak gendut. Memang ia besar, tetapi panjang. Tapi kalau ia mabuk, memang ia mirip gajah mabuk, atau dengan istilah Jawa Kuno: Gajah Mada, nama perdana menteri Majapahit yang terkenal itu.

Ketika itu ia sedang merasa dirinya jadi Cary Cooper sebagai marshall dalam film “High Noon” yang sangat dia gemari. Karena mondar-mandir dan bernyanyi itu jadi panas, mukanya merah dan peluhnya berlelehan di wajah dan sekujur tubuhnya. Tiba-tiba ia membuka kemejanya kemudian singletnya, sehingga bicepsnya bulat mengkilat ditimpa sinar lampu. Tidak puas dengan itu ia membuka pantalonnya sambil berteriak, “Panaas! … Panaaas!”

“Minum!” kata teman-teman sambil membawakan sloki yang whiskynya telah mereka taburi abu sigaret biar tambah keras. Dengan sekali teguk whisky itu dituang oleh Gajah ke dalam perutnya, kemudian ia berjalan terhuyung-huyung kian kemari dengan celana dalamnya. Tiba-tiba gelas sloki itu dilemparkannya kepada kaca pintu depan, sehingga pecah berhamburan. Setelah perbuatan yang merugikan itu, ia berlari masuk ke kamarnya sambil menjeritkan lagu “From the Halls of Montezuma …” Kami semua lega, mengira ia akan tidur. Tetapi kelegaan itu tidak lama, karena tak lama kemudian pintu kamar dibuka dengan keras dan Gajah berlari keluar dengan telanjang bulat sambil berkendangan dengan mulutnya. Tetapi bukan itu yang mengejutkan kami, melainkan pisau pandu yang diacung-acungkan dengan tangan kanannya.

“Dia pernah melihat tari Cakalele,” kata Gon.

Tetapi tari Cakalele pertunjukan Gajah agak berbahaya, karena akhirnya pisau itu disambitkannya kepada pintu belakang, yang alhamdulillah tak ada kacanya. Dengan patuh pisau itu nancap ke dalam kayu pintu itu. Teman-teman serumah bertepuk tangan, lalu bersama-sama menidurkan Gajah.

Setelah itu percakapan sejurus lamanya berputar-putar di sekitar Gajah. Gon dulu sepasukan dengan dia. Gajah seorang brenschutter. Lain daripada itu ia juga berfungsi jagal ayam dan algojo. Sudah dua kali ia diserahin pelaksanaan eksekusi.

Jon bercerita, bahwa ketika mereka mengantarkan jenazah kawannya yang dipindahkan makamnya, Gajah pernah hampir menimbulkan insiden dengan pasukan lain. Karena sebuah kendaraan militer yang datang dari arah yang berlawanan dengan iring-iringan, tak mau melambatkan jalannya. Gajah dengan enak mengangkat brennya dan menembakkannya kepada master jeep itu sehingga bensinnya terbakar.

Di antara perkelahian-perkelahian Gajah yang kerapkali terjadi, perkelahian durianlah yang paling terkenal. Gajah sedang berjalan-jalan di sebuah pasar buah-buahan, ketika ia berselisih dengan prajurit KNIL. Waktu itu masih ada KNIL. Ketika orang KNIL itu menyerangnya dengan belati, Gajah dengan tak pikir panjang mengambil durian dari bakul salah seorang pedagang lalu melemparkannya kepada lawannya, yang sama sekali tak bersiap menghadapi senjata itu. Hasilnya: muka lawannya remuk sehingga harus dirawat di rumah sakit.

Gajah sudah empat tahun di Fakulteit Hukum, tetapi masih tingkat pertama saja. Ia lebih suka belajar judo dan melempar belati. Kerapkali pula ia menantang anak-anak asrama lain untuk bertinju. Tapi anak-anak pada segan karena ia suka mata gelap.

Gajah tak mempunyai ibu lagi. Pulang ke rumah ayahnya yang tinggal di Yogya ia tak pernah. Alasannya ganjil sekali: segan. Atau malu.

Tapi cerita yang paling menarik tentang Gajah adalah cerita Cip. Katanya, kalau Gajah marah atau tak senang hatinya, lalu masuk ke dalam kamarnya sendirian yang kemudian dikuncinya, maka setelah ia ke luar ia seolah-olah jadi manusia lain. Teman-teman serumah mengiakan Cip.

“Kami pernah mengintip dari lubang pintu,” kata Jon, “Gajah duduk di ranjang sambil memandang ke dalam sebuah album. Entah album apa.”

Anak-anak sibuk berspekulasi tentang album Gajah itu.

“Ada foto almarhum ibunya,” kata seorang.

“Foto meisjenya!” kata yang lain.

Tapi tak ada yang tahu dengan pasti. Gajah sendiri tak mau mengaku. Anehnya kalau ditanya, ia tidak marah, melainkan malu, bahkan malu sekali. Biasanya untuk menghilangkan malunya ia memaki-maki lalu meninju-ninju karung pasir yang tergantung di belakang rumah.

Aku jadi bersahabat dengan Gajah. Entah mengapa ia suka kepadaku. Mungkin karena ia sering membeli majalah, nonton dan keluyuran bersamaku.

Pada suatu malam yang panas, Gajah dan aku dapat pinjaman Jeep lalu putar-putar keliling kota. Di jalan ia sedang mengemudikan Jeep itu, ketika tiba-tiba sebuah Jeep tentara memotong jalannya. Seketika itu juga iblis terlepas di dalam hati Gajah. Jeep itu dikejarnya dengan kecepatan gila, sama gilanya, dengan yang dikejar. Di jalan raya Kebayoran di dekat bekas Pekan Raya, Jeep itu dapat terkejar lalu distop. Belum pernah aku melihat seorang militer dihajar sedemikian rupa oleh preman, meskipun orang itu demobilisan. Sepulang kami dari perjalanan itu Gajah marah-marah. Di rumah ia terus masuk ke kamarnya dan menguncinya dari dalam: aku tak diacuhkannya sama sekali. Setelah motorkap Jeep itu aku buka biar dingin, aku mengetuk pintunya.

“Siapa itu?” suaranya bertanya lembut.

“Aku.”

Pintunya dia buka. Ia menyembunyikan sesuatu di belakang punggungnya.

“Boleh aku melihat albummu?” tanyaku langsung.

Ia tertegun sebentar. Kemudian mengunci pintu lagi.

“Engkau tidak akan menertawakan aku?” tanyanya.

“Buat apa? Tidak, aku tidak akan ketawa, apa pun isi album itu.”

Ia diam sebentar, berpikir, masih ragu-ragu.

“Aku percaya, engkau akan mengerti aku,” katanya seperti berbicara kepada diri sendiri.

“Mana?” kataku, karena album itu masih saja tersembunyi di balik punggungnya.

“Ini,” katanya sambil mengeluh. Matanya mengawasi wajahku dengan teliti ketika aku menerima album itu dan membukanya.

Lembaran-lembaran album itu putih. Pada halaman yang kubuka tertempel kertas guntingan yang ada tulisan cetakan:

The Moving Finger writes; and, having writ,

Moves on: nor all your Piety nor Wit

Shall lure it back to cancel half a Line.

Nor all your Tears wash out a word of it.

Di bawahnya ada tanggal. Aku ingat, bahwa di sekitar tanggal itu “Pandora and the Flying Dutchman” yang ada rubayyat Umar Khayyamnya seperti tertulis di situ, sedang diputar di Jakarta.

Lembaran-lembaran album itu aku buka terus. Semuanya ditempeli guntingan kertas dengan tulisan cetakan.

“Sintawati datang dari Timur.”

Sintawati menyusur pantai ….

Setelah sajak Asrul Sani, sajak Rivai Apin dan sajak penyair-penyair yang tidak begitu terkenal dari pelbagai majalah. Ketika aku sedang membawa sajak Taslim Ali “Kabut”, perlahan-lahan album itu direbutnya. “Coba lihat ini,” katanya. Ia membuka-buka beberapa lembaran lalu menunjukkan sebuah sajak yang kertasnya sudah kuning. Sebuah sensasi bagiku, karena kulihat di situ sajakku “Triwikrama”.

Kepalaku aku tegakkan. Ia tenang memandang ke dalam mataku. Pandangan yang tenteram, bukan pandangan liar Gajah dalam hidup sehari-hari. Ia memeluk bahuku.

“Di sini aku menyimpan jiwaku,” katanya sambil mengacu-acukan album itu dengan tangan kirinya.

“Aku mengerti,” kataku.

Ia melepaskan aku dan duduk di tepi ranjangnya. Dengan penuh terima kasih ia memandang kepadaku. “Album ini terug val basis yang paling aman,” katanya dengan suara lembut dan ganjil baginya. Kemudian ia berdiri dan berjalan menuju meja tulisnya. Majalah Zenith bulan Oktober terletak di situ. Diambilnya majalah itu. Aku melihat dari samping. Ia berhenti membolak-balik pada sebuah saja. Sajak M. Balfas: “Harum Pagi”.

Diambilnya gunting dari lacinya, dikoyaknya halaman itu dari majalah, kemudian diguntingnya rapi-rapi, direkatnya ke dalam albumnya.

“Mari ke luar,” katanya pada akhirnya.

Aku mengangguk.

Ia pergi menuju almari pakaian yang setelah terbuka.

Dengan hati-hati album itu disisipkannya di antara kemeja cowboy dan kemeja khaki dril militer. Kemudian kami ke luar. Di ambang pintu aku menengok ke meja tulis. Zenithnya masih terbuka: dua halaman yang penuh puisi.

17-3-1954

Tokoh Gajah ini mengingatkan saya pada sosok Umar bin Khattab, yang pembawaannya sangar namun diam-diam berhati lembut. Cerpen ini terdapat pada halaman 67-72 Tiga Kota oleh Nugroho Notosusanto (penerbit Balai Pustaka, Jakarta, cetakan kedelapan, 1995).